Houthi Menggila! Arab Saudi Mulai Bergerak, Perang Besar Yaman di Depan Mata?

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com — Situasi keamanan di Yaman kembali memasuki fase yang semakin berbahaya setelah kelompok Syiah Houthi meningkatkan operasi militernya dalam beberapa hari terakhir. Serangan tidak hanya terjadi di sejumlah front darat di Yaman, tetapi juga mulai menyasar jalur pelayaran strategis dan infrastruktur energi Arab Saudi.

Perkembangan terbaru ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik Yaman, yang relatif mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022, dapat kembali berkembang menjadi perang berskala besar. PBB bahkan memperingatkan bahwa Yaman saat ini menghadapi risiko tertinggi untuk kembali ke konflik besar sejak gencatan senjata tersebut diberlakukan.

Pertempuran Darat Kembali Memanas

Pada 13 Agustus 2026, pertempuran antara Houthi dan pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman kembali dilaporkan berlangsung di sejumlah wilayah. Informasi awal menyebut adanya serangan di kawasan selatan Yaman yang mengakibatkan korban tewas dan luka.

Dalam beberapa hari sebelumnya, aktivitas militer Houthi memang menunjukkan peningkatan signifikan. Serangan dan bentrokan dilaporkan terjadi di berbagai front, termasuk Marib, Hadramaut, Taiz, dan kawasan pesisir barat.

Peningkatan aktivitas tersebut menjadi perhatian karena garis depan Yaman selama beberapa tahun terakhir relatif lebih tenang dibandingkan masa-masa terburuk perang saudara. Namun, rangkaian serangan terbaru memperlihatkan bahwa keseimbangan tersebut semakin rapuh.

Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, pada 13 Agustus 2026 memperingatkan mengenai peningkatan aktivitas militer dan permusuhan antara Houthi dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Menurut PBB, eskalasi di darat serta serangan terhadap pelayaran komersial berpotensi menyeret Yaman ke dalam konflik regional yang jauh lebih luas.

Kapal Peledak dan Ancaman di Pesisir Barat

Ketegangan juga meningkat di kawasan pesisir barat Yaman. Sumber keamanan Yaman melaporkan bentrokan yang melibatkan kapal bermuatan bahan peledak milik Houthi dengan unsur angkatan laut pemerintah Yaman.

Penggunaan kapal nirawak atau kapal peledak menjadi ancaman serius karena pesisir barat Yaman berhadapan langsung dengan Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran terpenting dunia.

Ancaman terhadap kapal komersial kembali terlihat jelas pada 11 Agustus 2026. Kapal kargo Tihamah, yang dimiliki perusahaan Mesir, diserang Houthi di kawasan Bab el-Mandeb. Reuters melaporkan empat awak kapal—tiga warga Pakistan dan seorang warga Indonesia—tewas. Dua anggota tim penyelamat Yaman juga kehilangan nyawa, sementara sejumlah orang lainnya terluka. Houthi mengklaim kapal tersebut membawa perlengkapan militer Saudi, tetapi klaim itu belum diverifikasi secara independen.

Serangan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran mengenai keselamatan pelayaran di perairan sekitar Yaman.

Kilang Saudi Aramco Kembali Menjadi Sasaran

Eskalasi kemudian meluas ke Arab Saudi.

Pada 13 Agustus 2026, Houthi mengumumkan bahwa mereka melancarkan serangan menggunakan dua pesawat nirawak terhadap kilang Saudi Aramco di Jazan, wilayah barat daya Arab Saudi yang berada tidak jauh dari perbatasan Yaman.

Menurut kantor berita Saba yang berafiliasi dengan Houthi, operasi itu dilakukan sebagai balasan atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran Arab Saudi terhadap wilayah udara dan kedaulatan Yaman di Provinsi Saada dan Hajjah. Pada saat laporan pertama diterbitkan, pemerintah Saudi belum memberikan tanggapan resmi mengenai klaim serangan tersebut.

Kilang Jazan memiliki arti strategis karena serangan terhadap fasilitas energi dapat membawa konsekuensi yang jauh melampaui medan perang Yaman. Setiap gangguan serius terhadap infrastruktur minyak Saudi berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar energi sekaligus memperbesar tekanan terhadap Riyadh untuk mengambil tindakan militer.

Arab Saudi Menghadapi Pilihan Sulit

Serangkaian serangan Houthi kini menempatkan Arab Saudi dalam posisi semakin sulit.

Riyadh selama beberapa tahun terakhir berusaha mengurangi keterlibatan langsungnya dalam perang Yaman. Namun, meningkatnya serangan lintas perbatasan membuat perhitungan tersebut kembali berubah.

