JAKARTA, KOMPAS.com – Riuh perlombaan 17 Agustus di Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (14/8/2026), tak hanya menghadirkan tawa bagi warga binaan.
Di balik sorak-sorai dan perlombaan, sejumlah warga binaan justru kembali mengingat rumah, keluarga, serta kebebasan yang selama ini terasa biasa.
Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, warga binaan berkumpul sejak pukul 09.00 WIB di arena gazebo Latucip yang dihiasi bendera Merah Putih dan umbul-umbul.
Baca juga: Ramai-ramai Ormas Demo PT Orang Tua Buntut Challenge Hafalan Al Quran Berhadiah Miras
Beragam lomba digelar, mulai dari makan kerupuk, memindahkan sedotan ke botol, estafet tepung, hingga tarik tambang dan balap karung.
Peserta dari tim musik, santri, bimbingan kemasyarakatan (bimkemas), pramuka, gereja, vihara, integrasi, bimbingan kerja (bingker), dan pengurus blok turut mengikuti perlombaan.
KOMPAS.com/Wildan Alghofari Meriahnya warga binaan lapas cipinang mengikuti lomba 17 Agustus
Kepala Lapas Kelas I Cipinang Syarpani mengatakan, perlombaan tersebut merupakan bagian dari pembinaan untuk menjaga kesehatan, semangat, dan motivasi bagi warga binaan.
“Biar mereka sehat, tampil sportif, dan turut berpartisipasi dalam rangka mengisi kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Syarpani di Lapas Kelas I Cipinang, Jumat.
Ia menambahkan, kegiatan olahraga bagi warga binaan tidak hanya dilakukan saat perayaan kemerdekaan, tetapi berlangsung rutin sebagai bagian dari pembinaan.
“Kalau yang sehari-harinya pun kami melaksanakan, karena 2.100 orang ini kan setiap harinya berolahraga,” jelas Syarpani.
Namun, di tengah kemeriahan itu, masing-masing warga binaan memiliki cerita berbeda tentang arti kemerdekaan yang mereka rasakan dari balik tembok lapas.
Tawa yang Menyimpan Rindu Rumah
Salah satu warga binaan, AD (41), tetap mengikuti lomba estafet tepung bersama rekan-rekannya meski pikirannya beberapa kali kembali pada rumah.
Baca juga: Perjalanan Pulang Tak Sampai Tujuan, ASN Kota Bogor Diduga Jatuh dan Hanyut di Sungai Cisadane
Ia mengatakan, perayaan 17 Agustus di dalam lapas membuat suasana hati terasa campur aduk.
“Di satu sisi rame karena ada lomba-lomba, tapi di sisi lain suasana ramainya itu justru bikin hati kerasa makin sepi kalau ingat rumah,” ujar AD kepada Kompas.com di Lapas Cipinang, Jumat.
AD paling merindukan putra bungsunya yang dahulu kerap ia dampingi mengikuti perlombaan di lingkungan tempat tinggalnya.