Aktivitas gempa bumi susulan pascagempa utama bermagnitudo 7,7 yang mengguncang perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) terpantau masih sangat tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ratusan gempa susulan masih terus terjadi.
Supervisor Pengamat BMKG, Trismaharyono, menjelaskan bahwa hingga Minggu, 16 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB, pihaknya telah memantau setidaknya 862 kejadian gempa susulan.
"Penyebab terus terjadinya gempa bumi susulan ini adalah proses alamiah dari pergerakan patahan dalam melepaskan sisa energi. Tujuannya untuk kembali menstabilkan struktur kerak bumi," jelas Trismaharyono dikutip dari Metro Hari Ini, Metro TV, Minggu 16 Agustus 2026.
Baca Juga :
DPR Minta Penanganan Darurat Gempa NTT Satu KomandoSaat ini, BMKG memberikan perhatian ekstra pada wilayah pesisir dan dataran di pesisir utara Pulau Flores. Daerah tersebut meliputi Nagekeo, Sikka, Maumere, Manggarai, Manggarai Timur, Ende, hingga Labuan Bajo.
Guncangan susulan yang berulang ini dikhawatirkan dapat memperburuk kondisi retakan pada bangunan yang sudah terdampak gempa utama. BMKG terus memantau aktivitas kegempaan secara real-time dan berkoordinasi dengan seluruh stakeholder untuk mengantisipasi dampak lanjutan.
Sebelumnya, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 dengan kedalaman 15 kilometer dan berlokasi sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Bencana tersebut telah menimbulkan korban jiwa, korban luka-luka, kerusakan permukiman masyarakat, serta sarana dan prasarana di sejumlah wilayah.




