Dari Angkringan-Kali Code, PSIM Ceritakan Jogja Lewat Pengumuman Pemain Baru

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pengumuman pemain baru biasanya cukup ditandai dengan jersey klub, tanda tangan kontrak, atau video perkenalan seadanya. PSIM Jogja memilih cara berbeda pada musim 2026/2027.

Para pemain baru diperkenalkan melalui ruang-ruang yang menyimpan cerita tentang Yogyakarta dan PSIM.

Konsep tersebut membawa sejarah dan kultur lokal ke dalam konten pengenalan pemain. PSIM tidak sekadar memperkenalkan wajah baru, tetapi juga ingin menunjukkan sisi Yogyakarta yang lebih luas dari ikon Tugu.

Media Official PSIM, Irza Triamanda, mengatakan konsep tersebut berangkat dari keinginan klub untuk memperlihatkan sisi lain Yogyakarta.

“Kita dari PSIM itu ingin menjelaskan bahwa di Jogja ini tuh enggak cuma Tugu,” kata Irza saat bercerita ke Pandangan Jogja, Selasa (11/8).

Mauro Caballero dan Sepak Bola di Kali Code

Salah satu konsep tersebut terlihat saat PSIM memperkenalkan Mauro Caballero di kawasan Kali Code. Striker asal Paraguay itu tidak hanya tampil dalam video pengenalan, tetapi juga berinteraksi dengan anak-anak yang bermain sepak bola di kawasan tersebut.

Latar angkringan turut digunakan dalam konten tersebut. Bagi PSIM, Kali Code menggambarkan sisi Yogyakarta yang tidak selalu terlihat, sementara angkringan menjadi salah satu ruang yang lekat dengan kehidupan masyarakat kota.

Caballero sendiri datang dengan pengalaman bermain di sejumlah kompetisi Eropa. Ia pernah memperkuat Porto B, Penafiel, Aves, Vaduz, Arouca, hingga Académica de Coimbra sebelum melanjutkan karier di sejumlah negara lain.

Irza mengatakan keberadaan anak-anak dalam konten tersebut sekaligus menggambarkan potensi sepak bola yang tumbuh dari ruang-ruang masyarakat.

“Di Kalicode itu kita mau usung tema kan ada tuh main sama anak-anak. Bahwa di sisi yang kayak nggak dikenal orang di Jogja itu tuh banyak bakat-bakat untuk mereka bermain sepak bola calon-calon atlet mungkin. Terus di angkringan itu salah satu ikoniknya Kota Jogja juga,” katanya.

Adrian Dalmau Membawa Cerita Sejarah Kotabaru

Konsep berbeda digunakan ketika PSIM memperkenalkan Adrian Dalmau. Penyerang asal Spanyol itu diperkenalkan di kawasan Kotabaru yang memiliki nilai sejarah bagi Yogyakarta.

Dalmau datang dengan pengalaman panjang di sepak bola Eropa. Ia pernah memperkuat Villarreal B, Mallorca, Heracles Almelo, FC Utrecht hingga Sparta Rotterdam.

Salah satu catatan terbaiknya terjadi bersama Heracles Almelo pada Eredivisie 2018/2019. Dalmau mencetak 19 gol dan finis sebagai pencetak gol terbanyak ketiga kompetisi, di bawah Dušan Tadić dan Luuk de Jong yang sama-sama mengoleksi 28 gol.

Pemilihan Kotabaru juga berkaitan dengan keberadaan Stadion Kridosono yang memiliki sejarah dalam perjalanan sepak bola Yogyakarta.

“Di Kota Baru ini salah satu tempat yang bersejarah gitu dan engage-lah dengan historical PSIM. Di Kota Baru ini ada Stadion Kridosono gitu. Jadi kita ingin memperkenalkan ke mereka lah bahwa historical Jogja itu panjang, enggak cuma tugu,” ujar Irza.

Mandala Krida Jadi Penutup

Rangkaian announcement kemudian ditutup dengan pengenalan Marvin Loria di Stadion Mandala Krida.

Pemain asal Kosta Rika itu memiliki pengalaman bermain di Major League Soccer bersama Portland Timbers. Sebelumnya, Loria merupakan produk Saprissa dan sempat menjalani masa peminjaman di Benfica B.

Mandala Krida sengaja ditempatkan sebagai lokasi terakhir. Jika Kali Code membawa cerita tentang masyarakat dan Kotabaru mengangkat sejarah, Mandala Krida menjadi simbol rumah bagi PSIM.

“Yang terakhir itu kami mengusung Mandala emang kita sengaja taruh di terakhir karena kita mau ibarat kata apa ya? Ini tuh rumah kita. Jadi kita pengen bahwa ya inilah Mandala adalah ikonik dengan PSM. Ini adalah rumah kita,” ujar Irza.

Melibatkan Suporter dan Manajemen

Konsep announcement tersebut tidak dikerjakan tim kreatif secara terpisah. Irza mengatakan tim media PSIM berkolaborasi dengan Dana dalam pengembangan konsep serta berkoordinasi dengan manajemen dan menerima masukan dari suporter.

“Jadi kita sebelum mau take video meskipun kita ada tim kreatif ya, kita tuh selalu kayak, ‘Eh, kita ada ini nih, kayak gini konsepnya, ada masukan nggak ya?’ Gitu-gitu. Jadi kita selalu bareng-bareng dari tim media dan kita juga dengerin dari misal ada teman-teman suporter ngasih info lewat kita atau dari teman-teman manajemen gitu,” katanya.

Rangkaian konten itu akhirnya membawa tiga cerita berbeda tentang Yogyakarta dalam pengenalan pemain PSIM: Kali Code dengan kehidupan masyarakat dan sepak bolanya, Kotabaru dengan sejarah kota dan PSIM, serta Mandala Krida sebagai rumah Laskar Mataram.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Kelemahan Timnas Indonesia Masih Diungkit Media Vietnam dan Disamakain Malaysia
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
BCA, BRI, dan Bank Mandiri Masuk 3 Besar di Daftar Fortune Indonesia 100
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
Korban Tewas Akibat Gempa Capai 265 Orang, Kolombia Umumkan 3 Hari Berkabung Nasional
• 10 jam laluokezone.com
thumb
Prabowo Sebut Negara Harus Hadir untuk Rakyat di Daerah Terpencil
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Ketika Banjir 4 Tahun di Kampung Bulak Barat Depok Akhirnya Surut...
• 11 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.