Pada 6 Agustus 2026, militer Saudi melaporkan sedikitnya 11 warga sipil, termasuk seorang anak berusia empat tahun, terluka akibat serangan Houthi di wilayah Najran. Serangan tersebut terjadi setelah bentrokan besar di Yaman yang juga menimbulkan korban dalam jumlah besar di pihak pasukan pemerintah.

Sejumlah laporan kemudian menyebut Arab Saudi mempertimbangkan dukungan yang lebih besar terhadap operasi pasukan pemerintah Yaman untuk menekan Houthi, termasuk kemungkinan operasi darat dan laut guna mengubah keseimbangan kekuatan di sepanjang pesisir Laut Merah. Laporan mengenai persiapan ofensif semacam itu telah muncul sejak awal Agustus.

Jika operasi tersebut benar-benar diperluas, salah satu sasaran strategis terpenting kemungkinan adalah kawasan pesisir yang dikuasai Houthi. Penguasaan wilayah pantai memberi kelompok tersebut kemampuan untuk mengancam kapal yang melintasi Laut Merah dan Bab el-Mandeb.

Klaim Puluhan Komandan Houthi Tewas

Di tengah pertempuran yang semakin intensif, sumber-sumber Yaman juga mengklaim bahwa Houthi mengalami kerugian besar.

Menurut informasi yang beredar dari kubu anti-Houthi, sedikitnya 84 anggota Houthi disebut tewas dalam enam hari, termasuk sekitar 28 komandan.

Namun, angka tersebut perlu diperlakukan secara hati-hati karena berasal dari pihak yang terlibat langsung dalam konflik dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.

Hal serupa berlaku terhadap laporan bahwa Houthi diduga memanfaatkan informasi dari satelit Rusia untuk membantu operasi terhadap Arab Saudi dan pasukan pemerintah Yaman. Sumber anti-Houthi mengklaim Riyadh telah mengetahui informasi tersebut dan meneruskannya kepada Amerika Serikat.

Jika tuduhan mengenai dukungan berbasis satelit tersebut nantinya dapat dibuktikan, persoalan Yaman berpotensi memperoleh dimensi geopolitik baru. Konflik yang sebelumnya terutama melibatkan Houthi, pemerintah Yaman, Arab Saudi dan Iran dapat semakin terkait dengan persaingan kekuatan besar.

Iran Memperbesar Tekanan Regional

Pada saat bersamaan, Iran—sekutu utama Houthi—juga meningkatkan retorikanya terkait perkembangan di kawasan.

Teheran dilaporkan memperingatkan bahwa kemungkinan operasi militer Suriah ke wilayah Lebanon dapat memicu respons regional yang lebih luas. Laporan mengenai peringatan tersebut menunjukkan bahwa Iran berusaha mempertahankan pengaruhnya di jaringan konflik yang membentang dari Yaman, Irak dan Suriah hingga Lebanon.

Perkembangan ini membuat eskalasi Houthi tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan domestik Yaman. Konflik tersebut semakin terhubung dengan konfrontasi Iran dengan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah.

Dengan meningkatnya pertempuran darat, serangan terhadap kapal komersial, ancaman terhadap fasilitas energi Saudi, serta kemungkinan keterlibatan lebih besar Riyadh, kawasan Laut Merah kini menghadapi periode yang sangat menentukan.

Peringatan PBB menjadi semakin relevan: Yaman berada pada titik paling berbahaya sejak gencatan senjata 2022.

Apabila rangkaian serangan dan serangan balasan terus meningkat, konflik yang selama beberapa tahun berhasil ditekan dapat kembali berubah menjadi perang terbuka—dan kali ini dampaknya berpotensi tidak hanya menghantam Yaman, tetapi juga Arab Saudi, jalur perdagangan Laut Merah, serta stabilitas keamanan Timur Tengah secara keseluruhan. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
TNI AU Siapkan F-16 hingga Hawk dengan Asap Merah Putih untuk Demo Udara HUT Ke-81 RI
• 22 jam lalukompas.com
thumb
4 Hal Diketahui di Kasus Dugaan Transfer Pricing PT TPL Rugikan Negara Rp 2 T
• 21 jam laludetik.com
thumb
Jadwal Lengkap Puasa Agustus 2026, Ayyamul Bidh hingga Senin-Kamis
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Denny Indrayana Pertanyakan Ijazah SMA Gibran, Andi Azwan Ungkap Riwayat Sekolah | ROSI
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Seusai Laporkan Kinerja Kelompok DPD RI di MPR, Senator Dedi Iskandar Serahkan 2 Buku Kepada Pimpinan Sidang
• 2 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.