Jakarta: Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto menyebut Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) yang direncanakan aktif pada 2027. Hal itu bertujuan agar Indonesia memiliki harga referensi dan tidak bergantung pada bursa di luar negeri.
"Melalui bursa ini, pembentukan harga, standar mutu dan penyelesaian transaksi dapat berlangsung secara transparan dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tujuannya agar Indonesia memiliki harga referensi sendiri dan tidak bergantung pada bursa di luar negeri," kata Brian kepada ANTARA dikutip Sabtu, 15 Agustus 2026.
Kepala BIM menyebut Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Indonesia telah dibentuk. Satgas melibatkan BIM, Danantara, Bank Indonesia, dan OJK sebagai koordinatornya, serta unsur ekosistem bursa, seperti lembaga kliring, surveyor, pengelola pergudangan, perusahaan tambang, dan asosiasi industri.
Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam rangka menciptakan sistem perdagangan yang terorganisasi dan terintegrasi untuk memperdagangkan mineral serta komoditas strategis, termasuk produk turunannya.
"Dalam proses pembentukannya, Satgas juga akan terus berkoordinasi dan meminta masukan serta arahan dari kementerian dan lembaga terkait, khususnya Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian," ujar Brian.
Baca Juga :
Dasco Sebut Peraturan Bursa Mineral Harus Rampung 2026 Menurut Brian, kolaborasi lintas sektor menjadi krusial. Sehingga, desain bursa selaras dengan kebijakan pertambangan, perdagangan, hilirisasi industri, dan agenda perekonomian nasional.Ia menyebut satgas saat ini bekerja secara intensif menyiapkan seluruh aspek yang dibutuhkan, mulai dari regulasi, tata kelola, dan kelembagaan hingga teknologi, operasional, serta komunikasi.
"BIM secara khusus menyiapkan fondasi dari sisi hulu, termasuk penguatan data sumber daya dan cadangan, standardisasi mutu serta spesifikasi produk, dan percepatan hilirisasi agar komoditas yang diperdagangkan kredibel, dapat ditelusuri, dan memiliki nilai tambah tinggi," ungkap Brian.
Brian berharap BMKS menjadi bursa yang likuid, juga ekosistem mineral strategis yang tangguh, transparan, dan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Selain itu, BMKS diharapkan menjadi katalisator hilirisasi, memperkuat kemandirian industri pertahanan, serta menopang ketahanan ekonomi dan keamanan nasional.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan Indonesia memiliki BMKS yang mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.
"Dengan dukungan DPR, rencana kita 1 Januari 2027, kita akan memiliki bursa komoditas sendiri. Kita targetkan, ketentuan penyelenggaraan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis segera dibahas dengan DPR RI dan mohon diterbitkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya," ujar Presiden Prabowo dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya di Gedung MPR RI Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.




