Bandung (ANTARA) - PT Len Industri (Persero) mentransfer disiplin rekayasa sistem pertahanan Radar Ground Control Intercept (GCI) untuk memperkuat integrasi sistem energi pada ekosistem mobilitas listrik (electric vehicle/EV) nasional agar bekerja secara presisi, aman, dan terukur.
Adaptasi metodologi rekayasa sistem militer tersebut diterapkan untuk menyelaraskan aliran energi dan pertukaran data kompleks yang menghubungkan baterai, sistem kendali, proteksi, hingga infrastruktur pengisian daya.
Direktur Utama PT Len Industri Joga Dharma Setiawan di Bandung, Kamis, memaparkan bahwa keandalan EV tidak dapat dipisahkan dari keterhubungan ekosistem energi secara keseluruhan.
"Baterai, manajemen daya, sistem proteksi, infrastruktur pengisian, dan pengelolaan data tidak dapat bekerja sendiri-sendiri. Seluruhnya membutuhkan persyaratan dan antarmuka teknis yang jelas. Pengalaman Len dalam mengintegrasikan sistem kompleks menjadi referensi untuk menerapkan pendekatan yang disiplin, terukur, dan berbasis data," ujar Joga Dharma Setiawan.
Penguasaan rekayasa energi Len, dibangun melalui jejak rekam pengintegrasian sistem kelistrikan on-grid, off-grid, dan hybrid, yang kemudian diperdalam lewat riset motor trail listrik Electrical Bike Sprint.
Trail listrik bertorsi 3.000 Watt dengan kecepatan 80 km/jam, daya jelajah 60 km, serta kapasitas angkut 190 kg tersebut, dijadikan referensi engineering untuk menguji kesesuaian antar-subsistem sebelum diterapkan dalam skala luas.
BUMN pertahanan dan elektronik ini menegaskan posisinya berfokus pada penyelarasan antarmuka (interface), analisis dependensi, serta verifikasi data teknis tanpa mengambil alih peran produsen kendaraan, penetap standar, maupun penjamin kinerja komersial.
Melalui penerapan prinsip berbasis bukti (evidence-based) yang mengacu pada validasi data pemilik sistem, Len optimistis dapat mengawal pembentukan ekosistem mobilitas listrik Indonesia yang aman, hemat perawatan, dan berkelanjutan.
Baca juga: PT Len jadikan rekayasa trail listrik sprint pijakan riset EV nasional
Baca juga: Len perkuat kapabilitas rekayasa-integrasi teknologi kendaraan listrik
Adaptasi metodologi rekayasa sistem militer tersebut diterapkan untuk menyelaraskan aliran energi dan pertukaran data kompleks yang menghubungkan baterai, sistem kendali, proteksi, hingga infrastruktur pengisian daya.
Direktur Utama PT Len Industri Joga Dharma Setiawan di Bandung, Kamis, memaparkan bahwa keandalan EV tidak dapat dipisahkan dari keterhubungan ekosistem energi secara keseluruhan.
"Baterai, manajemen daya, sistem proteksi, infrastruktur pengisian, dan pengelolaan data tidak dapat bekerja sendiri-sendiri. Seluruhnya membutuhkan persyaratan dan antarmuka teknis yang jelas. Pengalaman Len dalam mengintegrasikan sistem kompleks menjadi referensi untuk menerapkan pendekatan yang disiplin, terukur, dan berbasis data," ujar Joga Dharma Setiawan.
Penguasaan rekayasa energi Len, dibangun melalui jejak rekam pengintegrasian sistem kelistrikan on-grid, off-grid, dan hybrid, yang kemudian diperdalam lewat riset motor trail listrik Electrical Bike Sprint.
Trail listrik bertorsi 3.000 Watt dengan kecepatan 80 km/jam, daya jelajah 60 km, serta kapasitas angkut 190 kg tersebut, dijadikan referensi engineering untuk menguji kesesuaian antar-subsistem sebelum diterapkan dalam skala luas.
BUMN pertahanan dan elektronik ini menegaskan posisinya berfokus pada penyelarasan antarmuka (interface), analisis dependensi, serta verifikasi data teknis tanpa mengambil alih peran produsen kendaraan, penetap standar, maupun penjamin kinerja komersial.
Melalui penerapan prinsip berbasis bukti (evidence-based) yang mengacu pada validasi data pemilik sistem, Len optimistis dapat mengawal pembentukan ekosistem mobilitas listrik Indonesia yang aman, hemat perawatan, dan berkelanjutan.
Baca juga: PT Len jadikan rekayasa trail listrik sprint pijakan riset EV nasional
Baca juga: Len perkuat kapabilitas rekayasa-integrasi teknologi kendaraan listrik





