Sanae Takaichi Perdana Menteri Jepang mendesak Masoud Pezeshkian Presiden Iran untuk menjamin pelayaran bebas tanpa pungutan di Selat Hormuz, dengan meminta kelompok Houthi di Yaman agar menahan diri.
Takaichi membagikan percakapan yang dia lakukan dengan Presiden Iran di media sosial X. Dalam unggahan itu, Takaichi menekankan pentingnya menurunkan eskalasi ketegangan militer dan meredakan situasi, terlebih di saat Iran melanjutkan dialog dengan negara-negara terkait untuk membuka Selat Hormuz.
Dia menyampaikan pandangan Jepang agar Amerika Serikat dan Iran berunding kembali dengan menjadikan Memorandum Islamabad sebagai acuan demi mencapai kesepakatan akhir sedini mungkin, termasuk dalam isu nuklir.
Takaichi juga menyampaikan harapannya yang kuat agar de-eskalasi situasi melalui diplomasi dapat dicapai segera.
“Selat Hormuz harus terus terbuka untuk pelayaran yang bebas dan aman tanpa biaya tambahan, khususnya negara pengguna Selat Hormuz,” katanya, melansir Antara, Kamis (13/8/2026).
Dia juga menyampaikan kekhawatiran akan situasi di Selat Bab Al-Mandeb serta mendesak langkah-langkah diambil untuk mendorong kelompok Houthi di Yaman untuk menahan diri. Bab Al-Mandeb yang terletak di sisi barat Jazirah Arab merupakan pintu masuk ke Laut Merah.
Di samping itu, Takaichi mendesak agar Iran segera menyelesaikan kasus seorang warga negara Jepang yang dibebaskan dengan jaminan di Iran pada April lalu.
Kepada PM Jepang, Presiden Iran menjelaskan status dan proyeksi ke depan soal dialog dengan Oman terkait Selat Hormuz.
Adapun mengenai isu Selat Bab Al-Mandeb, Pezeshkian memastikan langkah-langkah sudah diambil untuk menyelesaikan isu tersebut melalui dialog, termasuk dengan Arab Saudi.
AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman perdamaian pada 17 Juni dan menyelenggarakan perundingan demi mencapai kesepakatan akhir.
Akan tetapi, pembicaraan tersebut gagal karena perselisihan terkait jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, salah satu rute pelayaran paling strategis untuk distribusi pasokan dan perdagangan energi global.
Pada 8-24 Juli, AS dan Iran kembali saling serang, dengan Washington melakukan serangan terhadap wilayah Iran dan Teheran membalas dengan menyerang aset-aset dan fasilitas militer AS di sejumlah negara Arab, seperti Yordania, Bahrain, dan Kuwait.(ant/kir/ipg)




