Banda Aceh (ANTARA) - Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah mengajak seluruh masyarakat untuk selalu menjaga perdamaian Aceh, terutama dalam peringatan 21 tahun perjanjian damai Aceh atau Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki, Finlandia 2005.
"Pesan kepada seluruh masyarakat Aceh, mari kita jaga kedamaian, perdamaian berkelanjutan, tidak ada keuntungan dalam keributan," kata Fadhlullah, di Banda Aceh, Sabtu.
Pernyataan itu disampaikan Fadhlullah kepada awak media usai mengikuti peringatan Hari Damai Aceh ke 21 yang diselenggarakan Badan Reintegrasi Aceh (BRA), di Balai Meuseuraya Aceh, Kota Banda Aceh.
Imbauan tersebut juga disampaikan Fadhlullah sebagai respon terkait aksi kibaran bendera GAM atau bendera bulan bintang di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh oleh masa, hingga menimbulkan kericuhan pada Sabtu (15/8).
Terkait aksi tersebut, Fadhlullah mengatakan bahwa dirinya sendiri merupakan salah satu pelaku sejarah selama masa konflik Aceh, dan eks kombatan GAM, tetapi keributan tersebut telah memberikan kerugian bagi Aceh.
"Kami ini pelaku sejarah, saya juga mantan kombatan GAM, jadi pertarungan tidak ada keuntungan bagi kita," ujarnya.
Bahkan kata dia, akibat konflik berkepanjangan, Aceh mengalami tekanan ekonomi, dan tertinggal jauh dari provinsi lainnya di Indonesia.
"Kita sudah rasakan pertumbuhan ekonomi lambat, saat provinsi lain sudah bisa lari, kita masih lahir untuk menata diri," ujarnya.
Karena itu Fadhlullah mengajak masyarakat Aceh agar terus merawat perdamaian, karena ini merupakan kesempatan bagi Aceh berbenah, dan bangkit dari ketertinggalan ekonomi.
"Ini lah kesempatan bagi kita, dengan jalannya damai, mari kita bangkit dengan ekonomi, masyarakat kita bisa tumbuh, dan Aceh tumbuh menjadi negeri baldatun toyyibatun warrobun ghofur," ujar Fadhlullah.
Baca juga: JK tegaskan 21 tahun perdamaian Aceh momentum bangun kesejahteraan
Baca juga: Wakil Gubernur: Keadilan menjadi fondasi keberlanjutan damai Aceh
"Pesan kepada seluruh masyarakat Aceh, mari kita jaga kedamaian, perdamaian berkelanjutan, tidak ada keuntungan dalam keributan," kata Fadhlullah, di Banda Aceh, Sabtu.
Pernyataan itu disampaikan Fadhlullah kepada awak media usai mengikuti peringatan Hari Damai Aceh ke 21 yang diselenggarakan Badan Reintegrasi Aceh (BRA), di Balai Meuseuraya Aceh, Kota Banda Aceh.
Imbauan tersebut juga disampaikan Fadhlullah sebagai respon terkait aksi kibaran bendera GAM atau bendera bulan bintang di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh oleh masa, hingga menimbulkan kericuhan pada Sabtu (15/8).
Terkait aksi tersebut, Fadhlullah mengatakan bahwa dirinya sendiri merupakan salah satu pelaku sejarah selama masa konflik Aceh, dan eks kombatan GAM, tetapi keributan tersebut telah memberikan kerugian bagi Aceh.
"Kami ini pelaku sejarah, saya juga mantan kombatan GAM, jadi pertarungan tidak ada keuntungan bagi kita," ujarnya.
Bahkan kata dia, akibat konflik berkepanjangan, Aceh mengalami tekanan ekonomi, dan tertinggal jauh dari provinsi lainnya di Indonesia.
"Kita sudah rasakan pertumbuhan ekonomi lambat, saat provinsi lain sudah bisa lari, kita masih lahir untuk menata diri," ujarnya.
Karena itu Fadhlullah mengajak masyarakat Aceh agar terus merawat perdamaian, karena ini merupakan kesempatan bagi Aceh berbenah, dan bangkit dari ketertinggalan ekonomi.
"Ini lah kesempatan bagi kita, dengan jalannya damai, mari kita bangkit dengan ekonomi, masyarakat kita bisa tumbuh, dan Aceh tumbuh menjadi negeri baldatun toyyibatun warrobun ghofur," ujar Fadhlullah.
Baca juga: JK tegaskan 21 tahun perdamaian Aceh momentum bangun kesejahteraan
Baca juga: Wakil Gubernur: Keadilan menjadi fondasi keberlanjutan damai Aceh





