Rupiah Hari Ini Ditutup ke Level Rp17.861/USD

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 11 Agustus 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.861 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 106 poin atau setara 0,60 persen dari posisi Rp17.755 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah tajam 106 poin, sebelumnya sempat melemah 100 poin di level Rp17.861 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.755 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.830 per USD. Rupiah melemah 40 poin atau setara 0,22 persen dari Rp17.790 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.824 per USD turun 29 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.795 per USD.
 

Baca Juga :

Rupiah Dibuka ke Rp17.795/USD Selasa Pagi
  Pasar waspadai konflik Iran-AS
Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar keuangan global yang masih dibayangi ketidakpastian akibat ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Perselisihan kedua negara terkait kompensasi serangan militer serta status Selat Hormuz kembali memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak dunia.

AS dan Iran sama-sama menuntut kompensasi atas serangan militer yang terjadi baru-baru ini. Perkembangan tersebut memupus harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.

Kedua negara juga menyampaikan klaim berbeda mengenai kondisi jalur perairan strategis tersebut. Washington menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka, sedangkan Teheran mengklaim telah menutup jalur tersebut menggunakan ranjau dan pesawat nirawak (drone).

Risiko gangguan pasokan juga meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan telah menyerang kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco pada akhir pekan lalu.

Kelompok tersebut juga mengancam membuka front baru dalam konflik dengan menyerang kapal dan infrastruktur minyak di Laut Merah. Ancaman tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah.

Perhatian pelaku pasar selanjutnya beralih ke sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Juli 2026 dijadwalkan dirilis pada Rabu. CPI diperkirakan melambat menjadi 3,4 persen secara tahunan (yoy) dari 3,5 persen pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, inflasi inti atau Core CPI yang tidak memperhitungkan komponen dengan harga bergejolak diproyeksikan turun menjadi 2,5 persen yoy dari 2,6 persen.

Sehari kemudian, pasar akan mencermati data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) yang juga diperkirakan mengalami perlambatan. Data inflasi tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga pada pertemuan September diperkirakan sekitar 44 persen, turun dari 67 persen sepekan sebelumnya.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
  Cermati tinjauan MSCI 
Di dalam negeri, pasar juga mencermati agenda tinjauan MSCI pada Agustus 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Agustus 2026. Perubahan hasil peninjauan dan penyeimbangan kembali (rebalancing) dijadwalkan mulai berlaku setelah 31 Agustus. Investor masih bersikap waspada terhadap potensi dampak tinjauan tersebut terhadap pasar saham domestik.

Tekanan terhadap pasar sedikit tertahan setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuk Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo. Penunjukan tersebut dinilai meredakan kekhawatiran pasar terkait kesinambungan kepemimpinan Bank Indonesia.

Di sisi lain, sentimen pasar mendapat tekanan dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Data Bank Indonesia menunjukkan IKK turun dari 117,8 pada Juni 2026 menjadi 116,8 pada Juli 2026.

Level tersebut menjadi yang terendah sejak September 2025 ketika IKK berada di angka 115. Jika dibandingkan dengan posisi awal tahun pada Januari 2026 yang mencapai 127, IKK Juli telah turun 10,2 poin.

IKK merupakan indikator yang mencerminkan penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini sekaligus ekspektasi terhadap kondisi ekonomi pada masa mendatang.

Di tengah penurunan keyakinan konsumen, penjualan eceran menunjukkan perbaikan. Data Bank Indonesia mencatat penjualan eceran pada Juni 2026 tumbuh 0,7 persen secara bulanan (mtm). Pertumbuhan tersebut mengakhiri kontraksi yang terjadi dalam dua bulan sebelumnya.

Pada April 2026, penjualan eceran terkontraksi 11,6 persen, kemudian kontraksi berlanjut sebesar 1,5 persen pada Mei 2026. Perbaikan penjualan eceran pada Juni dipengaruhi siklus musiman. Permintaan juga tetap terjaga selama periode hari besar keagamaan nasional (HBKN) dan libur sekolah.

Dengan demikian, pasar domestik masih menghadapi sentimen yang beragam. Penurunan keyakinan konsumen menjadi perhatian, sementara pemulihan penjualan eceran memberikan indikasi perbaikan permintaan pada Juni 2026.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
The Rinra Makassar Tawarkan Paket Pernikahan Terbaru dengan Cashback Hingga Rp5 Juta
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Singgung Panglima TNI, Komisi I DPR: Kamtibmas Tugas Utama Polri
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
KAHMI Sumut Desak Polisi Usut Dugaan Penistaan Agama dalam Promosi Miras Newport
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Minecraft Bedrock Resmi Update Terbaru, Dappled Forest Hadir Bersama Optimalisasi yang Mengubah Pengalaman Bermain
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Begini Awal Mula Video Promosi Alkohol Newport pakai Hafalan Ayat Al-Quran jadi Viral di Medsos
• 6 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.