Bank Indonesia (BI) terus mendorong penguatan konektivitas antara industri halal dan sektor keuangan syariah guna memperluas akses pembiayaan bagi korporasi.
Langkah strategis ini dinilai penting untuk mendukung investasi serta ekspansi usaha yang kompetitif, inovatif, dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan oleh Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti, dalam Forum Strategis Pembiayaan Syariah untuk Ekspansi Korporasi yang mengusung tema “Unlocking Corporate Growth Through Sharia Finance” di Jakarta, Selasa (12/8).
Dalam rangkaian forum tersebut, BI juga menggelar agenda pertemuan bisnis (business matching) yang mempertemukan 20 Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) dengan 51 korporasi.
Pertemuan ini bertujuan menjajaki solusi pembiayaan yang paling sesuai dengan kebutuhan ekspansi masing-masing perusahaan.
Kegiatan strategis ini turut didukung dan dihadiri oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Perindustrian, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), serta Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.
“Pembiayaan syariah perlu menjadi pilihan strategis dan kompetitif bagi investasi dan ekspansi korporasi. Untuk itu, perlu dibangun pipeline pembiayaan yang bankable, terukur, dan berkelanjutan, diperkuat pendalaman pasar keuangan syariah dan intermediasi, serta kolaborasi antara korporasi, industri keuangan syariah, regulator, kementerian, lembaga, dan asosiasi,” ujar Destry melalui keterangan resminya, Rabu (13/8).
Destry juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas serta inovasi instrumen pembiayaan. Menurutnya, penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan sistem pemantauan yang baik sangat diperlukan untuk memperbesar porsi pembiayaan bagi sektor korporasi.
Sementara itu, Kepala Badan Ekonomi Syariah KADIN Indonesia, Titi Khoiriah, menilai bahwa ketersediaan pembiayaan syariah berjangka panjang dengan skema serta tenor yang fleksibel sangat dibutuhkan untuk menopang ekspansi korporasi secara berkesinambungan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Hubungan Bisnis Asbisindo sekaligus Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Bob Tyasika Ananta, menambahkan bahwa pembiayaan berbasis ekosistem dapat menjadi strategi kunci untuk menghubungkan korporasi dengan jaringan rantai pasok.
Menurutnya, pendekatan ekosistem tersebut dapat membantu perbankan syariah dalam memperluas penyaluran modal kerja sekaligus membangun hubungan kemitraan jangka panjang dengan para pelaku usaha di sektor riil.
Kinerja dan Pertumbuhan Industri
Peluang ekspansi pembiayaan syariah ini juga didukung oleh fundamental industri yang terus menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data per Juni 2026, pembiayaan perbankan syariah tercatat mencapai Rp 720 triliun atau tumbuh 11,43 persen secara tahunan (year-on-year / yoy).
Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) menyentuh angka Rp 816 triliun atau meningkat 13,13 persen yoy.
Pada periode yang sama, sektor rantai pasok halal tumbuh sebesar 5,5 persen, sedangkan nilai outstanding sukuk korporasi tercatat berada di kisaran Rp 95 triliun.
Ke depan, BI bersama para pemangku kepentingan berkomitmen untuk terus memperluas akses pembiayaan melalui program Bulan Pembiayaan Syariah dan Percepatan Intermediasi Indonesia.
Berbagai inisiatif ini diarahkan untuk mengakselerasi penyaluran pembiayaan ke sektor riil sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.





