- Perbedaan Diet Sehat dengan Anoreksia
- Tanda-Tanda Anoreksia
- Penyebab Anoreksia
- Dampak yang Perlu Diwaspadai
- Cara Mengatasinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Orang tua perlu mengenali tanda-tanda anoreksia sejak dini karena gangguan makan ini sering berkembang tanpa disadari. Keinginan memiliki tubuh ideal kerap mendorong seseorang menjalani diet secara berlebihan hingga membatasi asupan makanan secara ekstrem.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa anoreksia adalah gangguan makan yang membuat penderitanya sangat takut mengalami kenaikan berat badan dan memiliki obsesi untuk tetap kurus. Kondisi tersebut mendorong penderita terus mengurangi porsi makan meski tubuhnya membutuhkan nutrisi yang cukup.
Masalahnya, masalah anoreksia kadang muncul tanpa disadari dan sudah jadi masalah global. Nah, berikut ini kita cari tahu lebih dekat apa itu anoreksia dan cara pencegahannya, dikutip dari Beautynesia, Sabtu (15/8/2026).
Anoreksia atau anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang membuat seseorang membatasi jumlah makanan yang dikonsumsi karena memiliki ketakutan yang sangat besar terhadap kenaikan berat badan. Meski tubuhnya sudah sangat kurus, mereka sering kali masih merasa dirinya gemuk atau belum cukup langsing.
Melansir Mayo Clinic, anoreksia bukan sekadar pilihan untuk berdiet atau menurunkan berat badan. Gangguan ini berkaitan dengan perubahan cara seseorang memandang tubuhnya (body image) dan memengaruhi cara berpikir serta berperilaku terhadap makanan. Karena itu, anoreksia termasuk kondisi kesehatan mental yang membutuhkan penanganan profesional.
Selain itu, perlu diketahui bahwa anoreksia tidak hanya dialami oleh perempuan remaja. Gangguan ini dapat terjadi pada pria maupun perempuan dari berbagai usia dan latar belakang.
Sekilas, diet sehat dan anoreksia memang sama-sama bertujuan mengurangi berat badan. Namun, keduanya ternyata memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Pada diet sehat, seseorang tetap memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, memiliki target yang realistis, serta tidak merasa cemas berlebihan jika berat badan sedikit berubah. Fokus utamanya adalah menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Sebaliknya, pada anoreksia, dorongan untuk menjadi kurus berubah menjadi obsesi. Penderitanya rela melewatkan waktu makan, membatasi kalori secara ekstrem, berolahraga berlebihan, atau melakukan berbagai cara lain demi mencegah kenaikan berat badan.
Ketakutan tersebut tetap muncul meski berat badannya sudah berada di bawah batas normal. Sebagaimana diulas pada laman Cleveland Clinic, anoreksia berkembang dari pikiran dan perasaan negatif terhadap makanan, berat badan, serta citra tubuh yang akhirnya menguasai kehidupan sehari-hari.
Gejala anoreksia tidak hanya terlihat dari perubahan berat badan. Gangguan ini juga memengaruhi kondisi emosional dan perilaku penderitanya. Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:
- Gejala Fisik
Berat badan turun drastis dan tubuh tampak sangat kurus
Mudah lelah, lemas, dan sering merasa kedinginan
Pusing atau mudah pingsan
Rambut rontok atau menipis
Kulit kering
Detak jantung melambat
Menstruasi menjadi tidak teratur atau berhenti pada perempuan
- Perubahan Perilaku
Terus-menerus menghitung kalori makanan
Sangat takut mengalami kenaikan berat badan
Menghindari makan bersama orang lain
Mengaku sudah makan padahal belum
Berolahraga secara berlebihan
Terobsesi menimbang berat badan atau bercermin
Tetap merasa gemuk meski tubuhnya sudah sangat kurus
Rasa takut berlebihan pada kenaikan berat badan membuat mereka melakukan hal-hal yang tidak biasa, sehingga pada akhirnya akan berdampak pada kondisi kesehatan fisik maupun interaksi sosial. Jika melihat tanda di atas, maka harus dilakukan penanganan segera.
