EtIndonesia.com — Zhu Rongji, mantan anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan mantan Perdana Menteri Dewan Negara Tiongkok, meninggal dunia pada 12 Agustus 2026.
Selama memimpin pemerintahan Tiongkok pada 1998–2003, Zhu dikenal sebagai figur yang blak-blakan, keras terhadap korupsi, dan tak segan menegur pejabat di depan publik. Salah satu pernyataannya yang paling terkenal bahkan menyebut dirinya telah menyiapkan 100 peti mati—99 bagi pejabat korup dan satu untuk dirinya sendiri.
Namun, setelah ia meningga dunial, ironi dari pernyataan tersebut kembali mencuat. Korupsi tetap menjadi persoalan yang membelenggu sistem PKT. Kritik terhadap warisan politik Zhu pun bermunculan: ia memang menyiapkan 100 peti mati untuk para koruptor, tetapi dinilai tak pernah menyediakan satu pun untuk sistem politik yang dianggap menjadi akar persoalan.
Zhu menjabat sebagai Perdana Menteri Dewan Negara Tiongkok selama lima tahun. Pada periode itu, ia dikenal mendorong reformasi ekonomi, menangani persoalan BUMN, menyerukan pemberantasan korupsi, serta mengambil sikap keras dalam berbagai persoalan pemerintahan. Gaya kepemimpinannya kemudian membuatnya dijuluki “perdana menteri bertangan besi.”
Murka Melihat “Tanggul Tahu”Salah satu ledakan emosinya terjadi ketika banjir besar melanda kawasan Sungai Yangtze pada 1998. Saat meninjau Jiujiang, Provinsi Jiangxi, Zhu menemukan persoalan serius pada kualitas tanggul pengendali banjir.
Ia langsung melontarkan kecaman kepada pejabat setempat: “Bukankah kalian mengatakan tanggul ini kokoh seperti benteng? Siapa sangka bagian dalamnya ternyata seperti tahu!”
Zhu bahkan menyebut proyek tersebut sebagai “proyek tahu” dan “proyek brengsek”, sembari mengingatkan bahwa “sejarah tidak bisa dibohongi.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan gaya Zhu yang berbeda dari citra pejabat tinggi yang biasanya berhati-hati dalam memilih kata. Ia dikenal tidak segan mempermalukan pejabat yang dianggap gagal menjalankan tanggung jawabnya.
“Saya Tidak Menakut-nakuti Rakyat”Pada 2002, Zhu juga menanggapi kritik bahwa dirinya gemar menggebrak meja dan melotot ketika marah.
Ia mengakui: “Meja memang pernah saya gebrak, mata juga pernah saya pelototkan.”
Namun, ia menegaskan: “Saya tidak pernah menakut-nakuti rakyat. Saya hanya menakut-nakuti pejabat yang korup.”
Ucapan itu kemudian menjadi salah satu gambaran paling terkenal mengenai karakter Zhu sebagai pejabat yang mengedepankan pendekatan keras terhadap korupsi dan birokrasi yang dianggap bermasalah.
“Kalau Hong Kong Rusak, Kami Jadi Pendosa Bangsa”Dalam kunjungannya ke Hong Kong pada 2002, Zhu juga melontarkan pernyataan yang kini kembali sering dikutip.
“Jika Hong Kong tidak dikelola dengan baik, bukan hanya kalian yang bertanggung jawab, kami juga bertanggung jawab. Hong Kong telah kembali ke tanah air dan kemudian rusak di tangan kami. Bukankah kami akan menjadi pendosa bangsa?”
Di akhir pidatonya, Zhu bahkan meneriakkan: “Saya mencintai Hong Kong.”
Pernyataan tersebut kembali menjadi sorotan setelah Hong Kong mengalami perubahan politik besar di bawah kepemimpinan Xi Jinping. Gerakan Payung pada 2014 dan gerakan menentang RUU ekstradisi pada 2019 menghadapi tindakan keras pemerintah, sementara ruang politik dan kebebasan sipil di Hong Kong semakin menyempit.
Karena itu, pernyataan Zhu mengenai tanggung jawab Beijing terhadap masa depan Hong Kong kerap digunakan sebagai pembanding dengan kebijakan pemerintahan Xi Jinping.
“100 Peti Mati” untuk KoruptorNamun, pernyataan Zhu yang paling melekat dalam ingatan publik adalah ancamannya terhadap korupsi.
Pada awal masa jabatannya, ia pernah mengatakan dalam sebuah pertemuan pemberantasan korupsi:
“Memberantas korupsi berarti memburu harimau terlebih dahulu, kemudian serigala. Terhadap harimau, kita tidak boleh memberi toleransi atau bersikap lunak. Saya sudah menyiapkan 100 peti mati—99 untuk pejabat korup dan satu untuk diri saya sendiri.”
Kalimat itu menjadi simbol citra Zhu sebagai “perdana menteri bertangan besi”—seorang pejabat yang mengaku siap mempertaruhkan dirinya dalam perang melawan korupsi.
Tetapi kematiannya kembali memunculkan pertanyaan yang lebih besar: sejauh mana perang melawan korupsi tersebut benar-benar mampu mengubah sistem?
Reformasi yang Menyelamatkan Sistem, tetapi Menimbulkan KorbanDi balik citra kerasnya, warisan Zhu juga tidak lepas dari kritik.
Salah satu kebijakan paling kontroversial adalah reformasi BUMN. Kebijakan tersebut membantu pemerintah mengurangi beban ekonomi yang ditanggung negara dan mendorong restrukturisasi ekonomi, tetapi juga memicu gelombang PHK besar-besaran. Banyak pekerja kehilangan pekerjaan dan keluarga kelas bawah harus menghadapi tekanan ekonomi berat.
Karena itu, sebagian analis menilai reformasi Zhu bukanlah upaya untuk mengubah fondasi sistem PKT, melainkan justru membuat sistem tersebut lebih mampu bertahan.
Dengan kata lain, reformasi yang dilakukan Zhu dinilai bukan membongkar kapal yang bocor, melainkan menambalnya agar tetap mengapung.
“Tukang Tambal” Kapal PKTAkun X “Deep Slice” menilai seluruh tindakan Zhu yang disebut sebagai langkah “besar-besaran” pada akhirnya hanya menjadikannya “tukang tambal” kapal bobrok Partai Komunis Tiongkok.
Menurut pandangan tersebut, jika Zhu benar-benar memiliki keberanian untuk mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan Tiongkok, ia seharusnya tidak hanya memperbaiki bagian-bagian yang rusak dalam sistem. Ia seharusnya mempertanyakan fondasi sistem itu sendiri.
Kritik itu bermuara pada sebuah kesimpulan yang tajam: Zhu Rongji memang pernah berbicara tentang 100 peti mati, tetapi dalam pandangan para pengkritiknya, tak satu pun disediakan untuk sistem politik yang mereka anggap sebagai sumber persoalan.
Warisan Zhu Rongji, dengan demikian, tetap menjadi paradoks: seorang perdana menteri yang dikenal keras terhadap korupsi dan berani menggebrak meja, tetapi reformasinya justru dinilai turut membantu memperpanjang usia sistem yang ia pimpin.
Sumber : NTDTV.com





