HARIAN.FAJAR.CO.ID, TAKALAR – Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye didaulat menjadi narasumber di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Pada kesempatan itu, ia mendorong mahasiswa Fakultas Teknik mempersiapkan diri menghadapi persaingan global menuju Indonesia Emas 2045.
Acara yang digelar oleh mahasiswa Fakultas Teknik Unhas di Sport Hall Unhas, tentu menjadi momentum bagi Daeng Manye mengajak kalangan muda menyambut indonesia menuju Emas mendatang.
Daeng Manye hadir di hadapan ribuan mahasiswa Unhas, termasuk mahasiswa baru Fakultas Teknik, dalam kegiatan yang menjadi ruang berbagi pengalaman dan motivasi.
Dalam kesempatan itu, ia didampingi Dekan Fakultas Teknik Unhas Prof Dr Eng Ir Muhammad Isran Ramli, ST, MT, IPM, AER dan Ketua Umum Ikatan Alumni Teknik Unhas (Ikatek Unhas) Ir Muhammad Sapri Andi Pamulu, MEng, PhD.
Di hadapan mahasiswa, Daeng Manye mengawali materi dengan mengingatkan kebanggaan menggunakan jas merah sebagai identitas mahasiswa Unhas.
“Itu banyak orang yang pengen pakai jas merah itu, tapi susah, sehingga adik-adik bisa menggunakan jas merah hari ini, itu sebuah kebanggaan dan kebahagiaan,” kata Daeng Manye.
Dia kemudian mengajak mahasiswa menjaga almamater sekaligus memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kapasitas diri menghadapi tantangan masa depan.
Daeng Manye juga membawa mahasiswa bernostalgia dengan perjalanan Fakultas Teknik Unhas yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya sebagai mahasiswa angkatan 1986.
Menurutnya, Fakultas Teknik Unhas telah mengalami perkembangan besar dibandingkan ketika dirinya menempuh pendidikan sekitar 40 tahun lalu. Ia menyebut perkembangan tersebut terlihat dari jumlah mahasiswa, program studi dan fasilitas kampus yang semakin luas serta modern.
“Dahulu sekitar 300-400, sekarang 1.600, banyak sekali,” ujarnya saat menggambarkan perkembangan jumlah mahasiswa Fakultas Teknik Unhas.
Daeng Manye juga menyoroti semakin banyaknya perempuan yang memilih Fakultas Teknik, berbeda dengan masa lalu ketika bidang teknik lebih banyak didominasi mahasiswa laki-laki.
Selain perkembangan jumlah mahasiswa, ia menyebut Fakultas Teknik Unhas kini memiliki bidang keilmuan yang semakin beragam, termasuk bidang kecerdasan buatan, perkeretaapian dan tata kota.
Di hadapan mahasiswa baru, Daeng Manye kemudian menghubungkan perkembangan pendidikan dengan tantangan Indonesia menuju 2045. Ia menilai mahasiswa saat ini merupakan generasi yang akan memegang peranan penting di berbagai sektor ketika Indonesia memasuki era Indonesia Emas.
“Kalianlah yang berada pada titik peak puncak dari Indonesia Emas,” tegas Daeng Manye.
Karena itu, ia meminta mahasiswa Fakultas Teknik tidak hanya mengejar kemampuan akademik, tetapi juga membangun kemampuan beradaptasi, berkompetisi dan memberikan kontribusi bagi bangsa.
Daeng Manye kemudian membagikan pengalaman 32 tahun bekerja di industri telekomunikasi sebelum terjun ke pemerintahan dan memimpin Kabupaten Takalar.
Ia mengungkapkan pernah menjabat sebagai CEO salah satu anak perusahaan Telkom di Jakarta serta terlibat dalam berbagai penugasan pembangunan infrastruktur telekomunikasi, termasuk jaringan serat optik menuju kawasan Indonesia Timur.
Pada 2024, Daeng Manye memilih meninggalkan karier profesionalnya dan mengikuti Pilkada Takalar dengan alasan ingin pulang kampung serta membangun daerah.
“Punya niat pulang kampung untuk membangun daerah, saya tinggalkan, saya mengundurkan diri, resign dari jabatan CEO di anak perusahaan Telkom untuk ikut pilkada,” ungkapnya.
Setelah memenangkan Pilkada Takalar dengan perolehan suara yang disebutnya mencapai 71 persen, Daeng Manye kini menjalankan tugas sebagai kepala daerah dengan membawa pengalaman dunia industri ke dalam birokrasi.
Mantan direktur utama PT Telkom Property Indonesia itu mengatakan pengalaman tersebut menjadi modal untuk mendorong transformasi birokrasi di Takalar agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.
Menurutnya, masyarakat saat ini membutuhkan pelayanan pemerintahan yang cepat, mudah, terintegrasi dan tidak lagi bergantung pada proses manual.
“Birokrasi dituntut untuk melakukan perubahan, nggak boleh pakai manual-manual, dokumennya tinggi, satu lemari, dua lemari, ruwet, susah dievaluasi, susah dikendalikan,” katanya.
Ia juga mencontohkan pelayanan administrasi kependudukan yang idealnya dapat dilakukan masyarakat melalui perangkat digital tanpa harus datang langsung ke kantor pemerintahan.
Ia mengatakan transformasi digital tersebut menjadi salah satu tantangan birokrasi yang harus dijawab pemerintah agar pelayanan publik semakin efisien dan mudah diakses.
Selain transformasi birokrasi, Daeng Manye menjelaskan empat fungsi utama pemerintahan, yakni pelayanan, pengaturan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
Ia menyebut pelayanan dasar pemerintah mencakup sektor kesehatan, pendidikan, perumahan, penanganan kemiskinan, infrastruktur dan persoalan sosial.
Sementara pemberdayaan masyarakat diarahkan untuk meningkatkan keterampilan serta kemampuan ekonomi warga dengan mengembangkan potensi daerah seperti rumput laut, perikanan dan sektor produktif lainnya.
Daeng Manye berharap mahasiswa Fakultas Teknik Unhas dapat mengambil pengalaman dan wawasan dari materi yang disampaikannya untuk menjadi calon pemimpin di berbagai bidang.
“Mahasiswa Unhas, mahasiswa Fakultas Teknik, harus memberikan peran dan kontribusi dalam masa itu nanti, dan itu harus dipersiapkan dari sekarang,” tutup Daeng Manye.





