Jakarta, CNBC Indonesia - Suramnya pasar tenaga kerja telah menjadi fenomena global. Di Amerika Serikat (AS), semakin banyak orang menyerah, tak lagi mencari kerja setelah berbulan-bulan menghadapi penolakan dan persaingan ketat di pasar tenaga kerja.
Dan Coda menjadi salah satunya. Pria berusia 40 tahun asal Durham, North Carolina, itu kehilangan pekerjaannya pada Desember 2025. Selama enam bulan berikutnya, ia menghabiskan lebih dari 300 jam mencari pekerjaan baru di bidang technical program atau project management.
Coda mengirim puluhan lamaran, mendapat respons dari sekitar 15 lowongan potensial, dan menjalani beberapa putaran wawancara. Namun, tidak satu pun berakhir dengan pekerjaan baru. Pada Juni, ia akhirnya berhenti mencari pekerjaan.
"Kondisi ini membuat saya lelah," kata Coda kepada CNBC Make It, dikutip Rabu (12/8/2026).
"Saya terus bertemu jalan buntu dan tidak mendapatkan apa-apa," lanjutnya.
Coda menilai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) membuat pasar tenaga kerja dipenuhi pencari kerja dalam waktu bersamaan. Data Challenger, Gray & Christmas menunjukkan jumlah pengumuman PHK pada Januari 2026 bahkan mencapai level yang terakhir terlihat pada 2009, saat AS dilanda Great Recession.
- Potret Tambang Emas Kaya Raya yang Kini Jadi Kota Hantu di AS
- MUI Haramkan Uang Hadiah Pendaftaran Lomba 17 Agustus, Apa Alasannya?
"Jumlah kandidat benar-benar membeludak," kata Coda.
Fenomena pekerja yang menyerah mencari pekerjaan mulai menjadi perhatian ekonom. Tingkat partisipasi angkatan kerja AS telah berada dalam tren menurun sejak pergantian milenium, antara lain akibat populasi yang menua dan semakin sedikit anak muda yang memasuki dunia kerja.
Pada Juni 2026, tingkat partisipasi angkatan kerja usia produktif 25-54 tahun mencatat penurunan bulanan terbesar, di luar periode pandemi Covid-19, sejak Juni 1976. Sekitar 720.000 orang berhenti bekerja atau mencari pekerjaan hanya dalam periode Mei hingga Juni, menurut data Federal Reserve Bank of St. Louis.
Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union Heather Long mengatakan mereka yang meninggalkan angkatan kerja terdiri dari laki-laki dan perempuan, dengan mayoritas berusia 25-34 tahun. Pada saat bersamaan, pengangguran jangka panjang masih berada pada level tinggi.
Lebih dari 1,9 juta warga AS tercatat menganggur tetapi masih aktif mencari pekerjaan selama lebih dari enam bulan pada Juni. Jumlah tersebut setara dengan sekitar satu dari empat pengangguran di AS.
Kondisi pasar tenaga kerja yang minim perekrutan sekaligus minim PHK atau low-hire, low-fire dikhawatirkan semakin mempersulit pencari kerja mendapatkan pekerjaan dan akhirnya mendorong lebih banyak orang keluar dari angkatan kerja.
Cari Kerja Bikin Mental Tertekan
Tekanan psikologis juga menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian orang berhenti sementara mencari pekerjaan. Selain gelombang pekerja yang memasuki masa pensiun dan berkurangnya imigrasi, ekonom melihat sejumlah kelompok menghadapi persaingan semakin ketat untuk mendapatkan pekerjaan fleksibel atau jarak jauh.
Di antaranya orang tua yang bekerja, terutama ibu dengan anak kecil, serta penyandang disabilitas. Coda sendiri memutuskan menghentikan pencarian pekerjaan setelah berbicara dengan istrinya. Sang istri menyadari proses pencarian kerja yang melelahkan mulai memengaruhi suasana hatinya.
- Malaysia Jadi Surga Pekerja Remote Dunia, Ini Alasannya
- 10 Negara yang Warganya Tak Pernah ke Luar Negeri, RI Termasuk
Direktur Heldrich Center for Workforce Development di Rutgers University Carl Van Horn bahkan menggambarkan kehilangan pekerjaan sebagai salah satu pengalaman yang paling berat bagi seseorang setelah kematian anggota keluarga atau teman dekat.
Survei Resume Genius terhadap 1.000 pencari kerja aktif di AS pada April menemukan sekitar separuh responden mengatakan proses mencari pekerjaan berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka. Penolakan, tidak mendapat respons dari perusahaan, tekanan finansial hingga hilangnya motivasi menjadi beberapa pemicunya.
Situasi tersebut dialami Haina, perempuan berusia 33 tahun yang kehilangan pekerjaan di bidang analisis pemasaran pada November 2025. Setelah lima bulan mencari pekerjaan tanpa hasil, ia menghentikan pencariannya di AS dan kembali ke Inner Mongolia, China, untuk tinggal bersama keluarganya.
Haina mengaku kondisinya mulai membaik setelah mengambil jeda. "Kalau Anda bertemu saya sebulan lalu, saya adalah orang yang benar-benar berbeda. Saya tidak punya energi," katanya.
Kini ia memanfaatkan waktu bersama keluarganya sekaligus memikirkan kembali arah karier dan kehidupannya.
Pilih Kuliah Lagi dan Ganti Karier
Sebagian pencari kerja mengambil jalan berbeda. Alih-alih terus mengirim lamaran, mereka memilih kembali ke bangku pendidikan untuk meningkatkan keterampilan atau berpindah industri.
Fenomena tersebut sebenarnya bukan hal baru. Ketika Great Recession berlangsung pada 2007-2009, jumlah mahasiswa yang kembali kuliah setelah sebelumnya bekerja atau berada di luar pendidikan melonjak 30% antara 2006 hingga 2010 berdasarkan data sensus AS.
Celine Wang, 26 tahun, menjadi salah satunya. Setelah beberapa tahun bekerja sebagai desainer digital, ia meninggalkan pekerjaannya pada 2024 tanpa memiliki pekerjaan baru.
Wang kemudian menghabiskan sekitar satu tahun melamar pekerjaan. Titik balik terjadi ketika ia harus menghadapi proses wawancara hingga putaran kedelapan.
Setelah kembali gagal mendapatkan pekerjaan tersebut, Wang mulai mempertimbangkan pindah ke sektor kesehatan yang dinilai memiliki permintaan tenaga kerja dan stabilitas lebih tinggi. Ia akhirnya mengambil program pendidikan untuk menjadi dental hygienist atau ahli kesehatan gigi di New York City. Wang memulai pendidikannya pada Mei dan menargetkan memperoleh gelar associate of applied science pada akhir 2027.
Sementara bagi Coda, berhenti mencari pekerjaan untuk sementara menjadi kesempatan untuk memulihkan diri. Ia dan istrinya berencana memberikan waktu hingga satu tahun untuk masa jeda tersebut.
Untuk saat ini, Coda mengaku memiliki lebih banyak energi untuk menghabiskan waktu bersama anaknya yang berusia tiga tahun.
"Ini terasa menakutkan, tetapi menyenangkan. Saya pikir ini keputusan yang tepat," katanya.
(hsy/hsy)




