El Nino, atau fenomena alam ketika suhu air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi jauh lebih panas dari biasanya, diprediksi bertahan hingga kuartal pertama 2027. Fenomena ini berpotensi memperpanjang kekeringan, menunda musim hujan, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan.
Dampak El Nino mulai terlihat di sejumlah daerah di Indonesia. Jawa Barat, misalnya, menghadapi kekeringan yang semakin meluas dan mengganggu akses masyarakat terhadap air bersih.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat pada Kamis (13/8/2026), kekeringan telah menjangkau 167 kecamatan serta 361 desa atau kelurahan di 25 kabupaten dan kota.
Sebanyak 151.323 keluarga atau 485.768 jiwa terdampak krisis air bersih. Sementara itu, terdapat 90 kejadian kebakaran yang melanda 130 hektar lahan di Jabar dalam 1,5 bulan.
Nemin, warga Desa Parungmulya, Kabupaten Karawang, mengatakan, ia terpaksa menggali kubangan kecil di dasar sungai demi mendapatkan air. Air yang keluar dari kubangan tersebut kemudian ditampung menggunakan ember.
”Saya menggunakan air ini untuk memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci sehari-hari,” ujarnya.
Kondisi di Jabar tersebut menjadi salah satu contoh dampak kemarau yang berlangsung ketika kondisi iklim Indonesia bergerak menuju periode kering yang lebih panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Juli 2026 sebagai bulan Juli dengan curah hujan terendah di Indonesia sejak 1991.
Sekitar 69,18 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah pada Juli. Sebanyak 82,72 persen wilayah juga mengalami sifat hujan bawah normal.
Direktur Perubahan Iklim BMKG A Fachri Radjab menjelaskan, kondisi tersebut dalam talkshow interaktif bertajuk ”El Nino Sangat Kuat dan Potensi Dampaknya di Indonesia” yang digelar Pusat Perubahan Iklim (PPI) Institut Teknologi Bandung pada Kamis (13/8/2026).
Fachri mengatakan, kondisi kemarau 2026 perlu menjadi perhatian karena puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus dan September. Hingga 2 Agustus 2026, BMKG juga mencatat 5.690 titik panas di berbagai wilayah Indonesia.
Adapun BMKG menempatkan sejumlah wilayah sebagai prioritas pemantauan karhutla. Wilayah tersebut antara lain Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.
”BMKG memproyeksikan 437 zona musim atau 48,77 persen luas daratan Indonesia mengalami durasi kemarau lebih panjang dibandingkan kondisi normal,” ujarnya.
Kepala Pusat Perubahan Iklim ITB Profesor Djoko Santoso memaparkan, fenomena El Nino memiliki durasi yang cukup panjang. Fase El Nino di Pasifik tahun ini diprediksi bertahan 8-9 bulan, dari pertengahan 2026 hingga kuartal pertama 2027.
Menurut dia, dampak yang perlu diwaspadai adalah keterlambatan awal musim hujan dan berkurangnya curah hujan pada periode Desember-Januari-Februari, terutama bagi sektor pertanian padi. Kebakaran hutan merupakan salah satu dampak ikutan dari bencana kekeringan.
Ia merekomendasikan agar pengurangan risiko bencana kekeringan dilakukan melalui penurunan tingkat sensitivitas dan peningkatan kapasitas adaptasi. Karena itu, langkah antisipasi perlu dilakukan sebelum cadangan air mencapai kondisi kritis.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemantauan kondisi hidrologis serta pengelolaan tampungan dan alokasi air secara adaptif. Kapasitas adaptasi juga dapat ditingkatkan melalui penambahan sistem pemantauan dan prediksi dampak.
Langkah tersebut penting untuk menentukan wilayah yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap bencana kekeringan sehingga dapat menjadi prioritas penanganan.
Langkah-langkah aksi yang tepat sasaran juga diperlukan, mulai dari bantuan pemerintah, pemilihan komoditas pangan yang lebih tahan terhadap kekeringan, penyesuaian waktu tanam, hingga pengelolaan sumber daya air secara efisien dan efektif.
"Melalui talkshow ini, kami ingin menyampaikan kepada masyarakat cara memahami El Niño. Fenomenanya terjadi di Samudra Pasifik, tetapi bagi masyarakat Indonesia yang paling penting adalah mengetahui apa dampaknya di wilayah mereka, seberapa besar risikonya, dan apa yang perlu diantisipasi," kata Djoko.
Anggota PPI ITB Tri Wahyu Hadi menambahkan, tidak semua sektor akan mengalami dampak negatif dari kejadian El Nino. Di wilayah laut sebelah barat Sumatera hingga sebelah selatan Jawa dan Nusa Tenggara, El Nino dapat mengubah dinamika laut sedemikian rupa sehingga justru mendukung peningkatan produktivitas perikanan tangkap.
“Periode yang lebih kering juga dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung produksi garam karena proses penguapan air laut berlangsung lebih optimal. Kondisi iklim yang lebih kering juga dapat meningkatkan produksi padi di sawah rawa lebak, yang antara lain terdapat di Kalimantan Selatan,” tambahnya.





