BRIN Ungkap Cara Peneliti Cari Kolaborator hingga Dapat Dana Riset dari Luar Negeri

kompas.tv
2 jam lalu
Cover Berita
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sistem Nanoteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Angga Hermawan, membagikan tips membangun kolaborasi riset hingga membuka peluang mendapatkan pendanaan dari dalam maupun luar negeri. (Sumber: BRIN)

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.TV - Kolaborasi menjadi salah satu kunci penting dalam pengembangan riset dan inovasi. Selain memperkuat kualitas penelitian, kerja sama dengan peneliti lain dapat membuka akses terhadap jaringan, sumber daya, hingga peluang pendanaan dari dalam maupun luar negeri.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sistem Nanoteknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Angga Hermawan, membagikan sejumlah strategi yang dapat dilakukan peneliti untuk membangun kolaborasi sekaligus meningkatkan peluang mendapatkan pendanaan riset.

Angga menyampaikan hal tersebut dalam Seminar Katalis Talks 2026 bertajuk Building a Connected Catalysis Ecosystem through Research Excellence, Strategic Funding, and Collaborative Partnerships, di Auditorium Gedung Tekno II, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (10/8/2026).

Baca Juga: Peringatan Dini Bencana di Indonesia Harus Berujung Aksi, Ini Pelajaran BRIN dari China

Jangan Hanya Mengandalkan Kenalan, Cari Kolaborator di Konferensi

Menurut Angga, peneliti tidak harus selalu memulai kolaborasi dari jejaring yang sudah dikenal. Berbagai ruang dapat dimanfaatkan untuk menemukan calon mitra riset baru.

Salah satunya melalui konferensi. Menurut Angga, pertemuan secara langsung dapat menjadi cara yang efektif untuk mengenal peneliti lain sekaligus membuka pembicaraan mengenai peluang kerja sama.

"Yang pertama dari konferensi paling mudah. Kita perlu langsung datang, tatap muka lalu ngobrol. Susah kalau kita cuma nge-email untuk mendapatkan kolaborator yang cocok," kata Angga dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (13/8).

Selain konferensi, calon kolaborator juga dapat ditemukan melalui website dan media sosial profesional.

Angga menyebut LinkedIn dan X dapat dimanfaatkan untuk membuka koneksi dengan peneliti lain. 

Banyak peneliti kini memiliki akun media sosial profesional yang dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas jaringan.

"Mereka juga punya. Banyak sekali peneliti itu punya LinkedIn sendiri, kita connect ke dalam media sosial mereka," ujarnya.

Angga juga mengingatkan peneliti agar tidak ragu menghubungi calon mitra meski belum saling mengenal.

Menurutnya, tidak ada kerugian untuk mencoba membuka komunikasi. 

Baca Juga: BRIN Bikin Air Banjir-Limbah Jadi Siap Minum, Arif: Dicicipi Langsung Presiden Prabowo

Jika tidak mendapatkan respons, peneliti dapat melakukan tindak lanjut dan mencari calon kolaborator lain.

"Walaupun tidak kenal, coba saja. Kalau saya tidak dapat reply, follow-up lagi. Kalau tidak dapat, move on. Tidak usah dipikirin, berarti tidak cocok," ungkapnya.

Reputasi Bisa Membuka Peluang Kolaborasi

Selain aktif mencari mitra, peluang kolaborasi juga dapat terbuka ketika seorang peneliti telah memiliki reputasi yang kuat.

Angga mencontohkan pengalamannya ketika menerima email dari seorang peneliti asal Australia yang mengajaknya bergabung dalam program e-ASIA Joint Research Programme.

Kolaborasi tersebut, kata Angga, penting karena setiap peneliti memiliki keahlian yang berbeda. 

Kerja sama memungkinkan keahlian tersebut saling melengkapi sekaligus memperluas akses terhadap jaringan dan sumber daya.

"Dengan kolaborasi juga akan mendapatkan wider network dan resources yang lebih luas sehingga dapat memperluas networking. Masing-masing pihak dapat saling mengakses network yang dimiliki, sehingga nanti akan semakin besar network-nya," ujarnya.

Menurut Angga, jejaring yang semakin luas juga dapat membuka akses terhadap berbagai peluang pendanaan penelitian.

