Menjelang pengumuman hasil kocok ulang atau rebalancing indeks MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi selama dua hari berturut-turut. Adapun lembaga pengindeks global itu akan mengumumkan hasil rebalancing periode Agustus pada Kamis (13/8) dini hari waktu Indonesia.
Pada periode rebalancing Agustus 2026, MSCI kembali membekukan atau freeze saham Indonesia. Alhasil, keputusan tersebut mengakibatkan tidak adanya saham Indonesia yang masuk atau ditambahkan ke dalam indeks MSCI. Namun, seperti pada periode Februari dan Mei, sejumlah saham Indonesia tetap berpotensi mengalami perubahan konstituen maupun bobot apabila terdapat penyesuaian dalam indeks.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan, volatilitas IHSG berpotensi meningkat menjelang pengumuman MSCI. Pasar masih menanti kepastian apakah kebijakan freeze terhadap saham Indonesia akan dipertahankan atau mulai dilonggarkan.
Menurut dia, pasar juga mengantisipasi kemungkinan adanya perubahan negatif terhadap konstituen maupun bobot saham Indonesia. “Namun, saya melihat potensi koreksi sebaiknya tidak langsung diasumsikan sebagai base case. Sebagian risiko tersebut sudah cukup banyak di-price in oleh market,” ujar Elandry kepada Katadata.co.id, Selasa (11/8).
Dia menuturkan, jika hasil review MSCI sesuai dengan ekspektasi dan tidak terdapat tambahan pembatasan, tekanan jual di pasar saham berpotensi lebih terbatas. Sebaliknya, keputusan yang lebih negatif dari perkiraan, terutama terkait pengurangan bobot atau deletion, dapat meningkatkan tekanan terhadap aliran dana asing dan sentimen pasar dalam jangka pendek.
“Jadi besok lebih kepada bagaimana market merespons keputusan aktual dibanding sekadar agenda rebalancing-nya,” katanya.
Pada perdagangan sesi pertama Selasa (11/8), IHSG turun 0,87% atau 55,47 poin ke level 6.309. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 774,89 miliar. Sehari sebelumnya, IHSG juga turun 0,69% atau 44,28 poin ke level 6.365.
Tekanan terhadap sejumlah saham juga terjadi menjelang pengumuman MSCI. Berdasarkan analisis sejumlah sekuritas, terdapat beberapa saham yang berpotensi mengalami penurunan bobot atau keluar dari indeks MSCI.
Salah satunya adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin mengatakan, CPIN berpotensi diturunkan dari indeks MSCI karena kapitalisasi pasar yang telah disesuaikan dengan foreign inclusion factor (FIF) berada di bawah ambang batas indeks standar.
Kondisi tersebut terjadi setelah harga saham CPIN terkoreksi 22,5% sejak tinjauan MSCI pada Mei lalu.
Wilbert memperkirakan review kali ini dapat memangkas kapitalisasi pasar indeks MSCI Indonesia sebesar 1,9%. Sementara itu, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets diperkirakan turun 0,01 poin.
Di pasar saham, harga CPIN pada sesi pertama Selasa (11/8) naik tipis 0,32% menjadi Rp 3.090 per saham. Kemarin, saham CPIN turun 1,91%, setelah terkoreksi 0,63% pada perdagangan sebelumnya.
Selain CPIN, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga diperkirakan berpotensi keluar dari indeks MSCI.
CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) memproyeksikan CPIN menjadi kandidat utama yang dikeluarkan dari indeks MSCI dalam rebalancing Agustus 2026. Sementara itu, GOTO berpeluang terdepak apabila MSCI mencabut status freeze yang saat ini masih berlaku terhadap saham teknologi tersebut.
Harga saham GOTO masih bertahan di level Rp50 per saham atau biasa disebut gocap. Saham GOTO telah berada di level tersebut sejak 5 Mei 2026.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), antrean jual saham GOTO mencapai sekitar 242 juta lot.
MSCI Kembali Bekukan Saham RIMSCI sebelumnya memutuskan tetap membekukan rebalancing saham Indonesia dalam tinjauan indeks bulan depan. Keputusan tersebut menjadikan saham Indonesia mengalami pembekuan oleh lembaga penyedia indeks global itu selama tiga periode review berturut-turut.
Dalam pengumuman yang dirilis Senin (6/6) waktu AS, MSCI menjelaskan kebijakan itu berlaku untuk efek Indonesia dalam MSCI Global Investable Market Indexes (GIMI) pada review Agustus 2026.
MSCI menyatakan akan mempertahankan seluruh kebijakan yang telah diberlakukan sebelumnya terhadap saham Indonesia. Kebijakan tersebut meliputi pembekuan seluruh peningkatan FIF dan number of shares (NOS); tidak memasukkan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta; tidak menaikkan klasifikasi saham ke segmen indeks yang lebih tinggi.
"Tidak akan menerapkan kenaikan klasifikasi saham ke segmen indeks yang lebih tinggi, termasuk perpindahan dari Small Cap ke Standard," tulis MSCI dalam pengumuman yang dikutip pada Selasa (7/7).
Selain itu, MSCI juga akan tetap menghapus saham-saham yang diidentifikasi otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka high shareholding concentration (HSC). MSCI juga akan terus menggunakan data pengungkapan kepemilikan saham sebesar 1% untuk menyesuaikan estimasi free float apabila diperlukan.




