Jakarta, ERANASIONAL.COM – Polisi menahan dua dari empat tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana terhadap agama dan kepercayaan terkait tantangan hafalan surah Al-Qur’an berhadiah minuman keras (miras) di salah satu booth pada festival musik The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara.
Kedua tersangka yang ditahan merupakan REK, yang berperan sebagai pemandu acara atau MC, serta AK yang disebut sebagai pembuat tantangan.
Keduanya ditangkap pada Rabu (12/8/2026) setelah penanganan perkara dilimpahkan dari Polres Metro Jakarta Utara ke Polda Metro Jaya.
Polisi kemudian melakukan penahanan terhadap keduanya sejak Kamis (13/8/2026).
Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengatakan, REK dan AK ditahan selama 20 hari di Rutan Polda Metro Jaya.
“REK dan AK ditangkap pada Rabu, 12 Agustus 2026, setelah penanganan perkara dilimpahkan dari Polres Metro Jakarta Utara. Keduanya telah ditahan selama 20 hari di Rutan Polda Metro Jaya terhitung mulai hari ini,” kata Iman dalam keterangannya.
Sementara itu, penyidik masih memproses perkara terhadap dua tersangka lainnya. Namun, polisi belum melakukan penahanan terhadap keduanya.
Kedua tersangka tersebut masing-masing berinisial I yang disebut sebagai pembuat tantangan dan M, yakni orang yang tampil serta melafalkan surah Ad-Dhuha melalui pengeras suara di lokasi.
Dalam kasus tersebut, keempat tersangka dikenakan Pasal 300 dan/atau Pasal 301 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sebagaimana telah diubah melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Viral di Media SosialKasus tersebut mencuat setelah video aktivitas di sebuah booth produk miras dalam festival musik The Sounds Project viral di media sosial.
Peristiwa itu terjadi saat festival berlangsung di Ancol, Jakarta Utara, pada Minggu (9/8/2026).
Dalam video yang beredar, terlihat adanya tantangan kepada pengunjung untuk menghafalkan surah Ad-Dhuha dengan imbalan yang diduga berupa sebotol minuman keras.
Video tersebut kemudian menuai kecaman karena dianggap menjadikan ajaran agama sebagai bagian dari aktivitas promosi produk.
Pihak penyelenggara The Sounds Project turut memberikan pernyataan terkait kejadian tersebut melalui akun Instagram resminya.
Penyelenggara menyatakan mengecam aktivitas yang menjadikan agama sebagai bahan tantangan maupun promosi produk.
“Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun,” demikian pernyataan The Sounds Project.
Penyelenggara juga menegaskan bahwa aktivitas tersebut berada di luar arahan, persetujuan, maupun kendali mereka.
Manajemen Newport Minta MaafManajemen Newport, produk yang booth-nya menjadi lokasi kejadian, juga menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut.
Direktur Newport, Handoko Sasongko, mengatakan aktivitas yang terekam dalam video bukan bagian dari program maupun konsep promosi yang dirancang oleh pihak manajemen.
Menurut dia, aktivitas tersebut muncul secara spontan dari pengunjung di lokasi acara.
“Kami menyesali adanya kelalaian dalam pengawasan di lapangan, sehingga tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya serta adat istiadat yang dijunjung oleh masyarakat dapat terjadi,” ujar Handoko dalam keterangannya, Rabu (11/8/2026).
Handoko juga menyampaikan permohonan maaf kepada umat Muslim, tokoh agama, serta masyarakat Indonesia yang merasa terganggu atau terluka akibat kejadian tersebut.
Sementara itu, MC booth Newport yang berada di lokasi saat kejadian, Revnaldo Ega, turut menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun Threads miliknya.
Ega mengaku bertanggung jawab atas kelalaiannya dalam mengendalikan situasi saat acara berlangsung.
“Saya Ega, selaku MC booth Newport pada Minggu, 9 Agustus 2026, memohon maaf atas kejadian yang terjadi saat acara berlangsung,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kejadian tersebut merupakan aksi spontan audiens dan tidak berkaitan dengan pihak Newport.
Ega juga mengakui adanya kelalaian dalam mengantisipasi situasi di lokasi dan menyatakan akan menjadikannya sebagai bahan evaluasi ke depan. []