Jangan Asal Kirim Proposal, Pahami Misi Funding Agency

Angga mengatakan peneliti Indonesia memiliki banyak pilihan skema pendanaan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Baca Juga: Kepala BRIN Arif Satria Ungkap Presiden Prabowo Tertarik Sepatu Buatannya: Terbuat dari Karet

Beberapa contoh yang disebutkannya antara lain Kurita, LPDP, BPDPKS, ITSF, KONEKSI, e-ASIA Joint Research Programme, SATREPS, JST, hingga Horizon Europe.

Namun, banyaknya pilihan pendanaan perlu diikuti strategi yang tepat. 

Salah satu kunci mendapatkan pendanaan adalah menyelaraskan riset dengan prioritas lembaga pemberi dana.

Menurut Angga, peneliti perlu memahami terlebih dahulu misi dan tujuan funding agency sebelum menyusun proposal.

Dengan memahami prioritas tersebut, peneliti dapat menunjukkan bagaimana riset yang diajukan memiliki kontribusi terhadap kebutuhan dan tujuan lembaga pemberi dana.

"Yang paling penting kalau kita mau mendapatkan dana dari dalam maupun luar negeri, kita harus alignment, menyelaraskan riset kita dengan apa yang mereka inginkan. Sebelum kita bikin proposal, explore dulu mission mereka apa," jelas Angga.

Ia menegaskan, penyelarasan tersebut bukan berarti peneliti harus meninggalkan bidang atau gagasan yang selama ini ditekuni.

Sebaliknya, peneliti perlu mencari titik temu antara riset yang dimiliki dengan prioritas lembaga pendanaan.

Angga mencontohkan lembaga Kurita yang memiliki fokus pada bidang water and environment. 

Peneliti kemudian perlu menunjukkan bagaimana gagasan penelitian yang dimiliki dapat mendukung misi tersebut.

Baca Juga: BRIN Lapor Teknologi Nuklir ke Prabowo, Mensesneg: Itu untuk Energi dan Medis

"Misalnya Kurita, mereka fokusnya di water and environment. Kita tawarkan ide kita, bagaimana kita bisa mendukung atau support misi mereka di bidang water and environment itu," jelasnya.

Impact dan Value for Money Jadi Kunci

Selain kesesuaian dengan prioritas lembaga, Angga mengingatkan peneliti untuk memperhatikan impact dan value for money dalam proposal.

Menurutnya, besarnya anggaran yang diajukan harus sebanding dengan hasil dan manfaat yang ditawarkan kepada lembaga pemberi dana.

Peneliti perlu menjelaskan secara konkret apa yang akan dihasilkan dari pendanaan yang diterima serta manfaatnya bagi funding agency.

"Teman-teman mungkin sudah tahu bahwa impact dan value for money juga penting. Jangan sampai kita mengajukan anggaran Rp1 miliar, tetapi luaran yang dihasilkan tidak sebanding dengan dana yang diberikan," kata Angga.

Karena itu, peneliti perlu memikirkan dengan jelas luaran dan manfaat yang dapat diberikan ketika mengajukan anggaran penelitian.

"Ketika meminta Rp1 miliar, apa yang bisa kita berikan sebagai feedback kepada funding agency," pungkasnya.

Dengan strategi tersebut, peluang membangun kolaborasi dan mendapatkan pendanaan riset tidak hanya bergantung pada kualitas ide penelitian. 

Peneliti juga perlu aktif memperluas jaringan, membangun reputasi, memahami prioritas lembaga pendanaan, serta menunjukkan dampak dan manfaat yang jelas dari riset yang ditawarkan. 

Baca Juga: [FULL] Kepala BRIN: Presiden Prabowo Beri Atensi Riset Pengelolaan Sampah hingga Genteng dari Limbah

 

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Gading-Persada

Sumber : brin.go.id

Tag
  • BRIN
  • dana riset
  • pendanaan riset
  • kolaborasi riset
  • peneliti
  • riset Indonesia
Selengkapnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Air Sungai Danube Surut Drastis, Bangkai Kapal Perang Dunia II Bermunculan
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Petrus Bala Pattyona Sebut Hakim PN Jaktim "Tidak Paham Hukum Acara" dalam Sidang dr. Tifa
• 9 jam lalucumicumi.com
thumb
Pramono Bakal Kembangkan Kawasan Manggarai Seperti Blok M, Jadi TOD Baru
• 9 jam laludisway.id
thumb
Dataset Ingatan Lima Abad
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Museum RA Kartini Rembang Tutup Sementara hingga 17 Agustus
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.