Butiran Abu Ungkap Aroma Rumah Orang Kaya Pompeii 2.000 Tahun Lalu

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bagaimana aroma rumah manusia 2.000 tahun lalu? Pertanyaan tersebut mungkin terdengar mustahil dijawab. Namun, para peneliti kini berhasil mengungkap kembali seperti apa bau yang mungkin memenuhi rumah orang kaya di Pompeii, Italia, sebelum kota tersebut terkubur akibat letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi.

Diterbitkan di jurnal Antiquity, melalui pendekatan yang disebut arkeologi sensorik (sensory archaeology), para peneliti merekonstruksi lanskap aroma atau smellscape masyarakat masa lalu. Hasilnya menunjukkan bahwa bagian dalam rumah orang kaya di Pompeii kemungkinan memiliki aroma kayu dan tanah, dengan sedikit sentuhan aroma citrus.

Dilansir Science Alert, temuan tersebut diperoleh tim peneliti Eropa setelah menganalisis dua tempat pembakaran dupa (censer) berbahan terakota berusia sekitar 2.000 tahun. Kedua benda itu ditemukan beberapa dekade lalu di Pompeii dan kota terdekat, Boscoreale.

Salah satu tempat pembakaran dupa ditemukan di sebuah bangunan yang sedang diubah menjadi penginapan ketika Gunung Vesuvius meletus pada 79 Masehi. Sementara itu, benda lainnya ditemukan masih berada di dalam tempat pemujaan di sebuah vila pedesaan, bersama sejumlah benda ritual lainnya.

Bentuk, hiasan, serta konteks arkeologis kedua wadah tersebut menunjukkan bahwa benda itu digunakan untuk membakar bahan-bahan beraroma dalam ritual keagamaan yang dilakukan di rumah.

Praktik tersebut sebenarnya telah diketahui dari catatan para penulis Romawi kuno. Masyarakat saat itu diketahui memberikan persembahan berupa dupa, anggur, bunga, buah, dan biji-bijian kepada dewa pelindung rumah yang disebut Lares dan Penates.

Salah satu contohnya tercatat dalam buku keempat The Elegies karya penyair Romawi Propertius. Ia menuliskan permintaan untuk memberikan costmary atau tanaman beraroma yang juga kerap digunakan sebagai obat, serta persembahan dupa yang harum.

Namun, hingga kini para arkeolog hanya memiliki sedikit bukti fisik yang dapat memastikan bahan apa yang sebenarnya dibakar dalam ritual tersebut.

Peneliti Bongkar Sisa Pembakaran Dupa

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti melakukan serangkaian analisis kimia terhadap kedua tempat pembakaran dupa. Mereka mengambil sampel berukuran sangat kecil dari bagian tengah dan tepi masing-masing wadah. Bagian permukaan benda sengaja dihindari untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi dari zaman modern.

Sampel tersebut kemudian dianalisis menggunakan tiga metode berbeda. Metode pertama digunakan untuk mencari jejak mineral mikroskopis yang tertinggal setelah tanaman terbakar. Metode kedua mencari phytolith, yakni struktur silika berukuran sangat kecil yang dihasilkan tanaman dan dapat bertahan jauh setelah tumbuhan aslinya membusuk.

Sementara itu, metode ketiga menggunakan kromatografi gas dan spektrometri massa untuk mengidentifikasi jejak molekuler resin, minyak, serta senyawa organik lainnya yang tersisa dari masa lalu.

Hasilnya, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa kotoran hewan kering digunakan sebagai bahan bakar pada kedua tempat pembakaran dupa tersebut. Padahal, praktik itu cukup umum di sejumlah wilayah dunia kuno.

Sebaliknya, kedua wadah justru memiliki banyak jejak mikroskopis yang menunjukkan adanya pembakaran tanaman berkayu. Analisis phytolith menunjukkan bahwa masyarakat Pompeii kemungkinan membakar campuran berbagai jenis tanaman, termasuk pohon ek, laurel, serta tanaman dari keluarga buah berbiji seperti persik dan ceri, bersama berbagai jenis rumput.

