Luas kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan melonjak tiga kali lipat dalam sebulan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino kuat, minimnya kesadaran warga, dan belum optimalnya koordinasi lintas sektor. Tanpa penanganan serius, karhutla tahun ini berpotensi menjadi salah satu yang terparah.
Berdasarkan data rekapitulasi citra satelit dari laman Sipongi.menlhk.go.id yang dirilis Balai Pengendalian Karhutla Sumatera, Rabu (12/8/2026), luas karhutla di Sumsel pada Januari-Juli 2026 mencapai 1.926,2 hektar. Luasan di lahan mineral dan gambut itu melonjak drastis, nyaris tiga kali lipat jika dibandingkan dengan periode Januari-Juni 2026 yang tercatat 664,87 hektar.
Angka tersebut mengindikasikan karhutla di Sumsel tahun ini menjadi salah satu yang terparah dalam satu dekade terakhir atau sejak bencana serupa pada 2015. Pada rentang waktu yang sama (Januari-Juli), luasan area terbakar pada 2026 telah jauh melampaui catatan tahun 2023 dan 2019 yang saat itu juga dipicu kemarau ekstrem akibat El Nino.
Sebagai pembanding, luas area terbakar pada Januari-Juli 2023 tercatat mencapai 1.178,5 hektar. Adapun pada periode yang sama di 2019, luasan karhutla tercatat 516,4 hektar.
Padahal, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menargetkan agar skala karhutla 2026 tidak melampaui pada tahun 2015, 2019, dan 2023. ”Dengan koordinasi yang baik dari semua pihak, kita optimistis bisa menangani karhutla tahun ini. Angka kejadiannya minimal tidak sebesar dampak El Nino pada 2023,” ujarnya saat meresmikan Pusat Persemaian Sriwijaya Kemampo di Banyuasin, Sumsel, Jumat (7/8/2026).
Dihubungi dari Palembang, Kamis (13/8/2026), Kepala Balai Pengendalian Karhutla Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan, lonjakan data tersebut harus menjadi sinyal peringatan bagi semua pihak. Sebab, luasan area terbakar berpotensi terus meluas seiring durasi puncak kemarau yang lebih panjang akibat efek El Nino.
Apalagi, El Nino tahun ini diprediksi menjadi salah satu yang terkuat. ”Secara tren 10 tahunan, karhutla di Sumsel biasanya memuncak pada September atau Oktober. Namun, tahun ini eskalasi sudah terjadi sejak Juli karena efek El Nino kuat. Hal ini harus diwaspadai bersama,” kata Ferdian.
Panas terik ekstrem mengeringkan banyak lahan sehingga material mudah terbakar melimpah ruah, terutama di hamparan gambut. Kondisi ini diperburuk oleh embusan angin kencang yang bisa membuat api cepat membesar dan meluas.
Risiko semakin tinggi lantaran masih maraknya praktik membuka lahan dengan cara dibakar. Petugas di lapangan bahkan beberapa kali menemukan indikasi kesengajaan. ”Di sekitar lokasi karhutla Sungai Rambutan, (Ogan Ilir), misalnya, kami menemukan sejumlah ban bekas yang digunakan sebagai sarana pembakar,” papar Ferdian.
Tantangan kian berat pada proses pemadaman. Tim darat yang menjadi tulang punggung operasi kesulitan mendapatkan air karena kanal dan waduk mulai mengering. Di sisi lain, operasi udara melalui helikopter water bombing hanya efektif untuk mematikan kepala api. ”Operasi modifikasi cuaca (OMC) juga sulit optimal karena nyaris tidak ada awan potensial untuk disemai menjadi hujan buatan,” tutur Ferdian.
Oleh karena itu, Ferdian berharap semua instansi terkait lebih merapatkan barisan, kompak, dan memberikan dukungan optimal, termasuk dalam ketersediaan anggaran. Setiap pihak juga diminta aktif mengevaluasi kelemahan strategi dan memperkuat kehadiran di lapangan.
Kita harus memastikan pengalaman kelam 2015 tidak terulang kembali.
Sinergi, koordinasi, dan komitmen lintas sektor sangat mendesak untuk mencegah bencana yang lebih besar. Sebagai pengingat, Sumsel adalah salah satu provinsi dengan dampak karhutla terburuk pada 2015.
Saat itu, 638.593 hektar lahan ludes dilalap api. Dampaknya melumpuhkan kehidupan, mulai dari sekolah dan perkantoran diliburkan, jadwal penerbangan bandara kacau, hingga merebaknya penyakit pernapasan akibat paparan asap. ”Kita harus memastikan pengalaman kelam 2015 tidak terulang kembali,” kata Ferdian.
Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru memastikan, pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota berkomitmen penuh menangani karhutla. Dia menjamin alokasi anggaran penanggulangan karhutla di Sumsel tidak terbatas.
”Di tempat kita, anggaran karhutla itu unlimited (tidak terbatas). Namun, penanganan tak bisa berjalan sendiri. Bencana ini harus ditangani lintas sektor, mulai dari Manggala Agni, Polri, TNI, hingga jajaran pemda. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam pencegahan,” ujar Herman.
Menanggapi eskalasi kejadian karhutla di wilayahnya, Herman menegaskan, semua pihak telah bekerja habis-habisan dan pantang menyerah. Selain mengandalkan pemadaman darat dan udara, tim gabungan juga terus mengupayakan OMC.
Sayangnya, cuaca ekstrem menantang segala upaya tersebut. Hujan buatan pun sulit dilakukan karena minimnya awan potensial. ”Eskalasi karhutla saat ini tak lepas dari efek El Nino kuat. Cuaca sangat terik membuat vegetasi mengering kerontang sehingga risiko karhutla meningkat. Meski demikian, semua pihak tetap all out (bekerja maksimal) agar karhutla tidak terus meluas,” ujar Herman.





