JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berencana melibatkan tukang batu hingga siswa SMK pembangunan dalam proyek restorasi candi perwara di sekitar Prambanan bersama pihak India.
Di sisi lain, pemerintah berencana menggunakan batu baru bila batu penyusun asli tidak ditemukan.
Perwara merupakan candi-candi kecil pendamping yang tersusun dalam empat baris mengelilingi candi utama.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pemugaran dapat rampung sebelum tahun 2029.
Pada tahap pertama, kerja sama Indonesia-India ini akan fokus pada 54 perwara di kuadran timur laut kompleks Prambanan.
“Dan ini tentu akan membuat lapangan kerja baru bagi para pemugar, tukang-tukang, kemudian pembantu tukang-tukang, tukang batu termasuk saya kira tenaga-tenaga muda mungkin teman-teman dari SMK Pembangunan, bagi yang berminat ya kita akan melakukan pelatihan," kata Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon.
Baca juga: Pemugaran Perwara Prambanan Ditarget Rampung Tahun 2029, Apakah Realistis?
Lantas, bagaimana pandangan arkeolog?
Kepala Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Marsis Sutopo mengingatkan pemerintah tidak bisa melibatkan sembarang tukang dalam proyek pemugaran candi.
Ia tidak memungkiri keberadaan tukang maupun tenaga lokal memang menjadi salah satu faktor penting dalam proyek tersebut. Namun, mereka yang dilibatkan harus memiliki keterampilan dan pengalaman khusus.
"Kemampuan sangat ditentukan oleh 'jam terbang'. Semakin lama dan sering melakukan pemugaran maka keterampilan akan semakin terasah langsung di lapangan," kata Marsis kepada Kompas.com, Kamis (13/8/2026).
Senada, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Nasional, Surya Helmi, menyampaikan keterampilan mencari dan menyusun kembali batu candi merupakan keahlian khusus yang membutuhkan pelatihan serta pengalaman.
Tanpa pembekalan tersebut, siswa SMK yang diterjunkan langusng hanya akan menjadi tenaga kerja biasa, bukan tenaga terampil pemugaran.
"(Kalau) Menteri (Kebudayaan) pernah bilang, 'Ayo kita didik aja anak SMK...' Bisa saja, tapi kan melalui proses-proses. Enggak bisa serta-merta mereka langsung, anak SMK diterjunkan. Sama aja kita nyari kuli-kuli yang ikut kerja, tanpa pelatihan tanpa sekolah," tutur Helmi.
Perlu pelatihanHelmi menekankan, anak-anak SMK tersebut perlu diberi pengetahuan dasar meliputi prinsip-prinsip pemugaran candi serta aturan-aturan pemugaran candi.
Pasalnya, pemugaran candi memerlukan tenaga dengan keahlian khusus dalam mencari dan memasang batu—yang kini jumlahnya makin terbatas. Mereka biasanya memiliki pengalaman turun-temurun sejak masa kolonial.





