Selamatkan Mangrove, Kapolda Riau hingga Menteri LH Sambangi Kuala Selat

jpnn.com
1 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, PEKANBARU - Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan hingga Menteri Lingkungan Hidup (LH) menyambangi Desa Kuala Selat, Kabupaten Indragiri Hilir, Sabtu (15/8/2026).

Kedatangan ini sebagai tekat menyelamatkan kawasan pesisir dari ancaman abrasi dengan Ekspedisi Merah Putih Presisi 2026.

BACA JUGA: Tumbuhkan Ketahanan Ekosistem Pesisir, TelkomGroup Tanam 20 Ribu Mangrove di Jateng & NTT

Selakn Kapolda Riau hadir bersama Menteri LH Jumhur Hidayat, hadir juga Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, serta sejumlah tokoh dan pegiat lingkungan, di antaranya Rocky Gerung dan Profesor Robert dari Tumbuh Institut.

Kehadiran ini bukan sekadar ekspedisi, tetapi menjadi bagian dari upaya melihat langsung kondisi masyarakat sekaligus lingkungan di wilayah pesisir yang selama bertahun-tahun menghadapi ancaman abrasi dan kerusakan ekosistem mangrove.

BACA JUGA: Mangrove Penting untuk Cegah Abrasi, Merawat Pesisir Jakarta Butuh Kolaborasi

Di Kuala Selat, rombongan melakukan sejumlah kegiatan, mulai dari penyerahan bantuan sosial dan mesin ketinting, pelayanan kesehatan, hingga penanaman mangrove.

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mengatakan Ekspedisi Merah Putih Presisi menjadi momentum untuk mendengar langsung suara masyarakat yang hidup di tepian negeri.

“Di sana, kami datang untuk mendengar, melihat dari dekat kehidupan masyarakat, sekaligus membawa kepedulian melalui bantuan sosial, mesin ketinting, pelayanan kesehatan, dan penanaman mangrove,” kata Herry.

Menurut Herry, masyarakat pesisir merupakan bagian penting dari Indonesia yang harus mendapatkan perhatian dan pelayanan negara.

“Karena Indonesia bukan hanya tentang mereka yang tinggal di pusat-pusat pertumbuhan. Indonesia juga milik mereka yang menjaga kehidupan dari tepian negeri,” ujarnya.

Kuala Selat sebelumnya dikenal memiliki kawasan hutan mangrove alami yang berfungsi sebagai pelindung daratan sekaligus habitat berbagai biota laut.

Namun, tekanan ekonomi dan perubahan penggunaan lahan membuat tutupan mangrove terus berkurang. Sebagian kawasan berubah menjadi perkebunan kelapa dan permukiman.

Hilangnya vegetasi pelindung kemudian memperbesar ancaman abrasi.

Garis pantai terus mengalami perubahan, intrusi air laut mengganggu sumber air bersih, sementara sebagian lahan masyarakat perlahan terendam.

Kondisi tersebut telah dirasakan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.

Ribuan hektare perkebunan kelapa yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan masyarakat turut terdampak akibat masuknya air laut dan abrasi.

Situasi itu mendorong Polda Riau mengambil langkah melalui pendekatan Green Policing.

Kehadiran polisi di Kuala Selat tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga ikut menjaga dan memulihkan lingkungan.

Dengan cangkul dan bibit mangrove, personel Polda Riau bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan turun langsung ke kawasan pesisir untuk melakukan penanaman.

Kehadiran Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat dalam kegiatan tersebut turut memperkuat pesan bahwa persoalan kerusakan pesisir membutuhkan perhatian lintas sektor dan kebijakan lingkungan yang berkelanjutan.

Restorasi mangrove di Kuala Selat tidak dipandang sebagai kegiatan seremonial.

Mangrove yang tumbuh diharapkan menjadi benteng alami yang mampu menahan abrasi, menjaga garis pantai, memulihkan habitat biota laut, sekaligus mendukung keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.

Proses pemulihan tentu membutuhkan waktu dan konsistensi.

Namun, penanaman yang dilakukan dalam Ekspedisi Merah Putih Presisi 2026 menjadi penanda bahwa persoalan lingkungan di tepian negeri tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri.

Bagi Polda Riau, menjaga keamanan juga berarti menjaga lingkungan dan ruang hidup masyarakat.

Pesan tersebut juga tercermin dalam surat yang disampaikan seorang siswi MTs setempat, Nayla, kepada Kapolda Riau. Ia berharap beberapa tahun ke depan anak-anak Kuala Selat masih memiliki daratan untuk bermain dan masyarakat memiliki benteng alami yang mampu melindungi kampung mereka dari ancaman abrasi.

Harapan sederhana itu menjadi pengingat bahwa restorasi mangrove bukan hanya tentang menanam pohon.

Ada kehidupan yang ingin diselamatkan, ada kampung yang ingin dipertahankan, dan ada masa depan yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari Kuala Selat, Ekspedisi Merah Putih Presisi 2026 kembali membawa pesan bahwa negara hadir hingga ke tepian negeri. (mcr36/jpnn)


Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Rizki Ganda Marito


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bupati Jeneponto Kukuhkan 70 Anggota Paskibraka 2026, Titip Pesan Kebangsaan
• 16 jam laluterkini.id
thumb
Mobil BMW Tabrak Becak dan Gerobak di Bandung, 2 Orang Luka-luka
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Zulhas: BGN Diberi Waktu 3 Bulan untuk Refocusing
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Golkar Puji 8 Prioritas Prabowo di RAPBN 2027: Arah Pembangunan Bangsa Terarah
• 9 jam laludetik.com
thumb
2 Pria Spesialis Maling Motor di Tangerang Diringkus, Bawa Pistol saat Beraksi
• 11 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.