Gempa Flores dan Pelajaran yang Terus Berulang: Bersiap Sebelum Rumah Runtuh

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Laut Flores, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nusa Tenggara Timur (NTT). Guncangan kuat dirasakan di berbagai wilayah Flores dan memicu tsunami kecil di sejumlah pesisir.

Data Badan Nasiobal Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diperbarui pada Sabtu malam mencatat 47 orang meninggal dunia dan ratusan rumah mengalami kerusakan. Laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT memperlihatkan dampaknya tersebar di sejumlah kabupaten.

Di Manggarai, misalnya, 29 rumah tercatat rusak berat, sembilan rusak sedang dan sembilan rusak ringan. Di Manggarai Timur, 23 rumah di Desa Lenang dilaporkan hancur total. Sejumlah gereja, kantor, rumah sakit, jalan dan fasilitas publik juga rusak.

Baca JugaDikejar Reruntuhan Gedung dan Bayangan Tsunami saat Gempa Flores

Gempa kali ini bersumber dari aktivitas Flores Back Arc Thrust atau Sesar Naik Flores, struktur tektonik aktif di utara Flores. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tergolong dangkal, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Kedalaman ini ikut menjelaskan kuatnya guncangan dan kerusakan yang ditimbulkan.

Sistem sesar ini bukan sumber gempa yang baru dikenal. Pada 12 Desember 1992, kawasan Flores diguncang gempa besar yang juga berkaitan dengan Flores Back Arc Thrust. Gempa itu memicu tsunami dahsyat dan menewaskan lebih dari 2.000 orang.

BMKG dalam berbagai kajiannya mencatat sesar ini sebagai salah satu sumber gempa merusak yang terus mengancam kawasan Bali, Lombok, Sumbawa dan Flores.

Baca JugaCatatan Visual Gempa dan Tsunami Flores 1992

Gempa 1992 mencapai M 7,8. Artinya, peristiwa 15 Agustus 2026 dengan M 7,7 bukanlah kejadian yang sama sekali di luar pengalaman kawasan ini. Justru sebaliknya, sejarah telah menunjukkan bahwa sumber gempa di utara Flores mampu menghasilkan gempa besar dan tsunami.

Kejadian gempa pada tahun 1992, diikuti longsoran bawah laut sehingga memicu tsunami besar. Kali ini, gempa tidak memicu longsoran bawah laut, sehingga tsunami relatif kecil. Ancaman kehancuran, bisa lebih besar jika skenario seperti 1992 kembali berulang.

Itulah mengapa gempa Flores seharusnya tidak hanya dibaca sebagai bencana hari ini. Ia adalah pelajaran dari masa lalu yang kembali datang.

Alam memberi peringatan, manusia sering lupa Pada 1992, tsunami menghancurkan Maumere dan Pulau Babi. Riset setelah kejadian menunjukkan gelombang tsunami menerjang berbagai kawasan pesisir Flores. Di Wuring, ketinggian tsunami sekitar 3,2 meter, sementara di Riangkroko tercatat jauh lebih tinggi akibat longsor bawah laut.

Tiga puluh empat tahun kemudian, ancaman itu kembali terasa. Bedanya, kali ini tsunami relatif kecil. Jaringan pengamatan muka laut mencatat tsunami di sejumlah lokasi, antara lain 1,61 meter di Reo, Manggarai dan Manggarai Timur serta 0,94 meter di Maurole, Ende. BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami setelah memastikan kondisi laut kembali aman.

Sistem peringatan dini juga bekerja cepat. BMKG mengeluarkan peringatan tsunami hanya sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa utama. Tetapi teknologi peringatan dini hanyalah satu lapis pertahanan.

Lapisan lainnya yakni masyarakat yang tahu apa yang harus dilakukan, tata ruang yang mempertimbangkan bahaya, jalur evakuasi yang benar-benar berfungsi, dan bangunan yang tidak berubah menjadi perangkap ketika tanah berguncang.