Tanaman-tanaman tersebut mungkin digunakan sebagai bahan bakar untuk membakar dupa. Namun, sebagian di antaranya juga kemungkinan sengaja diberikan sebagai persembahan.

Sebagian besar tanaman tersebut tersedia secara lokal di sekitar Pompeii. Temuan ini sejalan dengan penemuan sebelumnya mengenai buah ara yang terbakar, kacang pinus, dan berbagai persembahan tumbuhan lainnya di tempat-tempat pemujaan di Pompeii.

Hal itu semakin memperkuat dugaan bahwa tumbuh-tumbuhan yang ditemui sehari-hari memiliki peran penting dalam praktik keagamaan masyarakat di dalam rumah. Salah satu dari dua tempat pembakaran dupa juga menyimpan temuan yang jauh lebih menarik. Para peneliti menemukan jejak kimia dari resin khusus yang kemungkinan berasal dari wilayah yang sangat jauh dari Pompeii.

Resin tersebut berasal dari keluarga tumbuhan yang sama dengan frankincense atau kemenyan. Namun, berdasarkan analisis, bahan yang digunakan kemungkinan adalah elemi, resin aromatik yang berasal dari jaringan perdagangan luas yang terhubung dengan Kekaisaran Romawi. Temuan ini memberikan gambaran mengenai posisi Pompeii dalam jaringan perdagangan global pada zaman kuno.

Para peneliti memperkirakan resin aromatik dari Arabia, Afrika tropis, dan Asia dibawa ke utara melalui Laut Merah. Bahan tersebut kemudian melewati Alexandria di Mesir sebelum dikirim menuju Italia dan akhirnya sampai ke rumah-rumah masyarakat Pompeii.

Meski penggunaan resin aromatik dari wilayah tersebut telah banyak disebut dalam sumber tertulis kuno, temuan ini menjadi bukti arkeologis langsung pertama bahwa resin aromatik impor dibakar dalam praktik keagamaan rumah tangga di Pompeii.

Penggunaan bahan impor untuk menghasilkan aroma tertentu juga menunjukkan betapa pentingnya wewangian dalam ritual masyarakat saat itu.

Aroma Anggur Juga Mungkin Tercium

Tempat pembakaran dupa yang sama juga mengandung jejak kimia yang kemungkinan berasal dari produk anggur, seperti wine atau cuka. Namun, peneliti mengingatkan bahwa temuan ini harus ditafsirkan dengan hati-hati karena kemungkinan kontaminasi modern belum dapat sepenuhnya dikesampingkan.

Jika jejak tersebut memang berasal dari masa Romawi, temuan itu sangat sesuai dengan praktik keagamaan masyarakat saat itu.

Sejumlah teks kuno menggambarkan adanya ritual pengorbanan awal ketika para pemuja menuangkan anggur sambil membakar dupa. Artinya, sisa abu sederhana yang ditemukan di tempat pembakaran dupa tersebut mungkin menyimpan jejak kimia dari ritual yang dilakukan hampir 2.000 tahun lalu.

Penelitian ini sekaligus menunjukkan bagaimana sesuatu yang begitu sementara seperti aroma asap dapat meninggalkan jejak yang masih bisa dibaca ribuan tahun kemudian. Dengan menganalisis sisa-sisa pembakaran tersebut, para ilmuwan kini dapat membayangkan kembali seperti apa aroma yang mungkin tercium oleh masyarakat Pompeii ketika mereka menjalankan ritual keagamaan di rumah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seluruh Rekomendasi BPK Dituntaskan, BSSN Diminta Jaga Perbaikan Tata Kelola
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dua Pekan Misteri Kematian Satpam di Waduk Jatiluhur Belum Terungkap
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
‎Larangan Suporter Away di Super League Resmi Dicabut Mulai Musim 2026/2027, Begini Penjelasan I.League
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
DPR Usul Ada Badan Pengawas Independen di RUU Perampasan Aset
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Pemprov DKI Jatuhkan Sanksi Rp10 juta kepada Penyedia Jasa Angkut Sampah Nakal
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.