Prospek harga batu bara yang dinilai telah membentuk level dasar baru mendorong CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) menaikkan peringkat.
IDXChannel – Prospek harga batu bara yang dinilai telah membentuk level dasar baru mendorong CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) menaikkan peringkat sektor batu bara menjadi neutral.
Di tengah prospek harga yang masih kuat dan ketahanan dividen emiten dalam berbagai siklus penurunan, analis CGSI Agung Putra Sulaiman dan Joanne Ong memilih PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebagai saham favorit di sektor tersebut.
Dalam riset berjudul Brand new day: a higher base for coal prices, yang terbit pada 12 Agustus 2026, CGSI menilai harga batu bara telah bergeser ke rentang perdagangan yang lebih tinggi.
Harga terendah batu bara Newcastle yang berada di kisaran USD47-USD48 per ton pada dekade 2010-an telah meningkat menjadi sekitar USD92 per ton pada 2025.
Sementara itu, harga pada Juli 2026 telah mencapai sekitar USD130 per ton, jauh di atas rata-rata USD98-USD110 per ton pada periode kenaikan harga batu bara di dekade 2010-an.
CGSI memperkirakan harga batu bara Newcastle rata-rata mencapai USD133 per ton pada 2026 dan USD131 per ton pada 2027, sebelum turun secara bertahap menjadi USD125 per ton pada 2028.
Menurut analis, kuatnya permintaan global menjadi salah satu penopang utama harga. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat permintaan batu bara global mencapai rekor 8,8 miliar ton pada 2025, dengan China dan India menyumbang sekitar 71 persen dari total permintaan.
Faktor geopolitik juga turut menopang harga. Gangguan di Selat Hormuz pada Februari 2026 mendorong harga batu bara Newcastle ke USD126 per ton pada Maret, mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Mei 2022. Harga kemudian mencapai sekitar USD153 per ton pada kuartal II-2026.
Ketahanan laba dan dividen
CGSI juga melihat fundamental emiten batu bara relatif tangguh menghadapi siklus penurunan harga.
Berdasarkan kajian terhadap periode 2008-2025 yang mencakup sembilan siklus, emiten dalam cakupan analis tetap mencatat laba dan membagikan dividen setiap tahun.
Disiplin biaya menjadi salah satu faktor utama yang membantu menjaga profitabilitas.
Total biaya produksi per ton, tidak termasuk royalti, turun dari sekitar USD60 per ton pada 2012 menjadi USD39 per ton pada 2016. Penurunan kembali terjadi dari USD76 per ton pada 2022 menjadi USD50 per ton pada 2025.
Sementara itu, EBITDA per ton emiten dalam cakupan riset mampu bertahan di kisaran USD13-USD15 per ton selama periode penurunan harga.
Ketahanan tersebut juga tercermin dari imbal hasil dividen yang rata-rata mencapai sekitar 10 persen selama 2008-2025. Untuk 2026, CGSI memperkirakan dividend yield emiten dalam cakupannya berada di kisaran 7-13 persen.
Risiko kebijakan
Meski prospek harga batu bara membaik, CGSI menilai ketidakpastian kebijakan pemerintah masih menjadi faktor yang perlu diperhitungkan investor.
Sejak awal 2025, pemerintah telah mengumumkan sejumlah kebijakan baru terkait industri batu bara. Sebagian kebijakan kemudian ditunda, diubah, atau dibatalkan, tetapi harga saham sudah lebih dahulu merespons pengumuman awal tersebut.
Karena dampak kebijakan di masa depan sulit dimasukkan secara akurat ke dalam proyeksi laba, CGSI memberikan diskon valuasi sebesar 0,5 standar deviasi terhadap rata-rata P/E historis masing-masing emiten selama 2008-2025.
Dengan penyesuaian tersebut, sektor batu bara saat ini diperdagangkan pada sekitar 6,3 kali P/E FY27F, lebih rendah dibandingkan rata-rata historis 8,7 kali pada periode ketika harga Indonesian Coal Index 3 (ICI3) berada di kisaran USD70-90 per ton.
AADI jadi pilihan utama
CGSI menilai kombinasi prospek harga batu bara yang relatif tinggi dan ketahanan dividen menjadi alasan untuk menaikkan rating sektor batu bara menjadi neutral.
Di antara emiten yang dicakup, AADI menjadi saham pilihan utama CGSI.
Saham tersebut dinilai memiliki potensi kenaikan paling tinggi menuju target harga, sekaligus diperdagangkan pada valuasi paling rendah, yakni sekitar 4,4 kali P/E FY27F.
AADI juga memiliki estimasi dividend yield tertinggi dalam cakupan riset CGSI.
CGSI melihat risiko positif (upside risks) sektor antara lain harga batu bara yang lebih tinggi dari perkiraan dan kenaikan batas harga batu bara untuk PT PLN (Persero).
Sebaliknya, risiko negatif (downside risks) mencakup penurunan harga batu bara yang lebih cepat dari perkiraan, ketidakpastian volume produksi, serta perubahan aturan pertambangan yang tidak menguntungkan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





