AEI menyoroti sejumlah tantangan yang berpotensi menekan pasar modal Indonesia, mulai dari geopolitik global, gejolak pasar keuangan, hingga ancaman El Nino.
IDXChannel - Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyoroti sejumlah tantangan yang berpotensi menekan pasar modal Indonesia, mulai dari memanasnya kondisi geopolitik global, gejolak pasar keuangan akibat unwinding yen, hingga ancaman El Nino yang dapat memicu kenaikan harga pangan dan energi global.
Ketua Umum AEI, Armand Wahyudi Hartono mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pelaku pasar modal dan perusahaan tercatat karena gejolak global dapat berdampak langsung terhadap pasar keuangan.
"Coba bayangkan panasnya geopolitik, dua minggu terakhir adanya unwinding dari Yen, dan mulai bulan ini dan ke depan adanya El Nino major," kata Armand dalam Musyawarah Anggota AEI 2026, Selasa (11/8/2026).
Apabila El Nino benar-benar menyebabkan musim kemarau panjang dan suhu yang ekstrem, menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga pangan dan energi secara global, serta berdampak ke pasar modal.
"Kalau memang benar ini musim kemarau panjang, panas yang teramat, bisa di-impact ke global food price, global short-term, short-term lost, dan pangan, energi, semuanya, berdasarkan persamaan, bisa tentunya ada pengaruh ke pasar modal itu sendiri secara global," lanjut Armand.
Namun demikian, di tengah berbagai tantangan tersebut, Armand menilai terdapat peluang bagi perusahaan yang mampu membangun kepercayaan investor. Emiten yang memiliki kinerja sehat dan tata kelola yang baik dinilai akan lebih mampu bertahan ketika pasar menghadapi gejolak.
"Tentunya yang akan survive dan kita lihat di situasi seperti ini, memang banyak tantangan, namun menjadi opportunity bagi yang bisa dipercaya di situasi tersebut," ucapnya.
Ia menekankan perusahaan tercatat perlu menjaga kinerja yang sehat dan berkelanjutan, memperkuat tata kelola, serta memastikan kondisi keuangan dapat dibuktikan secara transparan kepada investor.
Selain itu, komunikasi dengan investor juga harus berjalan baik. Emiten harus mampu memenuhi janji dan komitmen yang telah disampaikan kepada pasar.
Armand juga mengingatkan bahwa pasar modal Indonesia harus mampu bersaing dengan pasar global. Ia mencontohkan perkembangan pasar Korea Selatan dan Taiwan dalam enam bulan terakhir yang terdorong oleh hype terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) dan microchip.
Menurutnya, kenaikan harga saham sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Samsung, SK Hynix, dan TSMC menunjukkan bagaimana arus modal global dapat bergerak cepat mengikuti sektor yang sedang menjadi perhatian investor.
Ia menilai kondisi tersebut juga memberikan pelajaran bahwa kenaikan pasar yang terlalu cepat dapat diikuti koreksi tajam. Armand menyinggung saham perusahaan terkait microchip dan memori di Amerika Serikat, termasuk Micron Technology, yang sempat mengalami kenaikan signifikan.
Kondisi tersebut, menurutnya, turut mendorong aktivitas margin trading yang kemudian berbalik terkoreksi dalam beberapa pekan terakhir dan memicu tekanan besar bagi investor di Korea dan Taiwan.
"Namanya pasar selalu melewati siklus-siklus seperti itu, tidak bisa dihindarkan. Tapi untuk kita harus selalu belajar dari pasar manapun di global. Terima fakta bahwa yang namanya capital market itu bisa ke mana aja di global melihat mana yang lagi paling cantik," sebutnya.
Lebih lanjut, Armand mengatakan tantangan yang dihadapi pasar modal tidak hanya berasal dari kondisi global dan domestik, tetapi juga dari kemampuan perusahaan tercatat untuk meningkatkan daya saing.
"Begitu banyak tantangan yang kita harus hadapi bersama-sama sebagai pasar modal dan sebagai emiten. Dari kondisi global, kondisi pasar domestik, dan kemampuan kita sebagai emiten untuk membangun kemampuan kita untuk menjadi lebih kompetitif," kata Armand.
Ia menegaskan AEI tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan tersebut. Menurutnya, emiten merupakan bagian dari ekosistem pasar modal yang melibatkan masyarakat, investor, regulator, serta self-regulatory organizations (SRO).
"AEI menjadi bagian penting karena kami juga tidak bisa hidup sendiri. Kita adalah bagian dari ekosistem, bersama-sama dengan masyarakat, para investor, para pengawas, dengan market, dengan SRO, kita semuanya harus bekerja sama sebagai sebuah ekosistem yang tangguh," tegasnya. (Febrina Ratna Iskana)





