Singkawang (ANTARA) - Manggala Agni Kalimantan XI/Singkawang, Kalimantan Barat, meningkatkan pemantauan terhadap pergerakan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi melintasi batas negara, terutama menuju wilayah Malaysia.
Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan XI/Singkawang Yuyu Wahyudin mengatakan pemantauan dilakukan secara sistematis untuk mengetahui arah pergerakan, ketebalan, dan jangkauan asap, termasuk potensi sebaran menuju wilayah perbatasan.
"Pemantauan yang dilakukan merupakan kegiatan sistematis mengamati, mendeteksi, mengukur kadar, serta melaporkan sebaran dan ketebalan asap hasil karhutla yang bergerak melintasi garis batas wilayah negara, baik masuk ke wilayah kita maupun negara tetangga seperti Malaysia," kata Yuyu di Singkawang, Minggu.
Menurut dia, pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini sehingga pergerakan asap dapat diketahui sebelum berdampak lebih luas terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
Baca juga: Pemerintah optimalkan OMC tangani karhutla di Riau, Kalbar, dan Kalteng
Data hasil pemantauan juga diperlukan sebagai bahan peringatan dini bagi masyarakat serta instansi terkait dalam mengambil langkah penanganan apabila terjadi peningkatan sebaran asap.
Selain itu monitoring dilakukan untuk mendukung keterbukaan informasi dan pertukaran data dengan negara tetangga, khususnya Malaysia, sehingga informasi mengenai pergerakan asap dapat menjadi dasar koordinasi dan penanganan dampak karhutla di wilayah perbatasan.
"Pertukaran data menjadi penting untuk mendukung penyusunan kebijakan penanggulangan bersama, sekaligus mengurangi dampak kesehatan dan ekonomi akibat asap," ujarnya.
Yuyu menjelaskan pemantauan dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan dengan memanfaatkan pos pengamatan, menara pantau, serta patroli rutin, terutama di wilayah yang memiliki potensi terdampak sebaran asap menuju kawasan perbatasan.
Baca juga: 12 hari karhutla, BPBD Kubu Raya prioritaskan lindungi pemukiman warga
Pemantauan juga didukung teknologi seperti citra satelit, kamera pemantau jarak jauh, serta peralatan pengukur kualitas udara, termasuk parameter PM2,5, PM10, dan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).
Selain pemantauan lapangan dan teknologi, Manggala Agni melakukan pertukaran informasi melalui rapat rutin, laporan berkala, serta komunikasi cepat dengan instansi terkait dan pihak berwenang di negara tetangga.
"Beberapa hal utama yang diamati antara lain arah dan kecepatan angin, tingkat ketebalan dan jangkauan asap, ISPU, titik panas yang berpotensi memperluas sebaran asap ke arah perbatasan, serta laporan keluhan kesehatan masyarakat di jalur yang terdampak," katanya.
Pemantauan tersebut, kata dia, diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak karhutla sekaligus memastikan setiap potensi pergerakan asap lintas batas dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Baca juga: BPBD Kalbar tetapkan status siaga darurat bencana asap
Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan XI/Singkawang Yuyu Wahyudin mengatakan pemantauan dilakukan secara sistematis untuk mengetahui arah pergerakan, ketebalan, dan jangkauan asap, termasuk potensi sebaran menuju wilayah perbatasan.
"Pemantauan yang dilakukan merupakan kegiatan sistematis mengamati, mendeteksi, mengukur kadar, serta melaporkan sebaran dan ketebalan asap hasil karhutla yang bergerak melintasi garis batas wilayah negara, baik masuk ke wilayah kita maupun negara tetangga seperti Malaysia," kata Yuyu di Singkawang, Minggu.
Menurut dia, pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini sehingga pergerakan asap dapat diketahui sebelum berdampak lebih luas terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.
Baca juga: Pemerintah optimalkan OMC tangani karhutla di Riau, Kalbar, dan Kalteng
Data hasil pemantauan juga diperlukan sebagai bahan peringatan dini bagi masyarakat serta instansi terkait dalam mengambil langkah penanganan apabila terjadi peningkatan sebaran asap.
Selain itu monitoring dilakukan untuk mendukung keterbukaan informasi dan pertukaran data dengan negara tetangga, khususnya Malaysia, sehingga informasi mengenai pergerakan asap dapat menjadi dasar koordinasi dan penanganan dampak karhutla di wilayah perbatasan.
"Pertukaran data menjadi penting untuk mendukung penyusunan kebijakan penanggulangan bersama, sekaligus mengurangi dampak kesehatan dan ekonomi akibat asap," ujarnya.
Yuyu menjelaskan pemantauan dilakukan melalui pengamatan langsung di lapangan dengan memanfaatkan pos pengamatan, menara pantau, serta patroli rutin, terutama di wilayah yang memiliki potensi terdampak sebaran asap menuju kawasan perbatasan.
Baca juga: 12 hari karhutla, BPBD Kubu Raya prioritaskan lindungi pemukiman warga
Pemantauan juga didukung teknologi seperti citra satelit, kamera pemantau jarak jauh, serta peralatan pengukur kualitas udara, termasuk parameter PM2,5, PM10, dan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).
Selain pemantauan lapangan dan teknologi, Manggala Agni melakukan pertukaran informasi melalui rapat rutin, laporan berkala, serta komunikasi cepat dengan instansi terkait dan pihak berwenang di negara tetangga.
"Beberapa hal utama yang diamati antara lain arah dan kecepatan angin, tingkat ketebalan dan jangkauan asap, ISPU, titik panas yang berpotensi memperluas sebaran asap ke arah perbatasan, serta laporan keluhan kesehatan masyarakat di jalur yang terdampak," katanya.
Pemantauan tersebut, kata dia, diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak karhutla sekaligus memastikan setiap potensi pergerakan asap lintas batas dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Baca juga: BPBD Kalbar tetapkan status siaga darurat bencana asap





