Sungai Mahakam Surut, Sekarung Beras Tembus Rp 1 Juta

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

BALIKPAPAN, KOMPAS - Memasuki puncak musim kemarau, Sungai Mahakam di Kalimantan Timur surut. Imbasnya, distribusi ke daerah hulu sungai di Kabupaten Mahakam Ulu tersendat. Kondisi ini memicu harga bahan pokok dan penting melonjak drastis.

“Harga beras satu karung (25 kilogram) sudah Rp 1 juta yang sebelumnya Rp 700.000. Gas elpiji 3 kilogram di warung Rp 300.000 dari sebelumnya Rp 100.000,” kata Khahar (33), warga Desa Long Pahangai 1, Kecamatan Long Pahangai, melalui sambungan telepon, Kamis (13/8/2026).

Desa Long Pahangai 1 terletak di hulu Sungai Mahakam. Desa ini hanya bisa dicapai dengan mudah menggunakan perahu. Naiknya harga bahan pokok dan penting itu, kata dia, mulai terjadi sejak pertengahan Juli 2026 saat hujan mulai jarang turun dan air Sungai Mahakam menyusut.

Imbasnya, bebatuan di sungai terlihat ke permukaan. Di beberapa titik, dasar sungai terlihat sehingga jalur air terputus. Kondisi itu membuat perahu tak bisa melintas.

Perahu yang biasanya mengangkut berbagai sembako dari Samarinda, pusat pemerintahan Kaltim, tak bisa melintas sampai ke hulu. Sebenarnya, kata Khahar, terdapat pembukaan jalan menuju Kecamatan Long Pahangai.

“Tapi jalannya berupa tanah bergelombang dan berlubang. Di beberapa titik juga ada anak sungai yang jembatannya rusak. Ongkos angkut mahal karena butuh bensin banyak. Waktu tempuh lebih dari 8 jam perjalanan dari pusat kabupaten,” ujar Khahar.

Kayu bakar

Kondisi tersebut juga berdampak terhadap tersendatnya distribusi bahan bakar minyak (BBM). Warga saat ini kesulitan mendapatkan bensin, baik di distributor resmi maupun eceran.

“Bensin Pertalite eceran di sini Rp 30.000 per liter, sebelumnya Rp 12.000 per liter,” kata Khahar.

Kondisi itu membuat warga sangat berhemat. Mereka lebih memilih memasak menggunakan kayu bakar agar bisa membeli kebutuhan pokok. Sebagian lainnya memilih memasak sayur rebus ketimbang menggoreng karena minyak pun mahal.

Kondisi BBM jenis solar pun sama. Padahal, warga menggunakan genset komunal berbahan bakar solar untuk pembangkit ilstrik di Kecamatan Long Pahangai. Khahar menyebut, listrik di sekolah tempatnya mengajar kerap terputus tiba-tiba.

Hal itu, kata dia, mengganggu kegiatan belajar mengajar. Selain itu, beberapa perlengkapan elektronik di sekolah ada yang korsleting akibat terputusnya aliran listrik secara tiba-tiba.

Baca JugaSungai Mahakam Kian Surut, Warga Long Apari Terancam Krisis Pangan

Persoalan ini juga dihadapi oleh warga Kecamatan Long Apari, permukiman warga yang berada di paling hulu Sungai Mahakam. Agustinus Lejiu (48), warga Desa Long Apari, Kecamatan Long Apari, mengatakan bahwa ini merupakan peristiwa tahunan.

Ia menilai pemerintah semestinya bergerak cepat memitigasi kemarau yang datang saban tahun. Untuk jangka panjang, kata dia, diperlukan jalur darat agar memudahkan mobilitas barang dan orang ke wilayah yang berbatasan dengan Malaysia tersebut.

”Kami sudah berulang kali menyampaikan, harus ada jalur darat ke Long Apari. Kalau tidak begitu, tiap tahun kita menderita. Padahal, katanya, kita sudah merdeka lebih dari 80 tahun,” ucap Agustinus.

Intervensi harga

Menanggapi kondisi masyarakat di hulu Sungai Mahakam, Wakil Bupati Mahakam Ulu, Suhuk, mengatakan, pihaknya sudah melepas tim yang berangkat ke wilayah terdampak sejak 8 Agustus 2026. Sedikitnya terdapat 700 paket bahan pokok dengan harga eceran tertinggi yang bisa dibeli masyarakat.

Satu paket berisi beras premium 5 kilogram, gula pasir 1 kilogram, dan minyak goreng 2 liter. Harga setiap paket Rp 160.000. Paket itu telah didistribusikan di dua kampung, yakni Kampung Tiong Ohang dan Kampung Long Apari.

Penyaluran kebutuhan pokok serupa akan terus dilaksanakan hingga Desember 2026. Secara bertahap, paket itu akan dikirim ke daerah terdampak lain untuk intervensi harga. 

“Agar pasokan kebutuhan pokok tetap tersedia dan harganya tetap terjangkau,” kata Suhuk.

Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan mengoptimalkan penyaluran BBM ke wilayah Kabupaten Mahakam Ulu melalui pengaturan distribusi, pemantauan stok, serta koordinasi lintas sektor. Pengiriman dilakukan dari Samarinda.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan, dari hasil koordinasi dengan pemerintah dan kondisi lapangan, BBM di Mahakam Ulu masih tersedia di lembaga penyalur. 

Tantangannya adalah pengangkutan melalui jalur sungai menuju wilayah paling hulu. Pada jalur sungai yang terputus, kata dia, drum BBM diestafet ke perahu yang lebih kecil agar bisa diangkut bertahap ke hulu Sungai Mahakam.

"Di tengah kondisi akses yang terdampak, Pertamina melakukan pengaturan distribusi dan koordinasi secara intensif agar stok yang tersedia dapat disalurkan secara optimal sesuai kondisi jalur dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah,” lanjutnya. 

Baca JugaTak Ingin Menderita Saat Sungai Surut, Warga Mahakam Ulu Tunggu Janji Jalan Layak


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov Sumut Dorong Penguatan Kolaborasi Antarprovinsi se-Sumatera untuk Percepat Pertumbuhan Kawasan
• 22 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Imigrasi Buka Suara soal WN Israel Bisa Masuk dan Tinggal di Bali
• 21 jam laluokezone.com
thumb
Laboratorium Akta FHUI Jadi Ruang Belajar Praktik Kenotariatan bagi Mahasiswa
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kemenkop Tegaskan Hilirisasi Sawit Berbasis Koperasi, LPDB Koperasi Siapkan Dukungan Pembiayaan
• 7 jam laludisway.id
thumb
Kebakaran Gunung Bromo Meluas hingga Bukit Cinta
• 20 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.