Pemprov DKI Jakarta terus mengembangkan aplikasi Jakarta Kini (JAKI). Salah satunya dengan menyematkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi foto hasil rekayasa dalam laporan atau aduan warga.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan pengembangan tersebut dilakukan setelah Pemprov DKI mengevaluasi sistem pengaduan melalui JAKI.
"Jadi saat ini sudah diterapkan AI image detector, sehingga terlihat pada saat ada laporan itu berapa persentasenya. Jadi, terbaca bahwa itu dari AI atau tidak. Yang kedua adalah AI recapture. Jadi, kan bisa saja dia melakukan AI ini melalui Gemini atau pun aplikasi lainnya," kata Marulina di Balai Kota Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Marulina menjelaskan teknologi tersebut akan bekerja ketika laporan warga telah didisposisikan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Setelah laporan ditindaklanjuti, petugas di wilayah biasanya mengunggah keterangan dan foto sebagai bukti penyelesaian melalui aplikasi JAKI.
"Pada saat mereka mengekspos, itu akan tertolak karena sudah diinjek AI Image Detection," ujarnya.
Tak hanya mendeteksi gambar yang dibuat langsung menggunakan AI, Pemprov DKI juga mengembangkan teknologi untuk mendeteksi foto AI yang kembali difoto menggunakan kamera ponsel lain.
Marulina menyebut fitur tersebut sebagai AI Recapture Image Detection. Teknologi itu dikembangkan untuk mengantisipasi upaya mengakali sistem deteksi.
"Jikalau image itu didapat dari AI sendiri, ataupun kalaupun dia sudah melakukan image dari AI kemudian di-recapture dengan handphone yang lain, kami pun menginjek AI Recapture Image Detection," jelasnya.
Dia berharap pengembangan tersebut dapat meningkatkan kualitas laporan sekaligus memastikan aduan yang masuk dan bukti penyelesaiannya benar-benar valid.
"Mudah-mudahan dengan pengembangan ini bisa membuat teman-teman yang di wilayah makin hati-hati dan juga memastikan bahwa laporannya semakin valid," jelasnya.
Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta juga akan menggelar JAKI & Fellowship Cities Forum (JFCF) 2026 pada 19-20 Agustus 2026. Forum ini menjadi wadah berbagi praktik terbaik transformasi digital dan inovasi pelayanan publik.
"Selama dua hari ini, sekitar 3.000 peserta akan hadir dan sudah mendaftar," ungkapnya.
Peserta berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, industri digital, komunitas, hingga masyarakat. Sejumlah isu yang dibahas meliputi AI, big data, komunikasi digital, inovasi publik, dan mobilitas perkotaan.
Pemprov DKI juga akan membagikan 200 aplikasi gratis kepada pemerintah daerah peserta, disertai coaching dari tim Jakarta Smart City. Marulina mengatakan forum ini diharapkan memperkuat posisi Jakarta sebagai hub transformasi digital pemerintahan.
"Jakarta ingin meng-capture knowledge-knowledge digital yang ada di kementerian, pemerintah daerah, untuk meningkatkan layanan digital di Pemprov DKI," imbuhnya.
(bel/idn)





