Prolog yang Hampir Tidak Terbaca: Obituari Naharuddin

harianfajar
10 jam lalu
Cover Berita

Catatan: Adi Arwan Alimin

Saya baru saja turun dari taksi sepulang dari Kantor Arsip Nasional, Jakarta, ketika kabar itu masuk ke ponsel saya: chat dari Muhsin Husain juga Muhammad Syahid. Bunyinya sama: mipelei Kak Nahar. Petang ini, jauh di Makassar, di RS Tadjuddin Chalid, Drs. Naharuddin, M.Si. menghembuskan napas terakhirnya.

Beberapa hari sebelumnya ia dilarikan dari RSU Punggawa Malolo Mamuju, lalu dirujuk ke RSUD Mamuju, dan akhirnya dibawa ke Makassar. Tiga rumah sakit, satu tubuh yang berjuang, dan sebuah kesadaran yang tak pernah kembali. Pekan lalu saya masih berdiri di sisi dipannya tempat selang infus itu seperti jenggala yang merubung lelaki pemberani ini. Kami tidak dapat lagi bercakap-cakap sebagaimana biasa.

Saya datang ke Arsip Nasional hari ini untuk satu urusan: melengkapi bahan bagi buku API PERJUANGAN, yang sedang kami susun sebagai amanah bersama. Saya tidak menyangka akan pulang membawa dua hal sekaligus yakni salinan bacaan dan catatan dokumen lama, dan kabar duka yang membuat semua perihal kematian itu tiba-tiba terasa lebih berat dari sebelumnya.

Tanggal di kepala saya belum genap dua minggu: 27 Juli 2026, Mamuju saat saya masih riset lapamgan di Pulau Laut. Hari itu Drs. Naharuddin menulis dan mengirimkan prolog untuk buku Api Perjuangan Sejarah Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. Judul yang sangat disukainya. Ia menutupnya dengan salam, dengan tanda tangan lengkap gelarnya, disertai jabatan yang disandang penuh kesungguhan hingga baris terakhir:
Ketua Wali Amanah Perjuangan Sulawesi Barat.

Saya kembali membaca ulang prolog itu malam ini, di Jakarta, jauh dari Mamuju tempat ia menuliskannya, dan jauh dari Makassar tempatnya berpulang. Dalam prolog itu ia tidak bicara tentang dirinya sendiri sebagai tokoh. Tetapi bicara tentang tahun 1994 — tahun ketika dia memulai, sendirian, mengumpulkan catatan-catatan kecil dari sebuah gerakan yang saat itu masih harus bersembunyi. Forum Sipamandar, katanya, terpaksa bergerak di bawah tanah, karena zaman Orde Baru tidak memberi ruang bagi gerakan yang terang-terangan menuntut sebuah provinsi baru.

Bertahun-tahun dia menyimpan catatan itu tanpa tahu kapan bisa dibuka ke udara terbuka. Baru pada 21 Mei 1998, ketika Soeharto mundur, ia menulis bahwa gerakan itu akhirnya bisa berubah dari bawah tanah menjadi “vulkan”, istilahnya sendiri, meletus ke permukaan.

Dua puluh tahun kemudian, ia masih mengumpulkannya. Dari 1994 hingga 2014, dua dekade penuh, ia dan kawan-kawan pejuang menghimpun arsip, wawancara, kesaksian supaya kelak ada yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar dikenang samar-samar.

Saya mengenalnya bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tapi sebagai jajarannya di pengurus Wali Amanah. Beliau Ketua, saya Sekretaris Jenderal, dan Mukshin Husain Bendahara Umum kami. Bersama, tahun lalu, dalam Malam Ramah Tamah peringatan HUT ke-21 Provinsi Sulawesi Barat, kami menyerahkan berkas hasil pengumpulan data itu kepada Gubernur Dr. H. Suhardi Duka — bukan sebagai seremoni. Tapi sebagai serah terima amanah, supaya penulisan dan penerbitannya bisa difasilitasi sampai tuntas.

