Titik panas terdeteksi berjejalan dari ujung barat sampai timur Indonesia. Ancaman kabut asap meningkat di berbagai wilayah, terutama Kalimantan, Sumatra, dan Papua Selatan.
Merujuk pada peta pemantauan titik api NASA, jumlah titik api yang terdeteksi di Indonesia melonjak pada Agustus ini. Padahal, fenomena El Nino yang membuat kemarau semakin kering dan panas belum mencapai puncaknya. El Nino tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat sepanjang sejarah, dengan prediksi puncak pada November.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat telah mengeluarkan Surat Edaran yang isinya meminta pemerintah daerah untuk melarang pembukaan lahan dengan cara membakar. Kepala daerah diminta melakukan moratorium peraturan yang mengizinkan praktik tersebut, serta menerapkan sanksi hukum bagi yang melanggar.
“Kami tidak memberi ruang bagi praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Seluruh pihak harus menaati ketentuan ini demi melindungi hutan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan ekonomi,” kata Jumhur, dikutip dari keterangan resmi pada Kamis (13/8).
Analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengukur aerosol di atmosfer menunjukkan, luasnya potensi sebaran partikulat kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatra, dan Papua Selatan pada periode 14-17 Agustus. Sedangkan angin berpotensi membawa asap ke luar wilayah Indonesia, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, bahkan Filipina.
Sebanyak 52 kabupaten/kota di Tanah Air berpotensi terdampak pada Jumat (14/8) ini, dengan potensi aerosol terbesar antara lain di Ketapang, Kayong Utara, Mempawah, Kapuas Hulu, Landak, Sintang dan Kubu Raya (Kalimantan Barat); Jambi dan Tanjung Jabung Timur (Kalimantan Barat); Bengkalis (Riau). Kualitas udara di Kubu Raya dan Mempawah tercatat tidak sehat, dengan konsentrasi partikulat PM2,5 tertinggi se-Indonesia.
Namun, bila merujuk pada Pusat Meteorologi Asean (ASMC), kondisi cuaca basah diperkirakan masih berlangsung di wilayah utara Asean dalam beberapa hari ke depan, antara lain di Sumatra bagian utara dan tengah, Kalimantan bagian utara, serta Semenanjung Malaysia. "Sehingga membantu meredam kemunculan titik panas dan kondisi kabut asap," demikian tertulis dalam analisis yang diperbaharui pada 14 Agustus.
Bila merujuk pada data Kementerian Kehutanan, karhutla telah menghanguskan sekitar 202 ribu hektare lahan sepanjang Januari-Juli 2026. Ini melampaui luasan pada periode sama di 2019 dan 2023, saat El Nino juga terjadi.
Melansir Sistem Pemantauan Karhutla SiPongi, luas indikatif karhutla di Kalimantan Barat mencapai 38,3 ribu hektare; Kalimantan Selatan mencapai 8 ribu hektare; Kalimantan Tengah 7,6 ribu hektare; Kalimantan Timur 2,7 ribu hektare; dan Kalimantan Utara 400 hektare.
Saat ini, sebanyak enam provinsi berstatus siaga darurat Karhutla yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan status tersebut karena daerah-daerah tersebut memiliki lahan gambut yang cukup luas, yang bila terbakar mudah menyebar dan susah padam.