Di sinilah persoalan lama kembali mengemuka.

Pola kerusakan yang berulang

Rumah-rumah yang roboh setiap terjadinya gempa bukan sekadar soal magnitudo Setiap gempa di Indonesia hampir selalu memperlihatkan pola yang sama, rumah-rumah tembok mengalami kerusakan berat atau roboh.

Dokumen Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT menunjukkan kerusakan rumah tersebar di sejumlah kabupaten. Di Manggarai tercatat 29 rumah rusak berat, sembilan rusak sedang dan sembilan rusak ringan. Di Manggarai Timur, 23 rumah di Desa Lenang dilaporkan hancur total. Sejumlah rumah lain rusak di berbagai desa.

Baca JugaBadan Geologi Temukan Indikasi Likuefaksi di Nagekeo Setelah Gempa Magnitudo 7,7

Ini bukan berarti rumah tembok pasti tidak aman. Rumah bata atau beton dapat dirancang tahan gempa. Masalahnya, banyak rumah dibangun tanpa sistem struktur yang benar. Dinding bata tak diperkuat dengan baik, sambungan antara dinding dan struktur lemah, kualitas material buruk, atau bangunan didirikan tanpa mengikuti standar.

Dalam gempa, berat juga menjadi persoalan. Bangunan yang berat menghasilkan gaya inersia yang lebih besar ketika tanah bergerak. Dinding pasangan bata yang tidak diperkuat dapat menjadi rapuh dan runtuh keluar dari bidangnya.

Karena itu, pertanyaan setelah gempa semestinya bukan hanya, seberapa besar gempa? Tetapi juga, seberapa baik rumah kita dibangun untuk menghadapi gempa sebesar itu?

Di tengah reruntuhan, ada cerita yang memperlihatkan kemungkinan lain. Chois Baga, warga Maumere, yang dihubungi Sabtu malam, menuturkan, rumahnya tetap aman sementara bangunan sekitarnya rusak. Rumahnya dibangun memakai bambu dan papan. "Rumahku aman, soalnya aku masih bangun sederhana. Masih dari bambu, jadi sejauh ini masih aman," kata dia.

Kisah ini menarik bukan karena bambu otomatis lebih aman daripada beton. Tidak sesederhana itu. Rumah bambu yang dibangun buruk juga dapat roboh. Tetapi material yang ringan dan struktur yang fleksibel memiliki karakter berbeda dari bangunan tembok berat yang rapuh.

Cerita tentang rumah kayu dan bambu yang bertahan seharusnya mendorong kita melihat kembali pengetahuan konstruksi lokal yang selama ini kerap dianggap kuno. Jangan sampai, teknologi rumah kayu atau bambu yang tahan gempa justru dianggap tertinggal.

Di Flores, masyarakat telah lama mengenal rumah dengan material lokal yang ringan dan lentur. Pengetahuan itu bukan sesuatu yang harus ditinggalkan hanya karena rumah beton dianggap lebih modern.

Baca JugaCatatan Visual Gempa dan Tsunami Flores 1992

Hal yang dibutuhkan adalah menggabungkan pengetahuan lokal dengan prinsip rekayasa modern. Rumah bambu bisa diperkuat. Rumah kayu bisa dirancang dengan sambungan yang lebih baik. Rumah tembok bisa dibuat tahan gempa. Teknologi tak harus berarti mengganti seluruh pengetahuan lokal dengan beton dan baja.

Ancaman ke depan

Gempa susulan saat ini masih menjadi ancaman di Flores. Ancaman dari gempa Flores juga belum sepenuhnya selesai, karena rumah yang telah retak bisa ambruk sewaktu-waktu dengan guncangan tambahan.

