Maju di Muktamar NU, Gus Rozin Keliling Daerah Menawarkan Konsep Poros Tengah

jpnn.com
7 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menempuh jalan silaturahmi dan dialog dengan pengurus NU di seluruh tanah air, setelah menyatakan maju sebagai calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Sejumlah wilayah yang telah dikunjunginya antara lain Bengkulu, Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara. Kunjungan itu untuk menyampaikan visi, misi, dan agenda strategis yang ditawarkan guna membawa Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua, sekaligus menyerap aspirasi dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di berbagai daerah.

BACA JUGA: Ini Tampang Tersangka Pembunuh Kepala KUA di OKU Selatan

Bagi Gus Rozin, pencalonan ketum PBNU bukan semata-mata kontestasi personal untuk memperebutkan kepemimpinan organisasi. Menurutnya, langkah tersebut harus menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, mendengar persoalan dari bawah, dan mencari jalan keluar atas berbagai tantangan yang dihadapi jam’iyyah.

Dalam setiap pertemuan dengan pengurus NU di daerah, Gus Rozin membawa tiga gagasan utama, yakni membangun poros tengah untuk merawat ukhuwah dan mengakhiri polarisasi, memperkuat NU sebagai rumah besar masyarakat sipil keagamaan, serta membangun NU yang mandiri dan berdaulat dengan bertumpu pada kekuatan jemaah.

Salah satu gagasan yang terus disampaikan Gus Rozin adalah pentingnya membangun poros tengah sebagai jalan keluar dari dinamika dan ketegangan yang berkembang di internal NU.

Menurutnya, NU tidak boleh membiarkan perbedaan pandangan berkembang menjadi polarisasi yang berkepanjangan. Perbedaan merupakan hal yang wajar dalam organisasi, tetapi ketika berubah menjadi konflik yang mengganggu persatuan jam’iyyah, diperlukan kebijaksanaan dan keberanian untuk mencari jalan tengah.

"Poros tengah bukan poros untuk berhadapan dengan siapa pun. Poros tengah adalah jalan untuk mempertemukan berbagai pihak, meredakan ketegangan, dan mengembalikan NU kepada kepentingan yang lebih besar, yaitu ukhuwah Nahdliyah dan keberlanjutan khidmah jam’iyyah," kata Gus Rozin, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (13/8/2026).

Putra KH Sahal Mahfudh itu menegaskan bahwa poros tengah harus menjadi ruang bersama, bukan kelompok baru yang justru menambah fragmentasi di tubuh NU. Gus Rozin menyadari bahwa memilih posisi sebagai poros tengah memiliki konsekuensi di tengah munculnya berbagai nama dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.

Karena itu, dia memilih mendatangi berbagai wilayah, bertemu PWNU dan PCNU, serta berdialog langsung dengan para kiai dan pengurus NU. Pesan yang dibawanya sederhana, yakni sebelum menentukan siapa yang akan memimpin, NU perlu terlebih dahulu menyepakati ke mana organisasi hendak dibawa.

Gagasan kedua yang dikembangkan Gus Rozin adalah mengembalikan dan memperkuat posisi NU sebagai masyarakat sipil keagamaan. Menurutnya, NU memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan masyarakat yang tumbuh dari bawah melalui pesantren, masjid, madrasah, majelis taklim, lembaga pendidikan, badan otonom, komunitas, serta berbagai jaringan sosial-ekonomi warga.

Karena itu, kedekatan NU dengan pemerintah tidak boleh membuat organisasi kehilangan akar sosial dan daya kritisnya. "NU harus menjadi sahabat pemerintah. Sahabat bisa mendukung, tetapi sahabat juga harus berani mengingatkan ketika ada kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat," tuturnya.

Dalam pandangan Gus Rozin, NU harus tetap menjalankan fungsi pemberdayaan, advokasi, pendidikan publik, penguatan ekonomi, dan pengawasan sosial.

Gagasan ketiga yang menjadi perhatian Gus Rozin adalah membangun NU yang mandiri dan berdaulat dengan bertumpu pada kekuatan jemaah. Dia menilai karakter NU berbeda dengan organisasi yang terlebih dahulu membangun struktur kemudian mengumpulkan jemaah.

NU justru memiliki jemaah terlebih dahulu, kemudian jam’iyyah dibangun untuk mengorganisasi kekuatan jemaah tersebut. Karena itu, sumber kekuatan NU sesungguhnya berada di bawah, yakni di ranting, anak ranting, pesantren, keluarga nahdiyin, petani, nelayan, pelaku UMKM, pekerja, profesional, dan berbagai kelompok masyarakat yang menjadi basis sosial NU.

"Di NU jemaahnya dulu ada, lalu jam’iyyahnya terbangun. Karena itu, kalau ingin membangun NU yang mandiri, harus kembali kepada kekuatan jemaah," ucap Gus Rozin

Menurutnya, kemandirian tidak hanya menyangkut pembiayaan organisasi, tetapi juga mencakup pengelolaan aset, pengembangan ekonomi jamaah, penguatan pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kemampuan organisasi mengambil keputusan secara independen.

Dalam kerangka itu, ia menawarkan penguatan gerakan gotong royong jemaah, optimalisasi aset dan sumber daya NU, pengembangan ekonomi Nahdliyin, serta penguatan instrumen partisipasi warga seperti KOIN NU.

Rangkaian silaturahmi ke berbagai daerah juga menjadi bagian dari proses menyusun agenda NU yang berbasis pengalaman dan kebutuhan nyata di lapangan.

Dalam dialog dengan PWNU dan PCNU, berbagai persoalan mengemuka, mulai dari penguatan ranting dan MWCNU, pesantren, kaderisasi, ekonomi jemaah, tata kelola organisasi, digitalisasi, hubungan dengan pemerintah, hingga kebutuhan agar program PBNU benar-benar dirasakan oleh warga di tingkat akar rumput.

Dari berbagai dialog tersebut, Gus Rozin menawarkan tiga arah besar transformasi NU abad kedua, yaitu berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.

Berdaulat berarti NU mampu mengelola organisasi, aset, dan sumber dayanya secara amanah dan profesional. Bermartabat berarti NU menjaga marwah ulama, pesantren, tradisi Aswaja, integritas kepemimpinan, persatuan organisasi, serta hubungan yang sehat dengan negara.

Sementara, bermanfaat berarti keberadaan NU harus benar-benar dirasakan oleh jamaah dan masyarakat melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, layanan sosial, ilmu pengetahuan, teknologi, pertanian, perikanan, lingkungan hidup, hingga advokasi masyarakat.

Menurut Gus Rozin, Muktamar NU ke-35 bukan sekadar memilih siapa yang akan memimpin PBNU, melainkan menentukan bagaimana NU memasuki abad kedua dengan tetap menjaga persatuan, memperkuat kemandirian, dan menghadirkan kemaslahatan bagi jemaah, bangsa, dan kemanusiaan.(Fat/JPNN)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menanti Pertarungan Kaesang vs Puan di Dapil Neraka
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Foto: Menkes Budi Gunadi Pantau Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Ponpes
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
PN Jakarta Timur Tunda Sidang Pembacaan Dakwaan Dokter Tifa 2 Pekan
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Rupiah Hari Ini Ditutup Tak Bertenaga ke Rp17.877 per USD
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
3 Saham Prajogo Pernah Didepak MSCI, Bagaimana Kinerja Keuangannya?
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.