Setelah malam itu, pekerjaan justru belum selesai, hampir tiap pekan rahimahullah memanggil kami ke markas Wali Amanah, di rumah “darurat” pasca gempa bumi.

Draf yang ada masih harus dilengkapi, data masih harus ditambah, dan kanda Naharuddin di usianya, dengan segala riwayat kesehatannya tetap yang paling rajin mengejar detail. Ia yang menulis prolog, ia pula yang terakhir kali mengirimkannya kepada saya, dua hari sebelum tubuhnya menyerah.

Saya tidak mencoba menuliskan draf buatnya, sebab saya tahu sosoknya yang pandai menulis, meski kerap kali dia mengatakan harus belajar menulis lebih panjang lagi. Dan disela itu, kami sedang menyiapkan buku biografinya dari catatan pribadinya atau banyak video rekaman yang beliau tahu, atau saya ambil diam-diam diantara kopi kental tanpa gula yang kerap dibuatnya sendiri.

Dalam prolog itu ada satu kalimat yang terus saya baca ulang malam ini:

“Kobaran api semangat perjuangan ini tidak boleh padam. Ia akan terus menyala hingga akhir hayat para pejuangnya serta diwariskan secara lintas generasi kepada para penerus generasi mendatang.”

Ia menuliskan kalimat itu tanpa tahu bahwa akhir hayatnya sendiri sudah begitu dekat ketika mengetikannya. Barangkali itu bukan kebetulan. Orang yang sudah empat puluh tahun menjaga arsip biasanya tahu, tanpa perlu diberitahu, kapan sebuah bab harus segera dituntaskan.

Saya masih di Jakarta ketika menulis ini. Dua hari ini saya mondar-mandir di kantor Arsip Nasional sambil terus menyimak doa-doa di WAGs Pejuang Sulbar yang terus mengabarkan kondisi terakhirnya. Rencananya saya akan menambahkan beberapa paragraf ke dalam draf yang sudah jadi buku sesungguhnya. Bahkan bersama Kak Nahar dan bung Muhsin kami sebenarnya awal Agustus ini hendak bertemu pak Gubernur untuk wawancara. Qadarullah…

Prolog kak Nahar yang hampir tak terbaca ini, akan kita masukkan ke dalam warisan yang sekarang bertambah satu lapis lagi. Bukan hanya arsip tentang perjuangan Sulbar, tapi arsip tentang orang yang paling keras kepala menjaga arsip itu sendiri.

Prolog itu, yang seharusnya hanya menjadi pembuka buku, kini menjadi kalimat terakhirnya kepada kami semua yang meneruskan pekerjaan ini. Ia menutupnya dengan kalimat, “ucapkan terima kasih kepada siapapun yang membantu kita dek.”

Saya hampir tidak tahu akan bagaimana menutup obituari ini dengan halaman terakhir yang layak untuk salah satu Founding Father sangat berani ini.

Selamat jalan, Ketua, abang senior kami, kakak kebanggaan kami Amanah itu tetap di tangan kami. Api itu, insyaallah, tidak akan padam.

Husnul khatimah buatmu: Drs. Naharuddin, M.Si. Salamaq pillambamu…

Cibubur Jakarta, 11 Agustus 2026


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sepekan Setelah HUT Ke-81 RI, Pemerintah Anugerahkan Gelar Tanda Kehormatan
• 4 menit lalurctiplus.com
thumb
Temuan Bangkai Gajah di Kebun Sawit Aceh Tamiang, Diduga Mati Diracun
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Ungkapan Kesedihan Ibunda Usai Nesa Scent Dibiarkan Tenggelam Oleh Teman-temannya
• 17 jam lalucumicumi.com
thumb
Terungkap Sudah Sopir Travel yang Buang Jasad Penumpang ke Jurang, Ternyata Sempat Sembunyi di Papua dan Sulbar
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Wanita Karawang Kaget Jadi Penggugat Cerai, Padahal Tak Pernah Gugat Suami ke PA
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.