Dolar AS Berpotensi Menguat, Rupiah Dibayangi Tekanan Eksternal Pekan Depan

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Penguatan dolar AS tersebut berpotensi memberikan tekanan langsung terhadap mata uang Garuda.

Dolar AS Berpotensi Menguat, Rupiah Dibayangi Tekanan Eksternal Pekan Depan (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah berpotensi kembali tertekan pada awal perdagangan pekan depan seiring proyeksi penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, indeks dolar AS akan bergerak volatil pada pekan depan dengan rentang support 99,00 dan resistance 101,90, bahkan berpeluang menembus level 102,00.

Baca Juga:
Rupiah Hari Ini Ditutup Tak Bertenaga ke Rp17.877 per USD

“Diawali dari USD dalam perdagangan pekan depan dalam satu minggu, kemungkinan besar ini akan cukup fluktuatifnya cukup tinggi, di support-nya 99,00, kemudian resistennya di 101,90, bahkan akan menyentuh di resisten 102,” kata Ibrahim dalam risetnya, Minggu (16/8/2026).

Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS tersebut berpotensi memberikan tekanan langsung terhadap mata uang Garuda.

Padahal, rupiah sebelumnya ditutup menguat 50 poin pada perdagangan akhir pekan lalu setelah pasar merespons positif penyampaian Nota Keuangan dan Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto.

Namun, sentimen domestik tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari faktor eksternal. Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi dibuka melemah pada awal pekan depan di kisaran Rp17.820-Rp17.880 per USD.

“Kemudian untuk rupiah sendiri walaupun kemarin menguat, pidato presiden cukup bagus juga tentang APBN tahun 2027 tetapi ada kemungkinan bahwa harga rupiah kemungkinan besar dibuka melemah mungkin karena faktor eksternal yang mempengaruhi yaitu range-nya itu di Rp17.820 sampai di Rp17.880,” tutur dia.

Ibrahim menilai dinamika geopolitik global masih menjadi salah satu faktor utama yang dapat mendorong penguatan dolar AS sekaligus memengaruhi harga komoditas energi.

Sejumlah isu yang menjadi perhatian pasar antara lain meningkatnya ketegangan hubungan AS dan Iran, konflik di Laut Merah yang melibatkan kelompok Houthi, serangan terhadap kilang minyak di Nigeria, serta eskalasi perang Rusia-Ukraina.

“Di hari Senin kemungkinan besar pasar akan tertuju terhadap data eksternal terutama dalam geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas dan ini akan membuat dolar itu menjadi gain up. Dolar Amerika akan mengalami penguatan sehingga berdampak terhadap pelemahan mata uang rupiah di pembukaan hari Senin,” ujar Ibrahim.

Selain geopolitik, pasar juga akan mencermati arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed). Meski data inflasi dan penjualan ritel AS terbaru menunjukkan perkembangan yang relatif positif, Ibrahim memperkirakan mayoritas anggota The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan bulan ini.

Rupiah 2027 Berpotensi Tembus Rp18.000 per USD

Tekanan terhadap rupiah juga menjadi perhatian dalam kerangka asumsi makro RAPBN 2027. Pemerintah menetapkan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per USD

Ibrahim menilai target tersebut menghadapi tantangan apabila tekanan eksternal dan ketegangan geopolitik global masih berlanjut. Bahkan, dia memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2027 berpotensi berada di atas Rp18.000 per USD

“Saya melihat bahwa ada kemungkinan besar yang di tahun 2027 rupiah itu kemungkinan di atas 18.000. Nah artinya apa? Ini pun juga kalau seandainya rupiah masih di atas 17.500 ini kemungkinan besar akan membuat defisit anggaran lebih dari 2,86 persen apabila rupiah terus mengalami pelemahan,” katanya.

Selain nilai tukar, Ibrahim menyoroti asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan sebesar USD75 per barel dalam RAPBN 2027.

Menurutnya, konflik geopolitik yang berkepanjangan di kawasan strategis penghasil dan jalur pasokan energi berpotensi menjaga harga minyak mentah dunia di atas USD80 per barel.

Jika kondisi tersebut terjadi, kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan tambahan terhadap postur dan pelaksanaan anggaran negara, terutama melalui peningkatan kebutuhan belanja dan subsidi energi.

(DESI ANGRIANI)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Peralta Siap Tebar Ancaman di Super League, Jadi Kreator Serangan Saat Persib Bandung Bantai Sabah FC 3-0
• 12 jam laluharianfajar
thumb
81 Tahun Indonesia Merdeka, Masyarakat Adat Masih Berjuang atas Tanah Leluhur
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Info BMKG: Cuaca Jakarta Diramal Berawan pada 16 Agustus
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Massa Bentrok dengan Aparat Saat Hari Damai Aceh, Begini Kronologinya
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Update Pemain Timnas Indonesia di Liga Eropa: 2 Bintang Garuda Menang, Nathan Tjoe-A-On Jadi Sorotan
• 3 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.