Film Pendek Di Bawah Langit Timur Angkat Kisah Cinta Tanah Air dari Pedalaman Papua

republika.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Semangat perjuangan, harapan, persatuan, dan kecintaan terhadap Tanah Air diangkat melalui film pendek musikal Di Bawah Langit Timur. Film yang mengambil kisah dari pedalaman Papua tersebut dipersembahkan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Mengambil latar di Distrik Wamena, Papua Pegunungan, film yang disutradarai Abet Fahmi tersebut mengikuti perjalanan Libo, seorang anak Papua dari pedalaman menuju sebuah upacara bendera.

Baca Juga
  • SD Tarakanita Bumijo Gelar Karnaval Kemerdekaan di Tugu Jogja
  • Semarak Kemerdekaan MyPertamina Pasar Rakyat, Hadirkan Aktivitas Seru dan Tebus Murah Sembako

Perjalanan Libo menjadi pintu masuk untuk mengangkat kisah tentang perjuangan, harapan, dan kecintaan kepada Indonesia sekaligus menghadirkan perspektif Timur dalam melihat makna kemerdekaan.

Abet mengatakan, Papua dipilih untuk menunjukkan luasnya cerita tentang Indonesia. “Saya pilih Papua karena ingin menunjukkan bahwa Indonesia itu seluas cerita yang kita punya. Papua bukan cuma soal tempat yang indah, tapi soal manusia dan cerita di sana yang layak didengar,” katanya, Sabtu (15/8/2026).

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Menurut Abet, masyarakat dan kehidupan Papua menjadi elemen penting dalam film tersebut. Ia juga sengaja memilih pemeran utama dari masyarakat Papua yang tinggal di wilayah tersebut untuk menjaga karakter cerita tetap natural. “Saat saya menulis cerita ini, saya tidak mengenal mereka, saya mau yang memerankan ini anak papua asli dan memang tinggal di sana,” ujar Abet.

Menurut dia, tantangan dalam proses produksi adalah mengubah kebiasaan pemeran yang sebelumnya membuat konten menjadi bermain sebagai karakter. Namun, spontanitas dan karakter alami mereka justru dipertahankan sebagai kekuatan film.

Di Bawah Langit Timur membawa pesan bahwa persatuan Indonesia tidak harus menghilangkan identitas dan keberagaman setiap daerah. Abet berharap film tersebut dapat mengajak penonton melihat Indonesia sebagai rumah bersama yang dibangun dari banyak budaya, bahasa, tradisi, dan cerita.

“Saya berharap kita bisa semakin melihat Indonesia sebagai satu kesatuan tanpa merasa harus menjadi sama. Kita boleh berbeda, punya cerita dan budaya masing-masing, tapi tetap punya rumah yang sama,” katanya.

Selain film, pesan tersebut diperkuat melalui original soundtrack (OST) berjudul Fajar Indonesia yang digarap penata lagu Sastro Adi. Sastro mengatakan, lagu tersebut berangkat dari Mantra Mukaddimah Fajar Indonesia dan memadukan nilai serta falsafah dari berbagai daerah di Nusantara.

Lirik Fajar Indonesia turut mengangkat sejumlah nilai budaya, antara lain Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge dari Bugis-Makassar, Memayu Hayuning Bawana dari Jawa, Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh dari Sunda, serta Dalihan Na Tol dari Batak.

Sastro mengatakan, proses kreatif lagu tersebut berlangsung secara organik selama sekitar delapan hari. Menurut dia, nasionalisme yang dibawa melalui lagu tersebut berangkat dari kesadaran pribadi untuk mencintai dan mengabdi kepada Indonesia.

“Saya tidak pernah berharap apapun kepada Indonesia, justru saya berharap kepada diri saya agar senantiasa diberikan kesadaran bahwa mencintai Indonesia adalah tujuan saya dilahirkan. Demikian titik dan tidak pakai koma.”

Executive Producer Ulta Levenia mengatakan, film tersebut hadir sebagai persembahan kreatif untuk HUT ke-81 RI. Film ini diharapkan membuka ruang lebih luas bagi cerita dari berbagai daerah yang belum banyak terdengar dalam industri kreatif nasional.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
JK Ajak Masyarakat Bantu Korban Gempa NTT: Ini Kemanusiaan, PMI Bisa Salurkan
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Sampaikan Duka atas Musibah Gempa di NTT, Perintahkan Jajaran Bergerak Cepat
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Kata Andovi da Lopez saat Lihat First Look Film Bapak Paling Jujur
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Ingin Bentuk Pengadilan Adhoc, Istana Tegaskan Tak Terbatas Benahi BUMN
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Mensesneg: Pemberian Kewarganegaraan Ganda Bakal Sangat Selektif
• 15 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.