KUPANG, KOMPAS - Krisis air bersih semakin parah. Warga di sekitar Bendungan Raknamo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, terpaksa menjual ternak demi membeli air dengan harga Rp 150.000 per tangki. Ironisnya, kondisi tersebut justru terjadi di sekitar bendungan yang kehadirannya dimaksudkan untuk mengatasi krisis air.
"Kami di sekitar bendungan ini malah tidak dapat air. Sudah dua tahun jaringan perpipaan sudah dibangun tapi air belum juga datang," kata Arthur Ximenes, Kepala Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Senin (11/8/2026).
Desa Manusak termasuk salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Bendungan Raknamo. Bendungan yang diresmikan pada 2018 itu dibangun untuk mengatasi krisis air bersih yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Kapasitas maksimum air 14 juta kubik.
Menurut Arthur, ketika musim kemarau seperti saat ini, warga semakin kesulitan. Sungai hingga sumur mengering. Warga harus jalan kaki atau menumpang ojek untuk mencari sumber air. Kebutuhan air bersih tidak tercukupi. Ada yang memilih membeli air dengan harga Rp 150.000 per tangki untuk ukuran 5.000 liter.
"Untuk membeli air bersih, ada yang terpaksa jual ayam dan ternak yang lain. Mereka lalu patungan dengan tetangga untuk membeli satu tangki. Airnya mereka bagi-bagi. Air ini kebutuhan vital jadi mau tidak mau, harus beli. Memang ekonomi lagi susah jadi masyarakat sangat tertekan," kata Arthur.
Ia berharap agar pemerintah daerah atau para pemangku kepentingan terkait segera membantu menyalurkan air bersih kepada masyarakat. Pemerintah desa tidak memiliki sumber pendanaan khusus untuk pengadaan air, terlebih belakangan dana desa dipotong oleh pemerintah pusat.
Arthur sempat mendengar kabar mengenai pembagian air bersih gratis oleh sejumlah pihak kepada masyarakat miskin, sayangnya hingga kini belum menjangkau desa-desa di sekitar Bendungan Raknamo. "Masyarakat selalu menanti kapan bantuan itu datang," ucapnya.
Pantauan Kompas di Bendungan Raknamo, Senin (3/8/2026) lalu, air bendungan terus menyusut. Batu-batu dan tumbuhan yang biasanya tenggelam kini terlihat jelas. Aliran air ke lahan pertanian kini dihentikan sementara. Akibatnya, saluran irigasi kering dan petani mulai meninggalkan lahan mereka.
Serial Artikel
Air Bersih Semahal Emas di Kerontangnya Kupang
Krisis air bersih di Pulau Timor, NTT, belum ada solusinya. Masyarakat tertekan dan harus membeli air dengan harga mahal.
Aliran air dari Bendungan Raknamo untuk lahan pertanian ditutup sementara menjelang puncak musim kemarau. Langkah ini terpaksa diambil untuk menjaga ketersediaan air baku. Penutupan ini sebagai alarm akan dampak kekeringan yang semakin parah dari hari ke hari.
Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Frangky Welkis mengatakan, penghentian sementara aliran air ke lahan pertanian terpaksa diambil mengingat debit air yang semakin menurun. Pihaknya pun sudah bersepakat dengan petani setempat untuk meniadakan musim tanam II.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan jajaran di bawah untuk mendatangi wilayah yang mengalami krisis air bersih itu. Setelah identifikasi, bantuan air bersih gratis segera disalurkan. Bendungan Raknamo berada di bawah wilayah hukum Polres Kupang. "Akan ditindaklanjuti," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Polda NTT Inspektur Jenderal Rudi Darmoko memerintahkan seluruh jajaran untuk segera membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih. Pendataan dan pembagian air secara gratis akan terus berlangsung sepanjang musim kemarau.
Siang kemarin, jajaran Polsek Hawu Mehara menyalurkan bantuan air bersih secara gratis kepada 67 keluarga di Dusun I Padadida, Desa Wadumaddi, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua. Warga di dusun itu kesulitan mendapatkan air bersih.
Sumur di daerah itu mengering sehingga memaksa mereka berjalan kaki mencari air yang tersisa di celah batu. Ada juga yang membeli air dengan harga mahal. Satu tangki ukuran 5.000 sebesar Rp 150.000 bahkan lebih.
Serial Artikel
Air Mata Perempuan Sikka yang Mengalirkan Mata Air . . .
Perjuangan masyarakat untuk mendapatkan air bersih sebentar lagi bakal terwujud.





