Pasar Domestik RI Masih Jadi Magnet Investor, Apakah Cukup?

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Di tengah ketidakpastian global, Indonesia masih menarik di mata investor karena ukuran pasar domestiknya yang besar. Investasi di Indonesia dianggap masih menarik, meski dengan sejumlah catatan yang perlu diperhatikan pemerintah dan pemangku kebijakan lain.

Selama semester I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen, naik dibandingkan 5 persen pada semester I-2025. Secara triwulanan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2026 tercatat 5,29 persen, lebih lambat dibandingkan dengan triwulan I-2026 yang sebesar 5,61 persen.

Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tumpuan perekonomian melambat dan hanya tumbuh 5,06 persen. Angkanya menyusut dari 5,52 persen dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Baca JugaASEAN Menjadi Alternatif di Tengah Huru-hara Geopolitik Global

Secara global, kondisi yang penuh ketidakpastian membentuk lanskap baru yang memengaruhi keputusan perusahaan dalam berinvestasi dan membangun rantai pasok. Di tengah kondisi ini, negara-negara ASEAN berpeluang diuntungkan.

”ASEAN tampil sebagai pihak yang diuntungkan dari peralihan ini. Sementara itu, Indonesia dilihat sebagai lokasi strategis untuk produksi, konsumsi, dan investasi. Walau dalam jangka pendek volatilitas akan berdampak pada sentimen, fundamental jangka panjang Indonesia masih kuat,” tutur Managing Director and Head, Group Wholesale Banking and Markets UOB, Frederick Chin, secara tertulis dari Singapura, Rabu (6/8/2026).

Pasar domestik yang besar, faktor demografi yang menguntungkan, dan reformasi yang sedang berlangsung di dalam negeri saat ini turut mendukung kepercayaan investor. Dalam dunia yang tidak pasti, modal selalu mengikuti resiliensi. Para investor menemukan ketangguhan itu di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Indonesia dinilai mampu memosisikan diri dengan baik untuk meraup keuntungan dari konfigurasi ulang rantai pasok global. Mulai dari beragam peluang lintas manufaktur yang maju, industri hilirisasi, infrastruktur digital, energi terbarukan, transisi energi, serta sektor konsumen.

Baca JugaCEO Grup HSBC: Keamanan Bisnis di Tengah Turbulensi

”Di balik pasar domestik yang besar, Indonesia menjadi gerbang untuk konsumen ASEAN yang berjumlah sekitar 684 juta jiwa. Hal itu mengombinasikan apa yang paling diinginkan investor, yakni skala, sumber daya, dan pertumbuhan jangka panjang,” ujar Chin.

Meski demikian, Indonesia masih menghadapi tantangan yang selama ini kerap dikeluhkan investor dan dunia usaha. Meski telah membuat sejumlah perubahan signifikan melalui reformasi dan pengembangan infrastruktur, beberapa masalah klasik masih menghantui iklim investasi.

Tantangan itu, misalnya, terletak pada aspek regulasi yang kompleks. Chin mengatakan, kesuksesan membutuhkan pengetahuan lokal yang memadai, kemitraan yang dipercaya, serta jaringan yang kuat.

”Investasi yang sukses membutuhkan lebih dari sekadar modal. Mereka (investor) membutuhkan insight lokal dan kemitraan yang tepercaya,” kata Chin.

Meski demikian, menurut dia, jika melihat dari sisi ukuran pasar, kapabilitas industri, sumber daya alam, dan populasi generasi mudanya, Indonesia masih merupakan negara yang menjanjikan di mata investor.

Baca JugaTekanan Eksternal dan Arus Keluar Laba Asing Bisa Picu Defisit

Hal serupa diutarakan Wholesale Banking Director UOB Indonesia Harapman Kasan. Di mata investor, Indonesia merepresentasikan sekitar 40 persen dari populasi ASEAN. Nilai tambah Indonesia semakin besar karena memiliki sumber daya dan energi yang melimpah.

Nilai tambah itu membuat investor yang datang ke Indonesia menyasar penanaman modal jangka panjang. Namun, jika tidak dirawat, daya tarik awal dan komitmen investasi itu belum tentu berbuah realisasi investasi yang riil. Pasalnya, para investor juga ingin melihat konsistensi kebijakan yang menjadi salah satu pertimbangan utama.

Keseimbangan baru

Dengan kondisi saat ini, Harapman melanjutkan, dunia sedang mencoba menciptakan keseimbangan baru. Tiap negara dituntut untuk cerdik mencari celah dan memosisikan diri untuk menarik investor.

Baca JugaMasihkah Indonesia Menjadi Magnet bagi Investasi Asing?

