IPR: Pidato Prabowo Tunjukkan Arah Pemerintahan yang Semakin Jelas

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan memberikan nilai nyaris sempurna terhadap Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Bersama MPR RI, DPR RI, dan DPD RI.

Menurut Iwan, pidato Presiden Prabowo kali ini bukan sekadar pidato politik, melainkan laporan pertanggungjawaban politik kepada rakyat yang ditopang oleh sejumlah capaian konkret dan angka-angka kinerja pemerintahan.

BACA JUGA: Tanggapi Pidato Prabowo, Tamsil Linrung Anggap Indikator Ekonomi Positif, Ada Harapan

“Saya memberikan nilai 99,9. Ini bukan karena pidatonya bagus secara retorika saja, tetapi karena Presiden mampu menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah mulai menghasilkan angka-angka yang terukur. Ada output, ada outcome, dan ada arah yang jelas,” ujar Iwan Setiawan.

Iwan juga menilai pidato Presiden kali ini jauh dari kesan blunder maupun kata-kata dan kalimat kontroversial yang menimbulkan polemik di publik.

BACA JUGA: Ketua MPR Serukan Persatuan Jadi Kekuatan Utama Indonesia Hadapi Tantangan Zaman

Salah satu hal yang menjadi sorotan Iwan adalah perbaikan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Setelah dilakukan koreksi dan pembenahan laporan, laba BUMN pada 2024 tercatat sekitar Rp 186 triliun. Kemudian pada 2025, laba BUMN meningkat menjadi sekitar Rp 326 triliun atau tumbuh sekitar 75,3 persen.

BACA JUGA: Membaca ‘Paradoks Indonesia’ yang Dijawab Prabowo Dalam Pidato Kenegaraan 14 Agustus 2026

“Kenaikan laba BUMN menunjukkan adanya perbaikan tata kelola dan efisiensi yang signifikan. Ini bukan angka kecil. Ini menunjukkan aset negara dapat dikelola lebih produktif,” katanya.

Pada sisi penerimaan negara, dividen BUMN tahun 2024 mencapai Rp85,5 triliun.

Iwan menilai angka tersebut memperlihatkan bahwa BUMN tidak hanya diposisikan sebagai korporasi negara, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat kapasitas fiskal dan pembangunan nasional.

Menurut Iwan, pesan penting lain dari pidato Presiden adalah keberanian pemerintah melakukan koreksi terhadap data, tata kelola, serta kinerja institusi negara.

“Presiden sedang membangun budaya pemerintahan yang tidak boleh puas dengan angka di atas kertas. Kalau ada yang perlu dikoreksi, dikoreksi. Kalau ada kebocoran, ditutup. Kalau ada aset negara yang tidak produktif, harus dioptimalkan,” ujar Iwan.

Karena itu, menurutnya, ukuran keberhasilan pemerintahan Prabowo tidak boleh hanya dilihat dari popularitas kebijakan, tetapi dari peningkatan penerimaan, efisiensi anggaran, produktivitas BUMN, penciptaan lapangan kerja, dan manfaat yang diterima masyarakat.

Iwan juga menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Menurutnya, kebijakan tersebut memiliki dimensi yang jauh lebih besar dibanding sekadar pemberian makanan kepada anak sekolah.

“MBG adalah investasi manusia. Pemerintah sedang mencoba memutus rantai masalah stunting, kekurangan gizi, rendahnya kualitas kesehatan anak, sekaligus menciptakan multiplier effect bagi petani, nelayan, peternak, UMKM, koperasi dan ekonomi daerah,” katanya.

Iwan melihat benang merah pidato Presiden Prabowo adalah gagasan mengenai kemandirian nasional.

Kemandirian tersebut tercermin dalam dorongan terhadap industrialisasi, hilirisasi, penguatan BUMN, ketahanan pangan, energi, serta pengembangan industri nasional.

“Presiden ingin Indonesia tidak menjadi negara yang hanya menjadi pasar. Indonesia harus menjadi negara yang memproduksi, mengolah, memiliki teknologi, menciptakan nilai tambah dan menikmati hasil kekayaan alamnya sendiri,” jelas Iwan.

Menurut Iwan, arah tersebut relevan dengan tantangan geopolitik dan ekonomi global yang semakin tidak pasti.

Iwan menegaskan, pidato kenegaraan tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Pidato tersebut harus menjadi baseline untuk mengukur kinerja pemerintah pada tahun berikutnya.

“Hari ini Presiden menyampaikan capaian. Tahun depan publik harus kembali menagih. Berapa pertumbuhan ekonominya, bagaimana kemiskinan, pengangguran, daya beli, investasi, penerimaan negara, kinerja BUMN, kualitas pendidikan dan kesehatan. Jadi pidato ini harus menjadi kontrak kinerja yang bisa diuji,” tegasnya.

Iwan menyimpulkan kekuatan utama pidato Presiden Prabowo adalah kombinasi antara visi besar Indonesia dan angka-angka capaian yang konkret.

“Saya beri 99,9. Bukan 100 karena dalam politik dan pemerintahan tidak ada ruang untuk cepat puas. Masih ada pekerjaan rumah. Tetapi 99,9 menunjukkan bahwa arah pemerintahannya jelas, keberaniannya ada, dan hasilnya mulai terlihat dalam angka,” pungkas Iwan.

Menurut IPR, tantangan terbesar setelah pidato tersebut adalah memastikan seluruh capaian yang disampaikan Presiden dapat dipertahankan, ditingkatkan, diverifikasi secara transparan, dan benar-benar dirasakan masyarakat. (dil/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Prabowo Wacanakan Bentuk Pengadilan Ad Hoc untuk Usut Direksi BUMN 30 Tahun Terakhir


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komisi III DPR Setujui 14 Calon Hakim Agung dan Ad Hoc MA, Segera Dibawa ke Rapat Paripurna
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Puan: APBN Naik 20 Kali Lipat dalam 26 Tahun Terakhir
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Dukung Ketahanan Energi, Polda Sumsel Perkuat Penataan Sumur Minyak Rakyat
• 5 jam laludetik.com
thumb
Wisatawan asal Karawang Tetap Bertahan di Tengah Penutupan Bromo
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Biaya Pembangunan MRT Jakarta Rute Bundaran HI-Kota Rp 25,3 Triliun
• 12 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.