MEDAN, KOMPAS — Keracunan makanan kembali terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Kamis (13/8/2026). Sedikitnya 269 murid dari lima sekolah tingkat SMA, SMK, dan SMP mengalami keracunan. Para murid mengalami gatal di mulut dan kulit, sesak napas, hingga muntah setelah mengonsumsi makanan MBG.
“Para murid yang mengalami keracunan saat ini menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Karo. Kondisi para murid semuanya stabil,” kata Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV Sumut Zulkarnain Barus, Kamis (13/8/2026).
Zulkarnain mengatakan, keracunan makanan terjadi saat jam makan siang sekitar pukul 13.00 WIB. Para murid mengonsumsi makanan dari dapur yang sama, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karo Berastagi Sempajaya yang berada di Markas Kodim 0205/Tanah Karo.
Lima sekolah yang mengalami kasus keracunan adalah SMA Negeri 1 Berastagi, SMA Swasta Bersama, SMK Swasta Bersama, SMP Negeri 3 Kabanjahe, dan SMP Swasta Bersama. “Sampai malam ini, sudah 269 siswa yang mengalami keracunan di tiga sekolah SMA dan SMK. Data itu di luar data SMP, tetapi murid mereka lebih sedikit,” kata Zulkarnain.
Zulkarnain menyebut, para murid mengalami gejala awal berupa gatal di mulut setelah mengonsumsi menu MBG. Mereka kemudian mengalami gatal di badan, sesak napas, mual, dan sebagian muntah-muntah.
Setelah mengalami gejala keracunan, para murid langsung dibawa ke rumah sakit. Beberapa murid baru mengalami gejala setelah pulang ke rumah. Mereka dirawat di sejumlah rumah sakit di Karo, antara lain Rumah Sakit Umum Amanda, RSU Efarina Etaham, dan RSUD Kabanjahe.
Zulkarnain menyebut, para siswa mengonsumsi MBG dengan menu nasi, sayur kol, wortel, dan ikan dencis gulai. “Dugaan sementara, keracunan berasal dari ikan dencis,” kata Zulkarnain.
Komandan Kodim 0205/Tanah Karo Letnan Kolonel Infanteri Robert B Panjaitan mengatakan, pihaknya memprioritaskan penanganan murid yang mengalami keracunan. “Kami masih memantau di rumah sakit. Secara umum kondisi para murid stabil dan akan pulih dengan sebaik-baiknya,” kata Robert.
Robert menyebut, pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab keracunan makanan dari SPPG tersebut. Pemeriksaan penyebab keracunan diserahkan kepada Badan Gizi Nasional. Sampel makanan telah diambil untuk selanjutnya diuji di laboratorium.
Robert menyebut, lima sekolah tersebut mendapat MBG dari SPPG yang berada di Markas Kodim 0205/Tanah Karo. Namun, kata Robert, SPPG tersebut tidak dikelola oleh Kodim Karo. Dapur SPPG hanya berdiri di atas aset milik Kodim Karo dan dikelola oleh mitra yang bekerja sama dengan Yayasan Manunggal Kartika Jaya.
“Kami menyediakan tempat dan melakukan pendampingan, tetapi kami tidak mengelola SPPG, enggak punya kemampuan kami. Asetnya itu aset Kodim dipakai untuk SPPG,” kata Robert.
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan, pihaknya menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan kasus keracunan MBG.
”Mulai minggu depan, kami akan memberlakukan kewajiban untuk menuliskan di setiap omprengnya ada tanda atau ada peringatan untuk dikonsumsi, harus dikonsumsi atau harus dimakan sebelum jam berapa,” katanya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Sudaryono meminta para guru turut mengawasi penerapan aturan tersebut. Makanan yang sudah melewati batas waktu konsumsi tidak boleh diberikan kepada siswa dan guru. Selama ini, banyak kasus keracunan makanan terjadi karena makanan dikonsumsi terlalu lama setelah selesai dimasak.
Penguatan pengawasan program MBG kini juga dilakukan pada proses produksi di SPPG. Saat ini tercatat ada 27.489 SPPG yang beroperasi di sejumlah daerah. Setiap SPPG akan diwajibkan menggunakan sistem pemantauan produksi yang terintegrasi, mulai dari persiapan, proses memasak, pengemasan, hingga distribusi ke sekolah.
Sementara itu, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebut sebanyak 40.759 orang tercatat menjadi korban keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis berdasarkan hasil pemantauan sepanjang 2025 hingga awal Agustus 2026.
Data tersebut terdiri dari 28.103 korban keracunan sepanjang 2025 dan 12.656 korban pada kurun Januari hingga awal Agustus 2026.
”Angka korban keracunan terus melonjak karena jumlah dapur yang menyiapkan makanan MBG juga banyak. Sebanyak 73 persen korban menjalani rawat jalan,” kata Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji (Kompas.id, 13/8/2026).