Situasi yang serba tidak pasti mendorong perusahaan-perusahaan untuk melakukan diversifikasi. Hal ini perlu dicermati oleh Indonesia agar dapat diuntungkan dari situasi yang ada.

”Kalau kita bicara mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, tentunya mesin ekonominya harus dari pemerintah, swasta, dan dari foreign direct investment (FDI) juga. Ketiganya mesti berjalan. FDI ini sebenarnya (butuh) kepastian hukum, ini sangat penting,” tutur Harapman.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi yang masuk ke Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun. Angka itu merepresentasikan 49,5 persen dari target investasi 2026, yakni Rp 2.041,3 triliun.

Secara detail, pencapaian itu meliputi penanaman modal dalam negeri senilai Rp 502,9 triliun atau 49,8 persen. Sisanya sebanyak 50,2 persen merupakan penanaman modal asing (FDI) sebesar Rp 507,7 triliun. (Kompas.id, 16/7/2026).

”Jadi, performa semester I-2026 ini investasi kita masih tumbuh positif. Masih tetap terjaga dan kita melihat sektor-sektor yang mendominasi itu masih dikuasai oleh hilirisasi. Ini juga bisa menjadi pemerataan investasi dibandingkan yang tadinya terpusat di Jawa,” ujar Sekretaris Kementerian Investasi Mohammad Rudy Salahuddin di Singapura, Jumat (31/7/2026).

Baca JugaInvestasi Asing Indonesia Tembus Rp 508 Triliun, tapi Kenapa Vietnam Tetap Unggul?

Persebaran investasi yang mulai merata ke luar Jawa itu, menurut Rudy, merupakan sinyal positif bahwa penanaman modal asing masih tumbuh signifikan di Indonesia.

”Kenapa investor masih wait and see? Sebenarnya para investor masih melihat peluang-peluang ini. Mereka membandingkan dengan negara lain. Sebab, investasi itu, kan, pasti jangka panjang. Nah, kami terus kawal supaya investasi itu bukan hanya minat saja, melainkan bagaimana bisa merealisasikan investasi di Indonesia,” tutur Rudy.

Daya tarik pudar

Secara terpisah, ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan, ukuran populasi yang besar dan berusia muda memang merupakan salah satu daya tarik investasi di Indonesia. Namun, dalam kondisi ekonomi melemah dan daya beli menurun seperti sekarang, daya tarik ini pudar.

”Penurunan jumlah kelas menengah yang bergeser ke kelas menuju menengah atau rentan miskin menggerus daya tarik ini. Tren aging population juga membuat faktor ini makin berkurang sebagai daya tarik,” tuturnya.

Menurut dia, Indonesia perlu mendorong hal baru yang bisa dijadikan daya tarik berinvestasi, di luar ukuran pasar yang besar. Kemampuan inovasi, kualitas sumber daya manusia yang tinggi, logistik yang efisien, industri kreatif yang menggeliat, serta UMKM yang bertumbuh merupakan beberapa hal yang bisa dikembangkan. Berbagai aspek itu juga perlu dibarengi dengan strategi dan kebijakan yang mumpuni.

Baca JugaEkonomi Kian Bertumpu pada Belanja Pemerintah, Mesin Industri Tersendat

Ia mengatakan, jawaban atas sederet persoalan itu erat kaitannya dengan upaya memperbaiki iklim investasi, meningkatkan efisiensi logistik, mendorong hilirisasi berkualitas, serta memacu tumbuhnya sentra-sentra inovasi atau pertumbuhan. Pengembangan kawasan ekonomi khusus tematik, misalnya, merupakan satu dari banyak alternatif yang bisa dijajaki.

”Aspek pasar domestik merupakan keunggulan komparatif kita yang jika dikelola dengan baik, tidak bisa ditandingi negara lain. Ini harus dijaga sebagai daya tarik unggulan kita, tentunya dengan mewujudkan berbagai poin lain sebagai pendukung,” ujar Wijayanto.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Istana Mulai Gelar Persiapan Upacara Detik-detik Proklamasi Ke-81 RI
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Kerja Keras Berbuah Cuan, Nasib Keuangan Shio Kerbau 12 Agustus 2026
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Putra Mahkota Djarum Kembali Pimpin AEI Hingga 2029, Ini Agenda Besar Armand Hartono
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
KMP Putri Yasmin Terbakar di Pantai Sekotong Lombok Barat, Tim SAR Dikerahkan
• 5 jam laludetik.com
thumb
Masih Ingat Paskibraka Pembawa Baki Bendera yang Viral di 2016? Begini Kehidupannya Sekarang
• 10 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.