Grid.ID - Jelang HUT ke-81 RI, perjanjian Roem-Royen menjadi salah satu tonggak penting dalam perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Kesepakatan antara Indonesia dan Belanda ini ditandatangani pada 7 Mei 1949 dan menjadi jalan menuju pengakuan kedaulatan Indonesia.
Perundingan tersebut berlangsung di Jakarta dengan melibatkan delegasi Indonesia yang dipimpin Mohammad Roem dan delegasi Belanda di bawah Jan Herman van Roijen.
Isi Perjanjian Roem-Royen
Kesepakatan Roem-Royen memuat sejumlah pernyataan dari pihak Indonesia maupun Belanda.
Pernyataan Delegasi Indonesia menyatakan kesediaannya untuk:
Menghentikan perang gerilya melalui perintah kepada pasukan bersenjata Republik.Membantu memulihkan perdamaian serta menjaga keamanan dan ketertiban.Mengikuti Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag untuk mempercepat proses penyerahan kedaulatan kepada Indonesia.
Pernyataan Delegasi Belanda menyatakan kesediaannya untuk:
Mengembalikan pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta.Menghentikan operasi militer dan membebaskan para tahanan politik.Tidak membentuk atau mengakui negara baru di wilayah yang sebelumnya dikuasai Republik sebelum Agresi Militer Belanda II.Mengakui Republik Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat.Mengupayakan agar KMB segera digelar setelah pemerintahan RI kembali ke Yogyakarta.
Kesepakatan tersebut kemudian menjadi salah satu tahapan penting menuju pengakuan kedaulatan Indonesia pada Desember 1949.
Mengapa Perjanjian Roem-Royen Dibuat?
Lahirnya Perjanjian Roem-Royen tidak terlepas dari konflik bersenjata setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Situasi semakin memanas setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948.
Belanda berhasil menguasai Yogyakarta yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Republik serta menangkap sejumlah pemimpin Indonesia, termasuk Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Kondisi tersebut memicu kecaman dari dunia internasional.
PBB dan Amerika Serikat Ikut Menekan Belanda
Konflik Indonesia-Belanda mendapat perhatian serius dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui United Nations Commission for Indonesia (UNCI), upaya mediasi dilakukan untuk menghentikan konflik dan mendorong kedua pihak kembali berunding.
Amerika Serikat juga memberikan tekanan diplomatik agar penyelesaian konflik dilakukan melalui jalur perundingan.
Perundingan yang dimulai pada April 1949 sempat mengalami kebuntuan. Indonesia menilai pengembalian pemerintahan Republik ke Yogyakarta dan pembebasan para pemimpin yang ditahan merupakan hal penting sebelum pembahasan lebih lanjut dilakukan.
Mohammad Roem, Tokoh Penting di Balik Perundingan
Sosok sentral dalam perundingan ini adalah Mohammad Roem. Diplomat kelahiran Parakan, Temanggung, 16 Mei 1908, tersebut dikenal terlibat dalam sejumlah perundingan penting pada masa perjuangan kemerdekaan.
Roem pernah terlibat dalam Perundingan Linggarjati, Renville, Roem-Royen, hingga Konferensi Meja Bundar.
Sebelum terjun ke dunia politik, ia sempat menempuh pendidikan di STOVIA dengan cita-cita menjadi dokter.
Namun, ia kemudian meninggalkan sekolah tersebut dan melanjutkan pendidikan di bidang hukum.
Karier politiknya berkembang setelah bergabung dengan Jong Islamieten Bond dan kemudian Sarekat Islam. Dalam pemerintahan Indonesia, Mohammad Roem juga pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri serta Wakil Perdana Menteri.
Roem-Royen Jadi Jalan Menuju Kedaulatan
Perjanjian Roem-Royen menjadi salah satu titik balik dalam perjuangan diplomasi Indonesia. Kesepakatan ini membuka jalan bagi kembalinya pemerintahan RI ke Yogyakarta dan pelaksanaan Konferensi Meja Bundar.
Dari rangkaian diplomasi tersebut, Indonesia akhirnya mencapai tahap penting menuju pengakuan kedaulatan pada akhir 1949.
Karena itu, Roem-Royen tidak hanya menjadi catatan sejarah diplomasi, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan panjang Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Itulah sejarah dari perjanjian Roem-Royen yang menjadi sejarah penting yang tidak ada salahnya kembali diingat di momen jelang HUT ke-81 RI. (*)
Artikel Asli




