Wamenag: Tidak Ada Ampun bagi Guru yang Terbukti Lakukan Pelanggaran Berat

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafi'i menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan toleransi terhadap pelaku pelanggaran asusila di lingkungan pendidikan pesantren.

Ia meminta setiap kasus segera dilaporkan kepada jajaran Kementerian Agama dan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

"Tidak ada ampun bagi guru yang terbukti melakukan pelanggaran berat," kata Syafi'i, dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).

Bagi Syafi'i, perlindungan anak merupakan amanat yang tidak bisa ditawar.

Baca juga: Menag: Tunjangan Profesi Guru Kemenag Naik 700 Persen, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Sebab, harapan orangtua yang menyekolahkan anak ke madrasah bukan hanya agar mereka berprestasi secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak dan memiliki masa depan yang baik.

"Setiap anak yang berhasil kita lindungi, setiap mimpi anak yang berhasil kita tumbuhkan, dan setiap masa depan anak yang berhasil kita selamatkan akan menjadi amal jariah yang tidak pernah berhenti mengalir," tuturnya.

Syafi'i menuturkan, Kemenag tengah memperkuat sistem pelaporan yang memungkinkan siswa menyampaikan pengaduan melalui Aplikasi Manajemen Aduan Anti Kekerasan (AMAN).

Jajaran Kantor Wilayah Kemenag dan kantor kementerian agama kabupaten/kota diminta untuk menyosialisasikan mekanisme pengaduan tersebut ke seluruh madrasah.

Baca juga: Sambut Bulan Kemerdekaan, Kemenag Gelar Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas

"Keberanian siswa untuk melapor harus didukung oleh lingkungan sekolah yang melindungi korban, bukan justru membungkam mereka," ucapnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Syafi'i mengatakan, budaya saling menjaga dan saling mendukung antar siswa perlu dibangun sebagai bagian dari ekosistem madrasah yang sehat.

"Kalau ada hal-hal negatif yang terjadi, mereka harus berani speak up. Kita bangun kepekaan di antara mereka untuk saling mendukung sehingga yang mengalami hal-hal negatif berani melapor dan persoalannya bisa segera diselesaikan," tegasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Timnas Futsal Indonesia TC di Spanyol, Bidik Tiket Piala Dunia 2028
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Trump Diam-Diam Berganti Pesawat di Turkiye di Tengah Dugaan Ancaman Iran
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Rahasia di Balik Syuting Warkop DKI Zaman Dulu, Ternyata Suaranya Direkam Pakai Walkman
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Menjelang HUT RI, Qodari Imbau Masyarakat Tenang dan Bijak Terima Informasi di Medsos
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Trump Diam-Diam Tinggalkan Turki di Tengah Ancaman Pembunuhan dari Iran
• 9 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.