Grid.ID - Seekor macan kumbang masuk pekarangan warga di Batang, Jateng. BKSDA ungkap alasan satwa liar tersebut turun ke permukiman warga.
Warga Dukuh Ngasinan, Desa Gunungsari, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, digemparkan dengan masuknya satwa liar ke permukiman. Seekor macan kumbang tampak berkeliaran di pekarangan rumah warga pada Rabu (12/8/2026) lalu.
Satwa liar ini diketahui hidup di hutan hujan tropis hingga pegunungan, seperti di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan lereng Gunung Prau. Varian hitam dari macan tutul Jawa ini berstatus kritis dan masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) karena penyusutan dan perburuan liar, jadi hewan ini sangat dilindungi pemerintah.
Pada Rabu (12/8/2026) lalu, tanpa diduga, seekor macan kumbang masuk pekarangan warga di Batang, tepatnya di rumah milik Turyono (60). Ia pun menceritakan awal mula hewan tersebut memasuki halaman belakang rumahnya.
Turyono mengungkap bahwa saat itu salah satu anggota keluarganya melihat hewan yang disangka kucing di belakang rumah. Namun saat dicek, hewan tersebut memiliki ekor yang panjang.
Setelah diperhatikan, Turyono kaget karena hewan itu bukanlah kucing biasa, melainkan macan kumbang. Ia pun mencoba untuk mengusir hewan tersebut namun justru hampir diserang.
"Katanya ada kucing, tapi kelihatannya panjang buntutnya (ekornya)," ujar Turyono, dikutip dari Tribunnews.com.
Warga pun akhirnya ketakutan dengan hewan buas tersebut dan memilih untuk mencari bantuan. Seorang warga kemudian melaporkan hal ini ke polisi.
"Ya takut, cepat lari," lanjut Turyono.
Tim gabungan dari BKSDA Jawa Tengah, Taman Safari Beach Batang bersama dokter hewan, Damkar, BPBD Kabupaten Batang, kepolisian, Polhut, serta jajaran Muspika Kecamatan Bawang datang untuk mengevakuasi macan kumbang tersebut. Namun proses evakuasi tak berjalan mudah, mereka harus menggunakan bius untuk menaklukkan satwa liar tersebut.
Turyono pun mengungkap bahwa macan kumbang tersebut sempat memangsa ayam-ayam peliharaannya. Total ada tujuh ekor ayam yang dimangsa oleh macan kumbang itu dan lima di antaranya habis tak bersisa.
"Ya, yang dimakan itu sekitar lima ayam. Tapi ada dua ayam yang tidak habis (sisa), jadi tujuh ayam," ujarnya.
Setelah beberapa jam, macan kumbang tersebut telah berhasil dievakuasi dan tengah diobservasi serta dititipkan di Batang Dolphin Center (Safari Beach Jateng).
Mengapa Macan Kumbang Masuk Permukiman?
Peristiwa macan kumbang masuk pekarangan warga di Batang ini membuat masyarakat gempar. Mengapa macan kumbang tersebut bisa masuk ke permukiman warga? BKSDA pun memberikan penjelasan terkait hal ini.
Kepala BKSDA Jawa Tengah, Diah Sulistyari mengungkap kondisi macan kumbang tersebut usai diobservasi oleh tim. Macan kumbang jantan berusia sekitar 10 tahun itu dalam kondisi pincang dan diduga tidak bisa berburu secara normal.
“Kondisinya pincang menjadikan satwa tersebut tidak bisa berburu secara normal,” kata Diah, dikutip dari Kompas.com.
Selain itu, berat tubuh macan kumbang tersebut juga tidak ideal dan cenderung kurus. Berat tubuhnya diperkirakan hanya sekitar 25 kilogram.
Kondisinya yang pincang dengan luka di kaki kanan depan diduga membuat macan tersebut kesulitan untuk berburu makanan di hutan. Hal inilah yang diduga menjadi alasannya masuk ke permukiman warga.
“Kaki depan kanan kayak tangan kan (bagi macan) untuk ngambil (buruan). Mungkin kan dia juga cari makan juga,” jelasnya.
Meski begitu, kondisi ini masih menjadi dugaan awal terkait alasan macan kumbang turun gunung dan masuk ke permukiman. Diah menegaskan bahwa satwa liar tersebut masih harus diobservasi lebih lanjut oleh dokter hewan.
Menurutnya, luka yang ditemukan bukanlah luka baru. Pemeriksaan medis ini diperlukan untuk menentukan penanganan selanjutnya terhadap hewan tersebut.
Setelah penanganan medis dilakukan, tim BKSDA akan terus memantau secara berkala untuk menentukan apakah macan kumbang tersebut dapat kembali dilepasliarkan di hutan atau harus menjalani rehabilitasi.
Lebih lanjut, Diah menjelaskan bahwa macan kumbang bisa mencari makanan lebih jauh dari habitatnya pada musim kemarau. Hal ini lantaran mereka biasanya kesulitan mencari sumber pakan yang berkurang di habitatnya sehingga berpotensi memasuki permukiman warga.
"Saat memasuki musim kemarau, sejumlah satwa dapat mencari makanan lebih jauh dari habitatnya. Jika sumber pakan di habitat berkurang atau sulit ditemukan, satwa berpotensi bergerak hingga mendekati wilayah permukiman," bebernya.
BKSDA pun mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan mengenai hal ini. Warga juga diminta untuk memperkuat kandang hewan ternak mereka agar aman dari serangan hewan buas. (*)
Artikel Asli




