Dengan kaos dan celana panjang lusuh berlumuran cat, Dian berjalan santai di koridor belakang Istana Negara. Lelaki berusia 34 tahun itu melihat ke langit-langit sembari menunjuk ke beberapa pilar bangunan yang menghadap ke Jalan Veteran Raya. Alih-alih membawa dokumen atau komputer jinjing seperti biasanya banyak orang yang melintas di tempat itu, ia justru membawa sejumlah besi kerangka scaffolding.
Setelah berjalan beberapa langkah, ia berhenti di satu tempat lalu meletakkan kerangka scaffolding itu di lantai marmer Istana yang sudah dilapisi plastik. Beberapa rekan Dian yang sudah lebih dulu tiba di tempat itu menyambutnya, lalu merangkai besi-besi yang dibawa itu menjadi scaffolding utuh yang tingginya hampir 5 meter.
Satu per satu rekan Dian menaiki scaffolding sembari memanggul ember cat dan kuas yang sudah disambung tongkat panjang. Dari atas menara besi itu, mereka mengulaskan cat putih di langit-langit koridor Istana. Tetapi, tidak dengan Dian.
“Saya baru aja turun, habis ngecat genting Isneg (Istana Negara),” ungkapnya saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Butuh jeda beberapa saat bagi pekerja bangunan tersebut untuk kembali melanjutkan pengecatan di Istana Negara. Hari itu, kendati sudah bekerja sejak pukul 08.00 WIB, ia masih akan lembur hingga sekitar pukul 22.00 WIB untuk merapikan seluruh tampilan luar bangunan tersebut. Sebab, kurang dari sepekan jelang 17 Agustus, seluruh bagian dari Kompleks Istana Kepresidenan harus sudah terlihat indah, tak ada cat yang terkelupas ataupun kotor.
Meski harus bekerja ekstra, pekan awal Agustus merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh Dian. Sebab, pihak Istana mendorong percepatan pengecatan, mengingat ada sejumlah rangkaian acara jelang 17 Agustus, yang membutuhkan kesiapan bangunan. Untuk itu, para pekerja kebanyakan harus bekerja lembur, tetapi bakal mendapatkan imbalan hampir dua kali lipat dari gaji bulanannya.
Dian, misalnya, bisa mendapatkan uang lembur Rp 1.500.000 sepanjang Agustus. Padahal gajinya hanya Rp 1.000.000 per bulan. “Karena ada uang lembur kalau mau 17 Agustusan, saya jadi bisa kirim uang lebih ke keluarga,” tutur pria asal Sukabumi, Jawa Barat itu.
Lebih dari persoalan uang, Agustus tahun ini menjadi kian spesial bagi Dian. Kendati sudah bekerja sebagai pekerja bangunan dari CV Khaisar dan Bilqish Sukses yang ditempatkan di Istana sejak 2021, tahun ini untuk pertama kalinya dia akan bertugas untuk “stand by” di Istana pada hari kemerdekaan. Artinya, ia bisa mengikuti dua upacara peringatan hari kemerdekaan, yakni upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi di pagi hari dan upacara Penurunan Bendera Merah Putih pada petangnya.
Bagi Dian, ini bisa jadi kesempatan yang tak tergantikan. Tidak semua orang bisa mendapatkan akses untuk mengikuti upacara secara langsung bersama Presiden dan Wakil Presiden. Oleh karena itu, sekalipun harus mengorbankan hari libur yang biasanya ia gunakan untuk pulang ke kampung halaman, Dian tak ragu.
“Kapan lagi saya bisa ikut upacara di Istana. Walaupun mungkin hanya melihat upacara dari jauh, tapi saya bangga bisa melihat langsung,” ujarnya.
Antusiasme untuk mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 RI tidak hanya dirasakan oleh Dian yang sehari-hari berada di Istana. Lebih dari 330.000 warga yang berada di seluruh penjuru negeri juga memburu kesempatan tersebut. Hal itu salah satunya terlihat dari jumlah pendaftar tiket mengikuti upacara 17 Agustus yang dibuka Kementerian Sekretariat Negara secara daring sepanjang 5-9 Agustus lalu.
“Selama lima hari masa pendaftaran itu, totalnya kurang lebih di atas 336.000 pendaftar. Yang sebenarnya kapasitas yang memungkinkan hanya 5.500 orang, tapi kami pastikan ada penambahan 3.400 kursi lagi,” kata Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana, Selasa.
Untuk mengakomodasi warga, lanjutnya, pemerintah pun menambah ruang di Istana Merdeka. Semula, pihak Istana hanya membangun satu bangunan temporer di sisi kanan halaman Istana Merdeka untuk para undangan upacara. Akan tetapi, seiring dengan penambahan kuota undangan, dibangun pula sebuah panggung serba putih di luar pagar Istana Merdeka yang menutup satu ruas Jalan Medan Merdeka Utara. Bangunan serupa juga pernah didirikan tahun lalu, tetapi kali ini ukurannya lebih besar.
Tak hanya panggung, di Jalan Medan Merdeka Utara juga akan disediakan tenda untuk warga yang ingin menyaksikan upacara melalui layar videotron. Setidaknya ada empat videotron yang dipasang di sepanjang ruas jalan tersebut.
Dalam penyelenggaraan upacara peringatan HUT ke-81 RI dan rangkaian acara lainnya, persiapan tak hanya soal bangunan, tetapi juga ranah pengamanan. Sebanyak 1.147 personel Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) bersenjata lengkap disiagakan. Paspampres juga menyiapkan sejumlah alat utama sistem persenjataan antara lain, kendaraan antidrone, jammer, maung artileri pertahanan udara, dan kendaraan taktis antiancaman biologis (CBRNE).
“Ancaman terkini tidak lagi hanya berupa tindakan fisik secara langsung, tetapi juga telah menggunakan teknologi drone, serangan siber, dan penyebaran informasi. Ancaman itu memicu gangguan keamanan, hingga aksi individu maupun kelompok yang bergerak cepat dan sulit diprediksi,” kata Komandan Paspampres Mayor Jenderal Edwin Adrian Sumantha.
Peringatan Hari Kemerdekaan akhirnya menjadi momentum yang disambut semua kalangan dengan semangatnya masing-masing. Setiap warga gegap gempita untuk memberikan sumbangsih dengan caranya sendiri.
Seperti halnya Dian, lewat sapuan kuas catnya, ia pun ingin berperan untuk bangsa. “Saya mau kasih lihat ke keluarga di rumah. Hasil cat saya dipakai langsung lho sama Pak Presiden,” tuturnya.





