TANGERANG, KOMPAS.com - Bagi sebagian orang, berjualan pernak-pernik menjelang Hari Kemerdekaan menjadi momen untuk berburu keuntungan.
Namun, bagi Budiman (45), kain Merah Putih yang digantung di pinggir Jalan Kisamaun, Kota Tangerang, menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar hitung-hitungan rupiah.
Sehari-hari, pria asal Cirebon ini bekerja sebagai kondektur bus. Namun, setiap kali bulan Agustus tiba, Budiman mantap mengajukan cuti dari pekerjaannya.
Baca juga: Bendera Merah Putih hingga Backdrop Rumah Paling Laris di Pasar Jatinegara Jelang 17 Agustus
Selama 25 tahun terakhir, ia memilih menghabiskan momen menjelang perayaan kemerdekaan dengan menjadi pedagang bendera musiman.
"Kalau di bus kan pekerjaan sehari-hari, kalau di Tangerang itu sudah tradisi tiap tahun. Jadi kita kalau umpamanya enggak jualan bendera, artinya negara makin kacau lagi," kata Budiman saat ditemui Kompas.com di lapak dagangannya, Selasa (11/8/2026).
Budiman bahkan memboyong keluarganya ke Kota Tangerang untuk meneruskan tradisi yang telah ia jalani selama lebih dari dua dekade tersebut.
Omzet Turun DrastisTahun ini, kondisi ekonomi yang lesu ikut memukul penjualan di lapak Budiman.
Penjualannya merosot lebih dari 50 persen. Jika pada tahun-tahun sebelumnya ia mampu mengantongi omzet Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per hari, kini mendapatkan Rp 1 juta saja terasa sangat berat.
"Penurunannya sangat penurunan sekali, sampai lebih dari 50 persen," kata Budiman.
Meski pembeli semakin sepi, Budiman menolak patah semangat.
Baca juga: Dulu Rp 4 Juta Sehari, Kini Rp 1 Juta Sulit: Nestapa Pedagang Bendera di Tangerang Jelang 17 Agustus
Baginya, berjualan di pinggir jalan menjelang 17 Agustus bukan semata-mata soal mencari keuntungan. Aktivitas tersebut merupakan caranya menjaga tradisi sekaligus menunjukkan rasa hormat kepada para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.
"Kalau masalah lapak mah di mana aja, tapi intinya itu kita menghormati para pejuang-pejuang kita. Kasihan mereka, taruhan nyawa, apa segala macam. Masa kita tinggal nikmatin aja kita enggak nerusin," ujar Budiman kepada Kompas.com.
Bagi Budiman, melanjutkan tradisi berjualan bendera merupakan amanah yang harus dijalankan dalam kondisi apa pun.
Menerobos Barikade demi Merah PutihPrinsip pantang menyerah tersebut bukan sekadar ucapan. Budiman mengenang masa-masa sulit ketika pandemi Covid-19 melanda.
Saat aktivitas masyarakat dibatasi dan barikade polisi berjaga di kawasan Cikarang, ia tetap nekat menerobos demi bisa sampai ke Tangerang dan menggelar lapak pernak-pernik kemerdekaan.
Baca juga: Pasang Bendera Merah Putih Jelang 17-an: Kewajiban atau Bentuk Nasionalisme?





