KAIRO, KOMPAS.TV — Komandan tertinggi militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah mengunjungi kapal induk USS Lincoln di Laut Arab dalam rangkaian kunjungan ke sejumlah negara di kawasan yang berakhir pada Sabtu (15/8/2026).
Laksamana Brad Cooper mengunjungi USS Lincoln di tengah laporan mengenai masalah kesehatan mental dan pasokan di kapal tersebut.
Dalam rangkaian kunjungannya, Cooper juga mendatangi Bahrain, Irak, Israel, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab untuk bertemu dengan para pemimpin sipil dan militer.
USS Lincoln tiba di Timur Tengah pada Januari lalu dan telah mendukung operasi militer AS terhadap Iran, termasuk blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Kapal induk tersebut telah berada di laut secara terus-menerus selama lebih dari 240 hari. Durasi mereka berada di laut ini merupakan sebuah rekor baru dalam dunia militer di AS.
“Sejarah akan mencatat pengerahan ini sebagai salah satu operasi paling intens dan penting di era modern,” kata Cooper mengenai kelompok tempur USS Lincoln dalam pernyataan yang dirilis pada Sabtu, seperti dikutip dari The Associated Press.
Baca Juga: Trump: Setelah Kalahkan Iran, Saya Akan Nyatakan Selat Hormuz jadi Wilayah AS
Pengerahan kapal induk dalam waktu lama, yang dapat membawa lebih dari 5.000 pelaut dan personel Korps Marinir AS, telah menimbulkan banyak kekhawatiran.
Kekhawatiran terkait kesehatan mental dan masalah pasokan di kapal induk tersebut meningkat seiring berlanjutnya operasi militer AS terhadap Iran.
Namun demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meremehkan kekhawatiran mengenai kondisi mental para pelaut AS. Padahal mereka telah menjalani hampir sembilan bulan di laut dan berada di dalam kapal induk USS Abraham Lincoln.
Trump menyampaikan hal itu dalam percakapan singkat dengan wartawan pada Jumat (14/8/2026), sebelum bertolak ke New York untuk menghadiri acara yang membahas penurunan angka kejahatan kekerasan di Amerika Serikat.
Trump membantah adanya kekhawatiran dari keluarga awak kapal mengenai lamanya masa penugasan. Ia bahkan mengatakan masa penugasan tersebut belum cukup lama.
“Kapal itu sedang bergerak sekarang, atau akan segera bergerak, dan akan digantikan oleh kapal lain yang sangat mirip,” kata Trump ketika ditanya mengenai masa penugasan USS Abraham Lincoln yang panjang.
Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao mengatakan dalam unggahan di media sosial pada Jumat bahwa USS Abraham Lincoln akan segera kembali pulang.
USS Abraham Lincoln telah berada di laut tanpa henti selama lebih dari 240 hari, sebuah rekor bagi kapal induk tersebut.
Kapal itu mendukung operasi militer AS terhadap Iran yang dimulai lebih dari lima bulan lalu.
Baca Juga: Trump Sembunyi di Mobil Katering, Ini Presiden AS Lainnya yang Juga Pernah Menyelundup
Kondisi tersebut bertolak belakang dengan janji Trump ketika memulai masa jabatan keduanya sebagai presiden. Saat itu, Trump berjanji menghindari keterlibatan militer yang berkepanjangan dan mahal.
Ketika melancarkan perang terhadap Iran bersama Israel, Trump dan para penasihatnya sebelumnya mengatakan konflik tersebut diperkirakan hanya berlangsung beberapa pekan.
Namun, pada kenyataannya, kini perang telah berlangsung lebih dari lima bulan.
Dalam pidatonya mengenai kejahatan di Garden City, New York, pada Jumat, Trump mengakui bahwa dirinya telah menggunakan militer AS sedikit lebih banyak daripada yang dia inginkan.
Meski demikian, Trump kembali menegaskan bahwa operasi militer AS terhadap Iran berjalan dengan baik.
Ia bahkan mengatakan dengan nada bercanda, bahwa sebentar lagi dia akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat.
Trump juga menegaskan tidak akan meminta maaf atas perang tersebut maupun dampaknya terhadap harga minyak.
“Saya tidak akan pernah meminta maaf,” kata Trump. “Saya melakukan hal yang benar,” ujarnya menegaskan.
Penulis : Tussie Ayu Editor : Gading-Persada
Sumber : The Associated Press
- USS Abraham Lincoln
- kapal induk AS
- Brad Cooper
- operasi militer as
- konflik iran