Sayangnya, hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab anoreksia. Para ahli meyakini bahwa kondisi ini muncul akibat kombinasi berbagai faktor. Menurut Mayo Clinic, faktor genetik dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami anoreksia. Selain itu, karakter perfeksionis, gangguan kecemasan, maupun kecenderungan obsesif juga berperan dalam perkembangan gangguan ini.
Sementara itu, Cleveland Clinic menjelaskan bahwa perubahan pada cara kerja otak, termasuk yang berkaitan dengan serotonin dan dopamin, juga diduga ikut memengaruhi nafsu makan, suasana hati, serta kemampuan mengendalikan impuls. Di samping itu, tekanan lingkungan, standar kecantikan, hingga paparan media sosial yang mengagungkan tubuh kurus dapat menjadi faktor pemicu pada sebagian orang.
Sementara itu, salah satu jurnal yang dipublikasikan di Pubmed Central bahkan melaporkan bahwa kasus masalah pola makan, termasuk anoreksia, semakin meningkat seiring makin tingginya penggunaan internet. Pasalnya, orang lebih mudah mengakses informasi dan tren terkait standar kecantikan.
Mayo Clinic juga menjelaskan bahwa ada beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami anoreksia, antara lain:
- Remaja yang sedang mengalami perubahan fisik dan emosional
- Memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan makan
- Sering menjalani diet ketat
- Pernah mengalami perundungan terkait bentuk tubuh atau berat badan
- Memiliki gangguan kecemasan atau sifat perfeksionis
- Berprofesi di bidang yang menuntut tubuh langsing, seperti model, atlet, atau penari.
Diagnosis anoreksia sendiri tidak hanya berdasarkan berat badan seseorang. Dokter akan melakukan wawancara mengenai pola makan, riwayat kesehatan, kondisi psikologis, serta perubahan berat badan yang dialami. Selain pemeriksaan fisik, dokter juga dapat melakukan tes laboratorium atau pemeriksaan penunjang lainnya untuk mengetahui apakah sudah terjadi komplikasi akibat kekurangan nutrisi.
Banyak orang mengira dampak anoreksia hanya sebatas tubuh menjadi kurus. Padahal, kekurangan nutrisi dalam jangka panjang dapat mengganggu hampir seluruh organ tubuh.
Menurut Mayo Clinic, anoreksia dapat menyebabkan anemia, gangguan irama jantung, gagal jantung, osteoporosis, penurunan massa otot, gangguan ginjal, hingga masalah pada sistem reproduksi. Kondisi ini juga meningkatkan risiko depresi, kecemasan, perilaku menyakiti diri sendiri, bahkan bunuh diri. Pada kasus yang berat, anoreksia bisa berakibat fatal.
Cara MengatasinyaKabar baiknya, anoreksia dapat ditangani, terutama jika terdeteksi sejak dini. Menurut Cleveland Clinic, penanganan biasanya melibatkan kerja sama berbagai tenaga kesehatan, seperti dokter, psikolog atau psikiater, serta ahli gizi. Terapi dapat berupa psikoterapi, konseling gizi, pemulihan berat badan secara bertahap, hingga pemberian obat untuk mengatasi gangguan psikologis yang menyertai jika diperlukan. Pada kondisi yang sudah berat atau mengancam keselamatan pasien, perawatan di rumah sakit mungkin dibutuhkan.
Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat juga memegang peranan penting selama proses pemulihan karena penderita sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami gangguan makan.
Selain itu, jangan menunggu hingga kondisi memburuk. Segera konsultasi dengan ahli kesehatan jika seseorang menunjukkan tanda-tanda seperti penurunan berat badan yang drastis, terus-menerus menolak makan, sangat takut mengalami kenaikan berat badan, atau mulai mengalami gangguan kesehatan akibat kekurangan nutrisi.
(dce)




