Ada Pola-pola Kesengajaan di Balik Karhutla Sumatera

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAMBI, KOMPAS — Tim pemadam mendapati sejumlah pola khas yang menunjukkan indikasi adanya kesengajaan di balik peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang terus meluas di wilayah Sumatera. Temuan ini harus disikapi dengan tegas oleh aparat penegak hukum. Selain itu, upaya penanggulangan kebakaran yang cepat dan terpadu harus dilakukan.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Sumatera Ferdian Krisnanto menyatakan, petugas mendapati pola-pola kesengajaan pembakaran lahan pada temuan titik-titik api baru. Tim Manggala Agni yang rutin berpatroli dan berjibaku memerangi api menemukan kecenderungan banyak muncul titik api baru antara pukul 14.00 hingga 18.00 WIB.

Temuan lainnya, di lokasi kebakaran telah berdiri plang-plang penanda. Di sekitar Kota Palembang dan di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, misalnya, area-area yang mengalami kebakaran terlihat telah dipasangi patok-patok.

Ada pula yang telah dipasangi plang bertuliskan akan dibangun untuk perumahan dan kios. “Kami minta tim penegakan hukum harus bersikap tegas karena polanya sudah jelas terlihat dari peristiwa kebakaran ini,” ujar Ferdian, Rabu (12/8/2026).

Ferdian menambahkan, pihaknya juga mendapati dugaan pembakaran lahan dilakukan pihak tertentu sebagai bagian dari penyiapan lahan untuk monokultur maupun area bisnis. Sebagian besar temuan didapati pada titik-titik api baru di sepanjang Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Jambi dan Palembang.

Pakar Gambut Universitas Jambi Asmadi Saad menilai, ada kecenderungan titik api meluas dengan sangat cepat di areal gambut dalam. Ia mencontohkan, di wilayah Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, api menyebar dengan cepat akibat telah surutnya air di wilayah itu. Di wilayah itu, ketersediaan sekat kanal dan sumur pompa sangat minim.

”Seharusnya sudah sejak awal diaktifkan sekat-sekat kanal agar tinggi muka air di rawa gambut tetap terjaga,” katanya. Dalam kondisi kering, partikel spons gambut menjadi bahan bakaran yang paling cepat tersulut api.

Saat itu, sebanyak 65 personel dikerahkan sepekan terakhir untuk pemadaman di Sungai Gelam. Mereka terdiri atas 30 personel Manggala Agni serta 35 orang dari unsur Satgas Karhutla lainnya seperti TNI, polisi, maupun Masyarakat peduli Api (MPA).

Baca JugaPetaka Jalan Pintas Buka Lahan di Balik Eskalasi Karhutla Sumsel

Koordinator Wilayah Manggala Agni Provinsi Jambi, Rinaldi, mengatakan, petugas masih berjibaku memadamkan api di kawasan yang seluruhnya merupakan lahan gambut tersebut. Untuk membatasi pergerakan api, operasi darat dilakukan dengan bantuan alat berat dari perusahaan di sekitar lokasi.

“Alat berat digunakan untuk membuat sekat bakar,” ujarnya. Selain itu, operasi pemadaman lewat udara dilakukan dengan bantuan dua helikopter.

Gambut dalam

Kebakaran di Sungai Gelam terpantau citra satelit NOAA yang mengidentifikasi indikasi kebakaran mulai muncul sejak 5 Agustus 2026 dan terus meluas dengan cepat. Dalam sepekan terakhir, lahan yang terbakar mencapai sekitar 190 hektar. Lokasi kebakaran berada di kawasan Hutan Produksi Terbatas di Desa Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.

Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Ade Chandra, mendesak perhatian serius para pemangku kepentingan terhadap kebakaran itu. Apalagi, kebakaran terjadi pada ekosistem gambut yang cukup dalam dan berada di kawasan Hutan Produksi Terbatas.

Baca JugaSumatera Berjibaku Lawan Api di Gambut Kering

Data kedalaman gambut dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki kedalaman gambut 200 hingga 300 sentimeter (cm). Kedalaman tersebut menunjukkan karakter ekologisnya yang perlu mendapat perhatian khusus dalam penanganan maupun pencegahan kebakaran.

Ketika gambut mengering dan terbakar, bara apinya dengan cepat menjalar luas di lapisan bawah. Proses pemadaman pun menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama.

Sebaran api sangat cepat dalam rentang sepekan di areal gambut Muaro Jambi, Jambi.

