JAKARTA, KOMPAS — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Yahya Cholil Staquf menyatakan intervensi pihak luar terhadap pemilihan ketua umum dalam Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama merupakan hal yang tidak terhindarkan. Namun, Istana diyakini tidak akan ikut campur karena Presiden Prabowo Subianto selalu menghormati kemandirian organisasi.
Yahya Cholil Staquf menilai, masuknya pengaruh dari pihak eksternal menjelang muktamar sebagai dinamika politik yang sebenarnya sudah terjadi sejak lama dan sulit dihindari. Tarik-menarik kepentingan ini dianggap wajar mengingat besarnya Nahdlatul Ulama (NU) sehingga menjadi magnet bagi berbagai kelompok.
Menurutnya, kehadiran berbagai kepentingan luar tersebut bukanlah hal yang perlu ditakuti secara berlebihan karena sifatnya yang alamiah. Selama ada titik temu dan kesamaan arah, proses tawar-menawar dinilai sebagai sesuatu yang lumrah dalam mengelola organisasi. Ia pun meyakini seluruh kandidat ketua umum PBNU tetap bertumpu pada marwah serta nilai-nilai sakral yang diwariskan oleh para pendiri.
"Menurut saya itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti, karena kepentingan itu alami. Apa yang jadi kepentingan pihak luar mungkin jadi kepentingan kita juga. Jadi saya kira nggak masalah. Soal negosiasi biasa," ujar Gus Yahya saat ditemui di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Terkait isu campur tangan eksekutif dalam kontestasi, Gus Yahya meyakini bahwa pihak Istana tidak akan mengambil langkah-langkah intervensi. Keyakinan tersebut diperkuat oleh pernyataan sejumlah menteri yang menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak akan ikut campur dalam kontestasi pemilihan ketua umum PBNU.
"Saya tidak yakin bahwa Istana ini mau ikut-ikutan ya. Beberapa hari saya kira sudah ditandaskan oleh Menteri Haji dan Umrah, bahwa presiden sangat memperhatikan dan tidak akan melakukan sesuatu untuk merekayasa. Dari dulu memang selalu begitu," katanya.
Gus Yahya termasuk menjadi salah satu yang sudah menyatakan keinginan untuk maju dalam pemilihan ketua umum PBNU di Muktamar. Adapun bursa calon ketua umum PBNU lainnya, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Katib Aam PBNU KH Abdul Ghofar Rozin, hingga Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz. Selain itu, muncul figur seperti KH Abdussalam Shohib, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, serta Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori.
Gus Yahya berharap para penantangnya memiliki vitalitas serta kapasitas kepemimpinan yang valid dan kuat karena kemampuannya sendiri. Ia bahkan senang apabila muncul kandidat yang benar-benar kuat secara mandiri tanpa bergantung pada pihak lain. "Saya senang sekali kalau kemudian ada muncul kandidat yang betul-betul kuat karena dirinya sendiri. Kuat karena dirinya sendiri, itu yang penting," ujarnya.
Sebagai petahana, ia menilai rekam jejak, pikiran, dan tindakannya selama lima tahun memimpin dapat menjadi tolak ukur bagi pemilik suara. Publik maupun pemilih dipersilakan untuk melihat kinerjanya selama ini sebagai acuan dalam mengukur kualitas kandidat lain.
"Orang sudah lihat saya bagaimana, pikiran saya bagaimana, tindakan saya bagaimana, orang sudah lihat. Itu semua saya kira akan menjadi benchmark untuk mengukur kandidat-kandidat lain," tegasnya.
Yahya menilai kontestasi di Muktamar Lampung tahun 2021 justru lebih tajam meski hanya diikuti dua kandidat. Sebab, rekam jejak keduanya kala itu sudah jelas dan dikenal luas oleh muktamirin. Sebaliknya, ia menyebut sejumlah nama yang kini beredar dalam bursa pencalonan Muktamar ke-35 justru belum jelas kapasitas dan rekam jejaknya.
Kondisi itu seperti fenomena itu seperti kemunculan sosok-sosok baru yang tiba-tiba muncul tanpa “spek” atau rekam jejak yang jelas. Akibatnya, peserta muktamar bakal kesulitan menilai kualitas sesungguhnya dari masing-masing kandidat.
Sementara itu, salah satu kandidat Ketua Umum PBNU, KH Abdul Hakim Mahfudz atau akrab disapa Gus Kikin, terus mengonsolidasikan dukungan menjelang Muktamar. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu bersilaturahmi dengan 18 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Barat di Bandung, Kamis (13/8/2026) malam.
Turut hadir dalam pertemuan itu, antara lain, Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Abun Bunyamin, Katib Syuriyah PWNU Jawa Barat Kiai Haji Ade Fatahillah, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur H Maskuri Bakri, Presidium Nasional Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Kiai Rafi’uddin, Ketua PCNU Kabupaten Tasikmalaya KH Atam Rustam, serta jajaran pengurus PCNU kota dan kabupaten se-Jawa Barat.
Gus Kikin menjelaskan, silaturahmi tersebut menjadi momentum untuk saling mengenal dan memperkuat hubungan antarpengurus NU di Jawa Barat. Menurutnya, agenda itu sebenarnya sudah lama direncanakan, namun baru dapat terlaksana pada Kamis lalu. “Ini sebetulnya silaturahim biasa. Cuma karena memang dekat-dekat dengan Muktamar, akhirnya jadi tidak biasa,” ujarnya.
Mengenai dukungan pengurus NU Jawa Barat terhadap pencalonannya, ia menyerahkan penilaian tersebut kepada para pengurus yang hadir. Meski demikian, ia mengaku optimistis bakal mendapat dukungan penuh dari Tanah Pasundan. “Responsnya, alhamdulillah, ini kekeluargaan. Kalau kekeluargaan enggak milih, itu masa, gitu,” katanya.





