Kotim: Kemarau panjang mulai memengaruhi ketersediaan air tawar di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Selasa, 11 Agustus 2026. Kondisi tersebut terutama dirasakan masyarakat di wilayah Selatan Kotim, di mana air sungai berubah asin dan mulai mengering.
Puncak musim kemarau memicu fenomena intrusi air laut. Akibatnya, debit air tawar dari hulu sungai melemah, sehingga air asin merangsek masuk ke badan sungai dan membuat rasa airnya berubah menjadi payau hingga asin. Kondisi ini mengganggu aktivitas warga dan layanan air bersih.
Perubahan kondisi air sungai mulai dirasakan masyarakat yang tinggal di wilayah selatan Kotawaringin Timur. Air sungai yang sebelumnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari kini sudah tidak bisa digunakan lagi.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, melalui Perumdam Tirta Mentaya, telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 150 ribu liter kepada warga di sembilan desa yang terdampak, di antaranya Desa Jaya Karet, Desa Basirih Hulu, Desa Lempuyang, Desa Basawang, dan Desa Samuda Kota.
Baca Juga :
Kabut Asap Karhutla Selimuti Kota Palembang, Warga Diimbau Gunakan Masker
Direktur Perumdam Tirta Mentaya Kotim, Ismanadi, mengatakan wilayah Selatan Kota Sampit, wilayah Mentaya Hilir Selatan, dan Teluk Sampit terdampak kemarau. Air sungai saat ini sudah mengalami perubahan rasa dan warna menjadi asin dan payau.
"Air bersih disalurkan dan menjadi prioritas untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan," ujar Ismanadi, Rabu, 12 Agustus 2026.
Salah satu tempat yang mendapatkan air bersih adalah Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin di Desa Basirih Hulu. Pengurus ponpes, Marba'i, mengatakan air bersih yang diberikan sangat diperlukan untuk memasak dan minum bagi ratusan santri. Sementara untuk mandi, mereka masih mengambil air sungai meskipun warnanya agak merah dan mulai keruh.
Ilustrasi-kekeringan. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym.
"Air bersih yang diberikan untuk kebutuhan ponpes dan sangat diperlukan dan digunakan untuk memasak dan minum bagi ratusan santri. Sementara air untuk mandi masih mengambil air sungai, walau warnanya airnya agak merah dan mulai keruh," kata Marba'i.
Pemerintah daerah terus berupaya menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah-wilayah terdampak dan mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air di musim kemarau. Masyarakat diimbau untuk menghemat penggunaan air dan melapor jika mengalami kesulitan air bersih.




