KYIV, KOMPAS.TV - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut Rusia kembali menerima bantuan militer dari Korea Utara berupa rudal balistik dan tengah mempersiapkan pengerahan pasukan tambahan.
Pernyataan itu disampaikan ketika serangan Rusia menggunakan rudal, drone, dan bom luncur dilaporkan menewaskan sedikitnya sembilan warga sipil di Ukraina, Selasa (11/8/2026).
Dilansir Associated Press, Zelenskyy menilai peningkatan bantuan Korea Utara menunjukkan Rusia sedang mempersiapkan eskalasi, bukan perdamaian.
Di sisi lain, Moskow juga disebut meningkatkan produksi rudal balistiknya, sementara Ukraina menghadapi kekurangan kritis rudal pencegat Patriot.
Kombinasi ketiga faktor tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan Rusia menggempur Ukraina secara lebih masif, terutama menjelang musim dingin.
Baca Juga: Rusia Gencarkan Serangan ke Ukraina, 17 Orang Tewas di Kyiv dan Sekitarnya
Zelenskyy menyatakan Rusia telah menerima tambahan rudal balistik dari Pyongyang dan tengah bersiap mengerahkan lebih banyak tentara Korea Utara ke medan perang.
"Setiap langkah yang diambil Rusia — meningkatkan produksi rudal balistik, mendatangkan peralatan Korea Utara, mempersiapkan mobilisasi — semua ini menunjukkan bahwa Moskow tidak sedang mempersiapkan perdamaian, tetapi eskalasi,” kata Zelenskyy di media sosial, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, rudal balistik yang dipasok Korea Utara telah digunakan dalam serangan terbaru di Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, yang menewaskan enam warga sipil dan melukai 19 lainnya.
Perlu dicatat, klaim mengenai tambahan rudal dan rencana pengerahan pasukan tersebut disampaikan berdasarkan penilaian pihak Ukraina dan belum memperoleh konfirmasi independen.
Namun, pernyataan Zelenskyy sejalan dengan konteks hubungan militer Rusia dan Korea Utara yang semakin erat.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangani perjanjian kemitraan strategis lebih dari dua tahun lalu.
Baca Juga: Komandan Drone Ukraina: Serangan ke Krimea Bisa 7 Kali Lebih Banyak jika Dana Cair Lebih Cepat
Kesepakatan tersebut mencakup bantuan timbal balik jika salah satu negara menghadapi agresi.
Sebelumnya, Korea Utara telah mengirim ribuan tentara dan persenjataan dalam jumlah besar untuk mendukung invasi Rusia ke Ukraina.
Serangan Rusia Tewaskan 9 Warga SipilMenurut pemerintah Ukraina, gempuran Rusia berlangsung secara simultan menggunakan berbagai persenjataan, mulai dari rudal balistik Iskander, rudal Zircon, hingga sekitar 120 drone jarak jauh dari berbagai jenis, serta bom luncur.
Akibat serangan tersebut, sedikitnya sembilan warga sipil dilaporkan tewas.
Serangan berlangsung di tengah meningkatnya kemampuan serangan jarak jauh Rusia, yang menurut Ukraina kini mendapat tambahan dukungan persenjataan dari Korea Utara.
Di ibu kota Kyiv, serangan Rusia juga dilaporkan menghantam sejumlah lokasi pada malam hari.
Salah satu serangan mengenai area halaman sebuah rumah sakit anak, meninggalkan dua kawah dan memecahkan kaca jendela bangunan.
Anak-anak dan tenaga medis saat itu berada di tempat perlindungan bom sehingga tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Baca Juga: Tegang! Drone Ukraina Kembali Hantam Rusia, 5 Orang Tewas
Serangan lain di Kyiv memicu kebakaran di sebuah gudang yang meluas hingga sekitar 1.200 meter persegi, menurut Layanan Darurat Negara Ukraina.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengeklaim serangan malam hari tersebut menyasar "fasilitas industri militer serta pusat transportasi dan logistik" di Kyiv dan Zaporizhzhia.
Moskow menyebut mereka menghantam fasilitas penyimpanan drone di Kyiv dan pabrik metalurgi di Zaporizhzhia.
Ukraina Kekurangan Rudal PatriotDi balik deru serangan, Ukraina menghadapi masalah struktural yang krusial: kekurangan rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot.
Sistem tersebut menjadi salah satu andalan utama Ukraina untuk menghadapi rudal balistik Rusia yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Ukraina menilai Rusia berusaha mengeksploitasi kelemahan ini dengan terus meningkatkan produksi rudal balistiknya.
Analisis Institute for the Study of War (ISW), lembaga pemikir yang berbasis di Washington, menyebut kekurangan rudal Patriot memberikan peluang bagi Rusia untuk menimbulkan kerusakan serius terhadap Ukraina selama musim dingin mendatang.
Kondisi tersebut, menurut ISW, berpotensi memperpanjang perang.
Selama Presiden Rusia Vladimir Putin masih menilai memiliki peluang militer untuk mencapai seluruh tujuannya, Kremlin dinilai tidak memiliki alasan kuat untuk memasuki negosiasi serius atau memberikan kompromi berarti atas tuntutannya.
Penilaian tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa peningkatan kemampuan militer Rusia dapat semakin mengurangi insentif Moskow untuk mencari penyelesaian melalui diplomasi.
Baca Juga: Ukraina Gempur Belasan Gudang Pasar Online Terbesar Rusia, Serangan di Moskow Tewaskan 5 Orang
Upaya Diplomasi AS MandekDi tengah eskalasi militer, upaya diplomatik yang dipimpin Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan perang mengalami kebuntuan.
Washington dilaporkan semakin frustrasi karena minimnya kemajuan menuju penyelesaian, sementara perhatian pemerintah AS juga tersedot oleh perang Iran.
Kondisi ini membuat jalur militer kembali menjadi faktor dominan dalam konflik.
Dengan meningkatnya bantuan militer Korea Utara berupa rudal dan pasukan, produksi rudal Rusia yang terus digenjot, serta kekurangan sistem pertahanan udara Patriot di pihak Ukraina, perang Rusia-Ukraina memasuki fase yang semakin berisiko.
Di tengah mandeknya upaya diplomasi dan bergesernya perhatian Washington ke perang Iran, kedua pihak justru terus meningkatkan kemampuan serangan jarak jauh.
Kombinasi bertambah persenjataan dari Pyongyang dan kerentanan pertahanan udara Ukraina menambah tantangan bagi upaya mencapai penyelesaian konflik dalam waktu dekat.
Baca Juga: Rusia Hantam Ukraina dengan Rudal Balistik dan Drone, Sedikitnya 9 Orang Tewas
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Associated Press
- Rusia Ukraina
- Korea Utara
- perang Rusia Ukraina
- Volodymyr Zelenskyy
- perang rusia ukraina
- Rusia





