Liputan6.com, Jakarta - Malam 17 Agustus 1945, ketika kabar kemerdekaan Indonesia mulai menyebar dari Jakarta, Ahmad Basya sedang sibuk di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Pegawai Pos Telepon dan Telegraf (PTT) yang diperbantukan di Kantor Berita Domei milik tentara Jepang itu menjadi salah satu orang pertama yang menerima berita Proklamasi Kemerdekaan di Sumatera.
Advertisement
Bersama rekannya, Asri Aidid Sutan Rajo Nan Sati, Ahmad mengetik ulang teks Proklamasi hingga 10 rangkap. Salinannya kemudian ditempelkan di sejumlah tempat di Bukittinggi agar masyarakat mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka.
Di Padang, kabar serupa juga mulai beredar. Namun, penyebaran berita kemerdekaan di Sumatera tidak berjalan mudah.
Sejak 15 Agustus 1945, warga Sumatera praktis terisolasi dari perkembangan dunia luar. Radio Sumatera dan sejumlah radio di keresidenan tiba-tiba menghentikan siaran.
"Secara umum, sejak tanggal 15 Agustus (1945) warga Sumatera terisolasi dari dunia luar. Warga tidak bisa lagi mendengar berita karena Radio Sumatera dan radio-radio di keresidenan tiba-tiba menghentikan siarannya," tulis sejarawan Gusti Asnan dalam buku Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Meski demikian, beberapa pegawai masih diperbolehkan bekerja di Kantor Berita Domei. Dari sanalah kabar Proklamasi perlahan menyebar.
Persoalannya, tidak semua orang langsung percaya.