Sebaran api sangat cepat di areal gambut wilayah Sungai Gelam, Muaro Jambi.

Berdasarkan pemantauan tim KKI Warsi, wilayah itu juga pernah mengalami kebakaran pada 2015 dan 2019. “Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama karena kita tidak hanya berhadapan dengan kebakaran vegetasi di permukaan, tetapi dengan ekosistem gambut yang memiliki karakteristik khusus,” ujar Ade.

Selain kedalaman gambut, tim KKI Warsi juga mencermati kondisi jaringan kanal di kawasan tersebut melalui citra satelit. Terlihat adanya jaringan kanal dengan pola dan bentuk yang cukup beragam.

Keberadaan kanal di kawasan gambut perlu mendapat perhatian karena dapat mempengaruhi tata air. Apabila tidak dikelola dengan baik, kanal dapat menyebabkan air keluar dari ekosistem gambut dan menurunkan muka air tanah. Kondisi gambut yang semakin kering pada akhirnya meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran, terutama pada periode kemarau.

Baca JugaKarhutla yang Memicu Krisis Kabut Asap
Tutupan lahan

Dalam kebakaran kali ini, kata Ade, ditemukan juga indikasi perubahan tutupan lahan di kawasan Hutan Produksi Terbatas. Sebelum kawasan ini terbakar, vegetasi yang ada di lahan ini terindikasi sebagai tumbuhan semak belukar dan sebagian dalam bentuk lahan terbuka. Pola ini menunjukkan pembukaan lahan kegiatan perkebunan, dan pada bagian sebelahnya terlihat indikasi tanaman sawit.

Menurut Ade, hal yang perlu menjadi perhatian adalah memastikan kawasan Hutan Produksi Terbatas dikelola sesuai dengan fungsi dan ketentuan yang berlaku. Terlebih kawasan tersebut merupakan ekosistem gambut dalam yang tengah mengalami kebakaran.

Baca JugaEnam Provinsi Prioritas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan

Ade pun mendorong perlunya tim penegakan hukum untuk melakukan verifikasi ke lapangan. Apabila dari hasil verifikasi ditemukan kegiatan yang tidak sesuai dengan ketentuan, pihaknya mendorong agar dilakukan langkah penegakan hukum sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Yang penting bukan hanya menghentikan pembukaan, tetapi memastikan kawasan ini ke depan memiliki pengelolaan yang jelas, bertanggung jawab, dan sesuai dengan fungsi ekologis gambutnya,” ujarnya.

Apalagi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan bahwa risiko karhutla meningkat mulai Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.

Jambi termasuk wilayah yang perlu mendapat prioritas penanganan di Sumatera. Peringatan tersebut perlu menjadi dasar untuk memperkuat langkah pencegahan, bukan hanya menjadi informasi mengenai kondisi cuaca.

“Kombinasi antara gambut yang cukup dalam, kondisi tata air, dan periode risiko karhutla yang tinggi perlu kita sikapi dengan kewaspadaan yang lebih kuat. Jangan menunggu kebakaran meluas baru bergerak,” ungkap Ade.

Kami minta tim penegakan hukum harus bersikap tegas karena polanya sudah jelas terlihat dari peristiwa kebakaran ini

Ade pun mendorong pelibatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gambut untuk aktif memonitor dan mencegah munculnya api. Edukasi tidak hanya berkaitan dengan larangan membakar, tetapi juga mencakup pemahaman mengenai kondisi gambut, risiko ketika gambut mulai mengering, cara membuka lahan tanpa api, serta langkah yang harus dilakukan ketika menemukan titik api.

Masyarakat perlu ditempatkan sebagai bagian dari solusi melalui penguatan kelompok-kelompok siaga seperti Masyarakat Peduli Api, pemantauan bersama, sistem pelaporan dini, dan keterlibatan dalam respons awal ketika terjadi kebakaran.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pasar Domestik RI Masih Jadi Magnet Investor, Apakah Cukup?
• 14 jam lalukompas.id
thumb
Pengguna Gemini Tembus 1 Miliar, Kini Sejajar dengan ChatGPT
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Momen Dedi Mulyadi Cecar Mahasiswa Penabrak Aiptu Asep, Ini Pengakuannya
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Penjualan Bendera Merah Putih Hasilkan Cuan untuk Pedagang Musiman
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kapal KMP Putri Yasmin Terbakar di Selat Lombok, Pelayaran Padangbai–Lembar Gempar
• 12 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.