BRIN Memperkuat Riset Sel Surya untuk Mendukung Target Pembangunan PLTS 100 GW

pantau.com
7 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat ekosistem riset listrik tenaga surya untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pengembangan teknologi tidak hanya berfokus pada pemanfaatan panel surya silikon konvensional, tetapi juga teknologi baru untuk mendukung infrastruktur energi masa depan.

"BRIN terus mendorong terobosan yang melampaui pemanfaatan teknologi panel surya silikon konvensional. Salah satu lompatan teknologi hulu yang kami kembangkan sebagai bagian dari infrastruktur energi masa depan adalah Dye-Sensitized Solar Cells (DSSC)," kata Arif di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

BRIN Kembangkan Sel Surya yang Bisa Beroperasi di Dalam Ruangan

Arif menjelaskan teknologi DSSC memiliki sensitivitas tinggi sehingga dapat dioperasikan dan menghasilkan listrik meskipun berada di dalam ruangan.

Teknologi tersebut memungkinkan cahaya lampu maupun pancaran sinar matahari tidak langsung dari jendela dimanfaatkan untuk menghasilkan energi bersih secara mandiri.

BRIN telah mengoperasikan fasilitas berskala internasional di Serpong, Tangerang Selatan, guna menunjang pengembangan teknologi tersebut.

"Di kawasan Serpong, kami memiliki pusat rekayasa keteknikan yang secara khusus dilengkapi dengan laboratorium pengujian fotovoltaik," ujar Arif.

Fasilitas tersebut digunakan para periset BRIN untuk mengembangkan dan menguji struktur sekaligus memastikan keandalan panel surya agar optimal digunakan dalam kondisi iklim tropis Indonesia.

BRIN bersama PLN juga mengembangkan teknologi Microgrid PLTS yang terintegrasi dengan Energy Storage untuk mendukung program dedieselisasi, serta pemanfaatan PLTS bagi sektor irigasi dan pertanian.

BRIN turut meneliti teknologi Virtual Power Plant (VPP) atau Pembangkit Listrik Virtual sebagai salah satu strategi mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbasis fosil.

"Inovasi ini melahirkan model bisnis kelistrikan baru di mana pelanggan atau pengguna akhir (end-user) energi listrik tidak lagi hanya sekadar menerima pasokan dari hulu, tetapi operator akan berubah fungsi menjadi fasilitator terjadinya jual-beli listrik antarkomunitas," ucap Arif Satria.

Pemerintah Targetkan Kapasitas PLTS Mencapai 100 GW

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan pemerintah akan membangun PLTS berkapasitas 30 gigawatt dan menghentikan pembangkit listrik tenaga diesel sebesar 13 GW pada 2026.

Pemerintah menilai Indonesia mempunyai potensi energi surya besar karena memperoleh sinar matahari hampir sepanjang tahun, termasuk untuk memenuhi kebutuhan listrik wilayah terpencil.

Pemanfaatan PLTS juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian energi nasional dengan mengurangi kebutuhan bahan bakar minyak bagi pembangkit listrik.

Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS dilakukan secara bertahap hingga kapasitasnya mencapai 100 GW.

"Idealnya, setiap desa bisa memiliki PLTS 1 Megawatt. Kalau desa itu mau siapkan lahan, kita bisa. yakinkan bahwa mereka bisa dapat PLTS 1 MW 1 desa," ucap Presiden Prabowo dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya pada 14 Agustus 2026.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Soal Target Ekonomi 6 Persen Prabowo, SBY: Ambisius Tapi Bisa Dicapai
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Penanganan Gempa NTT, Pemerintah Kirim 27 Ton Bantuan Logistik
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Persita Tutup TC di Yogyakarta, Persiapan Menuju BRI Super League Terus Dimantapkan
• 5 jam lalubola.com
thumb
Pertamina salurkan bantuan dan pastikan pasokan energi terjaga di NTT
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Pelni Gratiskan Pengiriman Bantuan Logistik untuk Korban Gempa NTT
• 8 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.