Menurut catatan BMKG, terdapat 235 gempa susulan hingga pukul 14.00 WIB pada Sabtu, dengan magnitudo antara 2,5 hingga 6,2. Tren aktivitas gempa susulan saat itu belum menunjukkan peluruhan signifikan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memperkirakan proses peluruhan alami dapat membutuhkan dua hingga tiga minggu. “BMKG mengestimasi proses peluruhan alami butuh waktu 2-3 minggu,” ujar Faisal, dalam rapat koordinasi penanganan darurat bencana gempa bumi NTT.

Oleh karena itu, masyarakat perlu menjauhi bangunan yang retak atau rusak dan tidak kembali begitu saja sebelum dinyatakan aman. Tetapi setelah fase darurat selesai, pekerjaan yang jauh lebih panjang harus dimulai.

BMKG mengestimasi proses peluruhan alami butuh waktu 2-3 minggu.

Sejauh ini BMKG telah menurunkan tim untuk melakukan pemetaan mikrozonasi dan analisis kondisi tanah. Hasilnya akan digunakan sebagai rujukan rekonstruksi dan retrofitting bangunan.

Pekerjaan semacam ini seharusnya tidak berhenti di Flores, terutama setelah gempa. Jangan menunggu gempa berikutnya. Indonesia memiliki begitu banyak sumber gempa aktif sehingga membayangkan bahwa suatu daerah akan "aman" hanya karena sudah lama tidak diguncang gempa adalah kesalahan besar.

Kita juga tidak bisa mengetahui secara presisi kapan dan di mana gempa besar berikutnya akan terjadi. Karena itu, energi publik tidak seharusnya habis untuk menebak-nebak gempa berikutnya. Yang jauh lebih penting adalah mengurangi kerentanan yang sudah kita ketahui.

Rumah sakit harus diperiksa. Sekolah harus diperkuat. Rumah warga yang rentan harus diretrofit. Bangunan baru harus memenuhi standar. Jalur evakuasi harus jelas dan bebas hambatan. Latihan evakuasi harus dilakukan secara berkala, bukan hanya setelah bencana terjadi.

Baca JugaBayang Tsunami Flores 1992 Kembali Bikin Panik Warga Selayar

Pengalaman warga Maumere memperlihatkan satu masalah penting, jalur evakuasi mungkin ada, tetapi masyarakat bisa panik ketika tidak pernah berlatih. Dalam catatan lapangan, warga mengaku banyak orang memilih menggunakan kendaraan saat panik sehingga jalanan macet. Beruntung kali ini tsunami relatif kecil.

Padahal dalam ancaman tsunami, waktu adalah keselamatan. Berjalan ke tempat tinggi bisa jauh lebih masuk akal daripada terjebak di dalam mobil. Di sinilah makna sebenarnya kesiapsiagaan: tak sekadar memiliki sirene, aplikasi atau peta bahaya. Kesiapsiagaan yakni saat seseorang mendengar gempa kuat dan secara otomatis tahu apa yang harus dilakukan.

Alam Flores sudah memberi pelajaran pada 1992. Ia kembali memberi pelajaran pada 2026. Kita tidak tahu kapan pelajaran berikutnya akan datang. Yang kita tahu, Flores Back Arc Thrust masih aktif dan Indonesia tetap berada di kawasan tektonik yang sangat kompleks.

Gempa tidak bisa dicegah. Sesar tidak bisa dimatikan. Tetapi korban dan kerusakan dapat dikurangi. Alam sudah berkali-kali memberi peringatan. Sekarang tinggal apakah kita mau belajar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Eala lanjutkan tren positif di lapangan keras Cincinnati
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Kasus Ketua RT Aniaya Warga Pembakar Sampah di Pamulang Berlanjut ke Kejaksaan
• 21 jam lalukompas.com
thumb
3 Lokasi Terminal Bayangan di Jakarta Timur Ditertibkan, Belasan Armada Ditindak
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Pria 45+ Makin Mudah Marah dan Tersinggung? Jangan Anggap Sepele, Bukan Sekadar Mood
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Presiden Prabowo Kirimkan 50 Ribu Paket Sembako untuk Korban Gempa Bumi M7,7 NTT
• 14 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.