Minggu, kualitas udara Jakarta terburuk kedua di dunia

antaranews.com
6 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Kualitas udara di Jakarta pada Minggu pagi masuk kategori tidak sehat dan menduduki peringkat kedua sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.01 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 167 atau masuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5 dan nilai konsentrasi 79 mikrogram per meter kubik.

Angka itu memiliki penjelasan tingkat kualitas udaranya tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Situs tersebut juga merekomendasikan terkait kondisi udara di Jakarta, yaitu masyarakat sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan.

Jika berada di luar ruangan gunakanlah masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

Sementara itu, kategori baik yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

Kemudian, kategori sedang yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

Lalu, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.

Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama yaitu Dubai (Uni Emirat Arab) dengan angka 173, ketiga yaitu Manama (Bahrain) dengan angka 159, urutan keempat Doha (Qatar) di angka 155 dan urutan kelima Lahore (Pakistan) dengan angka 146.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan respon cepat untuk menanggulangi pencemaran udara di ibu kota saat musim kemarau, yang diprediksi terjadi pada awal Mei hingga Agustus.

Langkah cepat penanganan pencemaran udara saat kemarau itu meliputi peningkatan kualitas sistem pemantau kualitas udara dan uji emisi kendaraan bermotor.

Selain itu, Pemprov DKI juga memiliki Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang sedang dievaluasi dari berbagai aspek, mulai dari tren PM2.5, beban emisi per sektor hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Menurut Pemprov DKI, pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan oleh satu wilayah secara parsial sehingga diperlukan aksi bersama yang terintegrasi antar organisasi perangkat daerah serta kolaborasi lintas wilayah di sekitar Jakarta.

Baca juga: Langkah-langkah untuk mencegah gangguan pernapasan semasa kemarau

Baca juga: Pramono: Kenaikan jumlah penumpang transportasi umum bisa tekan polusi

Baca juga: 10 penyakit yang bisa dipicu polusi udara, dari asma hingga stroke


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Soroti Kasus Eks Jampidsus, SETARA Institute: Supremasi Hukum Harus Ditegakkan
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Pertamax Turbo hingga Pertamina Dex Diskon Rp450 per Liter, Cek Syarat dan Jadwalnya
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Transformasi Lomba Panjat Pinang 17 Agustusan, Kini Makin Canggih di Era Digital
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Sejumlah Pengusaha Berbagi Pengalaman Bangun Bisnis hingga Lepas Dari Jerat Utang
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Damai Putra Group Luncurkan CRESTA, Hunian Lakeside Living dengan Fasilitas Premium, Cicilan Mulai Rp3 Juta-an per Bulan
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.